Foto: inilah.com
Pernyataan Abdullah Fahmi, petinggi Telkomsel, yang menganalogikan kuota internet dengan tiket Dunia Fantasi dan obat kedaluwarsa, mungkin terdengar masuk akal di permukaan.
Tapi, kalau ditelaah lagi, analogi itu problematik.
Karena kuota internet bukan obat.
Kuota internet bukan tiket wahana.
Kuota internet adalah produk digital.
Dan, produk digital bekerja dengan logika yang berbeda.
Obat punya expiry date karena kandungan kimianya bisa rusak. Tiket Dufan punya batas waktu karena wahana punya kapasitas fisik dan jam operasional.
Tapi, kuota internet? Kuota hanyalah alokasi data di sistem billing operator. Ia tidak membusuk. Tidak teroksidasi. Tidak basi. Tidak rusak. Yang membuatnya “hangus” adalah kebijakan. Dan, kebijakan adalah pilihan bisnis.
Operator telekomunikasi menjual dua hal:
1. Akses jaringan
2. Durasi penggunaan
Di sinilah inti persoalan. Konsumen merasa membeli “volume data” (GB). Tetapi operator sebenarnya menjual “hak akses berbatas waktu”.
Masalahnya, mereka komunikasi ke publik sering menawarkan besar kuota, bukan batas waktunya. Secara psikologis, konsumen merasa membeli barang, bukan menyewa waktu.
Ketika sisa kuota hilang, yang terasa bukan sekadar masa aktif habis, tetapi nilai yang sudah dibayar ikut menguap. Dan, disitulah resistensi publik muncul.
Kenapa terasa tidak adil?
– Listrik prabayar: membeli energi (kWh). Tidak ada masa aktif.
– Air PDAM: membayar volume pemakaian. Tidak ada expiry.
– Bensin: membeli liter. Tidak ada masa hangus.
Kenapa kuota berbeda?
Jawabannya sederhana: karena bisa.
Karena secara sistem, operator mampu membatasi masa aktif.
Karena secara bisnis, expiry menciptakan siklus pembelian ulang.
Karena secara pendapatan, breakage (kuota tidak terpakai) adalah keuntungan.
Ini bukan tuduhan. Ini realitas model bisnis global industri telekomunikasi.
Masalahnya, masyarakat hari ini tidak lagi pasif. Masyarakat paham bahwa:
– Infrastruktur jaringan sudah relatif stabil.
– Biaya marginal data semakin turun.
– Persaingan operator semakin ketat.
– Model rollover (akumulasi kuota) sudah diterapkan di banyak negara.
Artinya, expiry bukan keharusan teknis. Ia pilihan strategis. Dan, pilihan strategis selalu bisa dievaluasi ulang.
Yang dibutuhkan sekarang bukan analogi, tetapi lebih tepatnya transparansi. Alih-alih menyamakan kuota dengan obat batuk atau tiket wahana, mungkin yang lebih jujur adalah dengan mengatakan:
“Kami menjual akses jaringan berbasis waktu untuk menjaga stabilitas trafik dan keberlanjutan bisnis.”
Itu jauh lebih elegan. Karena publik tidak alergi pada keuntungan perusahaan. Publik alergi pada analogi yang terasa mengerdilkan logika mereka.
Pada akhirnya, kuota hangus bukan takdir teknologi. Ia adalah desain kebijakan. Dan, setiap desain bisa diubah, jika ada kemauan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah boleh kuota punya masa aktif? Tetapi, apakah model ini masih relevan di era digital yang semakin matang?
Karena, dalam ekonomi digital modern, kepercayaan pelanggan sering kali lebih bernilai daripada sisa kuota yang hangus.
~ ChatGPT