Foto layar Refleksi Akhir Tahun Yayasan Airlangga, Rabu (31/12/2025). Dok. Pribadi
Oleh: Subur Anugerah
Dosen Universitas Mulia / Karyawan Yayasan Airlangga
Acara Refleksi Akhir Tahun yang digelar Yayasan Airlangga di Ballroom Cheng Ho, Universitas Mulia, Rabu (31/12/2025) kemarin, terlihat bukan sekadar seremoni tutup buku.
Perhatian saya justru pada pendar layar biru yang bertuliskan “Refleksi Penerapan Budaya Kerja Profesional dan Humanis”. Saya memperhatikan sebuah visi besar tentang bagaimana sebuah institusi pendidikan bernapas.
Menjadi bagian dari keluarga besar yayasan, yakni sebuah ekosistem yang membentang dari lembaga pendidikan anak usia dini hingga jenjang universitas, saya seolah diajak untuk merenung: sejauh mana telah menyeimbangkan antara “tuntutan kerja” dan “panggilan jiwa”?
Dunia pendidikan hari ini, terutama di Kalimantan Timur, yang tengah bersiap menjadi beranda Ibu Kota Nusantara (IKN), menghadapi tantangan ganda.
Di satu sisi, kita dituntut untuk Profesional. Bekerja dengan penerapan standar mutu, akreditasi, digitalisasi, dan kompetensi global adalah harga mati.
Kita sebagai dosen dan karyawan harus menjunjung profesionalisme, yang berarti tidak boleh terjebak dalam rutinitas yang sekadar penggugur kewajiban, melainkan selalu berupaya memberikan nilai tambah di setiap tugas.
Kita adalah arsitek peradaban. Setiap silabus yang kita susun, setiap laporan yang kita buat, dan setiap interaksi administratif yang kita jalankan, adalah batu bata bagi bangunan masa depan bangsa.
Di sisi lain, yayasan mengingatkan kita pada pilar kedua yang tak kalah krusial, yakni Humanisme.
Pendidikan bukanlah pabrik yang mengolah barang mentah menjadi produk massal. Ia adalah kebun tempat manusia bertumbuh dan berkembang maju.
Profesionalisme tanpa humanisme, hanya akan melahirkan sumber daya manusia yang cerdas, tapi dingin, atau birokrasi yang efisien, tapi kaku.
Sebaliknya, humanisme di lingkungan yayasan, dalam hal ini di kampus, berarti kita melihat mahasiswa bukan sebagai aset belaka yang punya nomor induk, melainkan sebagai individu yang memiliki mimpi dan latar belakang sosial yang beragam.
Artinya, menjadi humanis berarti menjadi dosen yang membimbing dengan hati, dan menjadi karyawan yang melayani dengan empati.
Satu poin menarik dari refleksi tahun ini adalah, yayasan memberikan penekanan pada pembangunan karier dan kesejahteraan sosial. Ini adalah pesan keberlanjutan.
Yayasan sedang mengirimkan sinyal, karier kita sebagai pendidik dan staf bukan jalur sunyi yang individualistik.
Keberhasilan institusi menaikkan marwahnya melalui akreditasi dan prestasi adalah kendaraan yang juga akan membawa kesejahteraan bagi seluruh penghuninya.
Kesejahteraan dalam konteks ini tidak melulu soal angka di slip gaji. Ia mencakup rasa aman dalam bekerja, lingkungan yang saling mendukung (supportive environment), dan kebanggaan menjadi bagian dari institusi yang sehat secara psikologis.
Ketika seorang dosen merasa dihargai dan diberi ruang untuk bertumbuh, maka kualitas pengajaran diharapkan akan meningkat secara organik. Inilah bentuk simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan.
Sebagai dosen, kita memiliki tanggung jawab unik. Kita adalah jembatan ekosistem yang membentang tadi.
Artinya, profesionalisme kita harus mampu “turun gunung” untuk membantu jenjang di bawah kita, dan humanisme kita harus mampu merangkul seluruh lapisan karyawan, tanpa sekat birokrasi yang kaku, sehingga komunikasi antarunit mengalir dengan semangat kekeluargaan.
Memasuki tahun 2026, tantangan akan semakin nyata. Kompetisi antarlembaga pendidikan akan semakin ketat seiring dengan pertumbuhan Kaltim dan IKN.
Namun, jika kita memegang teguh komitmen untuk bekerja secara Profesional dalam menjaga mutu, dan tetap Humanis dalam menjaga nurani, maka yayasan/perguruan tinggi bukan hanya akan bertahan, tetapi akan menjadi mercusuar pendidikan yang memanusiakan manusia.
Mari kita jadikan refleksi ini bukan sekadar slogan di layar Ballroom Cheng Ho, melainkan denyut nadi dalam setiap langkah kita di ruang kelas dan meja kerja.
Karena pada akhirnya, pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu memadukan kecanggihan nalar dengan kelembutan budi pekerti.
Selamat bekerja, selamat berkarya di tahun yang baru.