Kompas.id menggunakan Sumatera dalam judul beritanya. Berdasarkan KBBI, Sumatera merupakan bentuk tidak baku dari Sumatra.
Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial dipenuhi dua hal yang kontras: duka mendalam atas musibah banjir besar yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada 25-27 November 2025.
Namun, di tengah pusaran linimasa, ada yang membingungkan, mungkin bukan hanya saya, tetapi mungkin juga yang lain: sebenarnya penulisan yang benar itu “Sumatra” atau “Sumatera”?
Di tengah bencana yang merenggut ratusan hingga ribuan korban jiwa, merusak hunian, merendam hutan dan kota, dan menimbulkan luka ekologis yang sangat dalam, kebingungan dan polemik bahasa itu seperti terus mencuat.
Sekilas sepele, tapi sebenarnya fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa, identitas, dan perasaan kebangsaan kita saling terhubung.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk baku dan resmi adalah “Sumatra” tanpa huruf e.
Tapi, dalam praktik bahasa sehari-hari, kata “Sumatera” jauh lebih populer, terutama dipakai oleh lembaga negara seperti nama lembaga, kampus, hingga identitas administratif, seperti Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan sebagainya.
Mungkin, perbedaan ini bukan kesalahan, tapi juga mungkin jejak sejarah, mungkin juga pilihan penggunaan, atau juga kebiasaan yang terus mengakar, turun temurun.
“Sumatra vs Sumatera” justru muncul seiring dengan masifnya pemberitaan seputar bencana banjir dan tanah longsor. Banyak media massa memberitakan, pejabat berbicara, hingga warga pun menulis Sumatera.
Di sisi lain, sebagian warga menilai konsistensi penulisan penting agar informasi kebencanaan tidak membingungkan. Sementara yang lain tetap nyaman menggunakan berdasarkan kebiasaan masing-masing.
Sebenarnya, saat ini ada pelajaran yang sangat besar, yakni bahasa boleh berbeda, tetapi duka kita tetap satu, #PrayforSumatra atau #PrayforSumatera
Ketika air bah menyapu rumah, jembatan runtuh, dan ribuan warga mengungsi, perbedaan ejaan Sumatra vs Sumatera menjadi perbincangan kecil, tapi tetap menunjukkan betapa kita peduli terhadap identitas dan tanah kelahiran.
Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh adalah tragedi kemanusiaan.
Curah hujan yang sangat ekstrem, tanah longsor, dan banjir bandang yang luar biasa menghancurkan kehidupan begitu cepat, meninggalkan trauma mendalam.
Hari ini, tidak penting apakah kita menulis Sumatra atau Sumatera. Hari ini, jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengulurkan tangan, ikut menyebarkan informasi yang benar, mendukung relawan, dan menjaga empati tetap hidup.
Bencana ini mengingatkan kita bahwa pulau ini, apapun ejaannya, Sumatra atau Sumatera, adalah rumah bagi jutaan orang. Alam yang rusak tak mengenal huruf vokal: a-i-u-e-o. Rasa kemanusiaan tak pernah bergantung pada perbedaan kecil dalam bahasa.
Sebagai bangsa, mari bersatu untuk mendoakan dan membantu pemulihan saudara-saudara kita. Semoga diberi kekuatan, keselamatan, dan jalan keluar terbaik dari musibah yang menimpa.
Turut berduka sedalam-dalamnya, untuk seluruh korban, untuk keluarga yang kehilangan, untuk lingkungan yang rusak di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.