Jembatan Cangar, Sabtu (25/4/2026). Foto: diperkuat dengan AI.
Usai melihat pengumuman kelulusan UMPTN 1993, pandangan saya mendadak kosong.
Nama saya tidak ada.
Pilihan saya, Teknik Sipil ITS, lenyap begitu saja dari harapan yang selama ini saya bangun.
Saya diam.
Bukan karena tidak sedih, tetapi karena tidak tahu lagi harus melangkah ke mana.
Selepas SMA, dalam kepala saya hanya ada satu jalan: masuk perguruan tinggi negeri.
Tidak ada plan B.
Tidak ada pilihan cadangan.
Tidak ada skenario gagal.
Dan malam itu, saya benar-benar merasa patah hati.
Saya mencoba mencari jalur lain. Saat itu, yang saya tahu hanya ada ujian mandiri untuk program Diploma Tiga.
Tanpa banyak pertimbangan, saya memilih D3 Teknik Kimia ITS dan D3 Fisioterapi Unair.
Jujur saja, itu pilihan tanpa rencana. Saya hanya berpikir sederhana:
“Asal diterima saja.”
Tetapi, rupanya saya gagal lagi.
Dua kali jatuh di usia muda rasanya seperti dunia ikut runtuh.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada drama.
Hanya tatapan kosong ke langit-langit kamar dan satu pertanyaan sederhana:
“Sekarang, saya harus ke mana?”
Di tengah pikiran yang buntu itu, tiba-tiba muncul ide nekat.
Pergi ke Cangar.
Ya, malam itu juga saya ingin pergi ke Cangar.
Tanpa alasan jelas. Tanpa rencana. Tanpa logika.
Mungkin, saya hanya ingin lari sebentar dari kenyataan.
Saya pamit ke ibu, bilang mau ke rumah teman SMA.
Namanya Buyung.
Setelah ngobrol lama di ruang tamunya, saya iseng menantangnya:
“Ayo, nang Cangar saiki. Wani ta?”
Dia menjawab seperti orang Jakarta: lo jual gue beli.
“Lho, saiki? Ayo!”
Maka, berangkatlah kami malam itu juga.
Dia menyetir. Saya dibonceng. Di atas motor merah Yamaha Robot melaju menembus dinginnya malam.
Semakin mendekati Cangar, jalanan semakin sepi.
Gelap.
Sunyi.
Dan mulai terasa menyeramkan.
Saya mulai berpikir: ini ide bodoh.
Tetapi, Buyung terus saja ngegas menembus gelapnya malam.
Entah, ini bentuk keberanian, nekat, atau sama-sama tidak waras.
Di tengah jalan, saya melihat rumah setengah jadi.
Tanpa pintu. Tanpa jendela. Dinding bata merah belum diplester.
Saya meminta Buyung berhenti, belok ke rumah itu.
Kami masuk.
Tidur beralaskan triplek di lantai tanah.
Dingin. Gelap. Sepi.
Di tengah malam itu, Buyung terbangun dan berbisik:
“Kayaknya ada orang di kamar sebelah.”
Ia cukup waspada di tengah ketidakpastian.
Kami akhirnya bertemu penghuni rumah yang ternyata ada di situ, dan meminta izin numpang istirahat.
Pagi setelah subuh, kami melanjutkan perjalanan.
Dan anehnya, di sanalah kepala saya mulai terasa lebih ringan. Menikmati pemandangan alam.
Menghirup udara segar pegunungan yang steril tanpa cemaran. Memandang pohon-pohon hijau dan langit biru yang terbuka indah.
Melewati jembatan kembar yang konon dibangun pertama kali dengan kayu di zaman Jepang.
Kadang hidup memang butuh jarak, agar kita bisa melihat masalah dengan lebih jernih.
Kami terus berjalan sampai Kota Batu.
Makan sederhana di warung pinggir jalan.
Lalu saya berkata:
“Ayo, pulang.”
Dan benar.
Kadang yang kita butuhkan memang bukan jawaban.
Hanya perjalanan.
Hanya waktu.
Hanya ruang untuk berdamai dengan diri sendiri.
Saya berpisah dengan Buyung ketika tiba kembali di rumah.
Dan setahun kemudian, saya berhasil lolos UMPTN.
Diterima di FT UB. Bertemu dengan teman-teman dan terus bersilaturahmi hingga kini. Mereka banyak yang sukses di kehidupan dan karirnya masing-masing.
Dari pengalaman itu saya belajar:
Tidak semua kegagalan adalah akhir. Kadang, itu hanya cara hidup memaksa kita mengambil jalan yang lebih tepat.
Patah hati itu wajar. Yang berbahaya adalah menyerah.
Karena sering kali, jalan terbaik tidak datang saat rencana pertama berhasil, tetapi saat kita cukup kuat untuk bangkit setelah gagal.
Dan percayalah… beberapa keberhasilan terbesar dalam hidup, lahir setelah malam paling gelap yang pernah kita lewati.