Menu

Buka Mata, Buka Pikiran, dan Buka Hatimu

Memperoleh kearifan bukanlah cuma kegiatan teoritis. Kita tak jadi bijaksana, bersih hati, dan bahagia (hanya) karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to... " (saja). Kita harus terjun, kadang hanyut atau berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam laku dan perbuatan, dalam merenung dan merasakan: ujian dan hasil ditentukan di sana.
~ Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

picture of space

Blogging Spaces

Titik Nol, buku baru tapi lama. Belajar tentang sebuah perjalanan, tentang Literasi Manusia. Foto: dok. pribadi

Titik Nol, buku baru tapi lama. Belajar tentang sebuah perjalanan, tentang Literasi Manusia. Foto: dok. pribadi

Jalan-jalan? Berpelisiran? Bersenang-senang menghabiskan uang? Aku tak ingin berbantahan dengan tuduhan-tuduhannya. Apa gunanya kami beradu mulut sekarang? Dulu, orang yang senantiasa mendamaikan pertengkaran kami bersaudara selalu adalah Mama. Sekarang, kami kembali bertengkar, atas nama Mama. Masing-masing kami merasa sudah melakukan yang terbaik buat Mama. Kami pun dirundung ketidakberdayaan menghadapi cobaan bertubi-tubi ini, juga karena Mama.

Ya, itu adalah kutipan Pulang dari buku Titik Nol yang ditulis Agustinus Wibowo. Ia pulang ke Indonesia setelah 10 tahun mengembara di negeri timur. Ketika sampai di rumah, ia tak kuasa dituduh saudaranya jalan-jalan pelesiran sesuka hati. Ia memang menyebut dirinya,”is an Indonesian travel writer and travel photographer. He started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing, where he pursued his bachelor degree in Tsinghua University“. Ia tuangkan segala uneg-unegnya itu ke dalam Titik Nol. Selanjutnya…

Masjid Diponegoro Surabaya. Foto: dok. pribadi

Masjid Diponegoro Surabaya. Foto: dok. pribadi

Saya baru dua kali ke masjid ini. Kamis pekan lalu, dan hari Selasa siang di penghujung 2019. Saat itu saya mampir sebagaimana seseorang dalam urusan muamalah di sebuah toko di dekat masjid ini. Apalagi saya juga sedang perjalanan jauh, lebih dari 500 km.

Dulu, yang saya tahu di tempat ini tidak ada masjid. Ingatan saya menerawang di sini hanya ada sebuah musala. Orang Jawa sering menyebutnya langgar atau surau.

Apa bedanya masjid dengan langgar?

Yah, orang bilang disebut langgar itu biasanya memiliki ukuran kecil, sedangkan masjid ukurannya luas. Masjid biasa dipakai untuk Jumatan, rutin dipakai salat berjamaah 5 waktu, dipakai itikaf, dan syarat lainnya. Correct Me If I’m Wrong.

Mendengar cerita itinerary perjalanan saya, seketika Ibu saya langsung mengingat Masjid Diponegoro ini. Kata beliau, kadang menggunakan tenda sampai menggunakan sebagian Jalan Raya Diponegoro.

“Kalau Jumatan sampai menutup sebagian jalan,” kata Ibu saya. Selanjutnya…

Internet Corner Bandara Internasional Juanda Surabaya. Foto: dok. pribadi

Internet Corner Bandara Internasional Juanda Surabaya. Foto: dok. pribadi

PEKAN lalu perhatian saya sedikit dialihkan pada fasilitas Internet Corner yang disediakan Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya. Ini gara-gara baterei ponsel habis, lalu mencari colokan listrik gratis yang disediakan Bandara.

Saat di Terminal 1, saya melihat seseorang sedang duduk sambil bermain smartphone dalam kondisi kabel charger terhubung colokan listrik. Aha… saya pun mendekat menuju kotak kuning abu-abu, yang di dalamnya ada layar komputer menyala.

Ketika memasang kabel charger ponsel dan menunggu baterei terisi, tiba-tiba perhatian saya beralih ke layar komputer. Di layar tampil website Bandara Juanda. Sedangkan tetikus (mouse) dan keyboard tertanam di kotak tersebut. Tetikus dalam bentuk mouse-pad pada keyboard.

Saya penasaran apakah komputer ini bisa digunakan atau tidak. Sedikit otak-atik keyboard, mengenali desktop, lalu membuka website, ternyata bisa digunakan mengakses website. Wah, bagus ini… Selanjutnya…

Ibu sedang berjalan menuju Masjidil Haram waktu Subuh. Foto: dok. pribadi

Ibu sedang berjalan menuju Masjidil Haram waktu Subuh. Foto: dok. pribadi

HARI ini kakak saya mengabarkan sedang dalam perjalanan kembali ke tanah air. Ia baru saja usai menjalankan ibadah umroh di tanah suci bersama dengan suami dan sebagian anak-anaknya.

Selama dalam rangkaian ibadah tersebut, ia menahan diri untuk tidak disibukkan dengan foto-foto kegiatannya selama dalam perjalanan ibadah. Padahal di awal sebelumnya, ia cukup antusias, ingin selalu update di medsos dengan mengirimkan potret senyum bahagianya bersama anak dan suami.

Jare ustadz gak oleh ben ora salah niat, ben ora riak pamer-pamer ngono jare, hehe…” tulisnya dalam bahasa Jawa ngoko campuran Jawa Timur.

Meski dalam komunikasi yang sangat amat terbatas, khusus kalangan sendiri, dan tidak keluar area privasi, saya tidak protes agar ia kembali mengirimkan foto-foto kegiatannya. Bagi saya, ini adalah godaan bagaimana menjaga hati, menjaga komitmen. Memegang prinsip yang sudah diteguhkan di dalam hati agar tidak goyah sesulit memegang bara api dalam genggaman tangan. Selanjutnya…

Cuplikan berita yang beredar di media sosial. Foto: Istimewa

Cuplikan berita yang beredar di media sosial. Foto: Istimewa

Saya trenyuh membaca sebuah cuplikan surat yang beredar di media sosial. Dalam sebuah artikel menyebutkan seorang terpidana mati menyalahkan ibunya dan pengasuhannya yang buruk atas penderitaannya yang berakhir eksekusi mati.

Sebelum eksekusi dijalankan, terpidana itu diminta menuliskan harapan terakhirnya. Ia diberi sebuah pensil dan kertas, kemudian menulis surat selama beberapa menit. Selesai menulis, ia menyerahkan surat itu pada sipir penjara dan meminta agar suratnya diserahkan kepada ibu kandungnya.

Saya kemudian mencari tahu peristiwa itu apakah benar-benar terjadi atau tidak, kapan, dan ada dimana, tapi belum menemukan sumber yang tepat. Di beberapa sumber media luar negeri terjadi perdebatan tentang kisah tersebut. Selanjutnya…

Anti-Mainstream Marketing, 20 Jurus Mengubah Banyuwangi. Abdullah Azwar Anas. Foto: dok. pribadi

Anti-Mainstream Marketing, 20 Jurus Mengubah Banyuwangi. Abdullah Azwar Anas. Foto: dok. pribadi

Sejak buku ini tiba empat hari yang lalu saya menahan diri untuk tidak menulis di sini. Padahal tangan terasa ‘gatal’ dan kepala terasa ingin memuntahkan ‘isi’nya disini. Pokoknya, semua yang menjadi uneg-uneg soal buku ini, dikeluarkan. Dan, malam ini saya sudah tidak tahan lagi.

Yap. Banyuwangi ternyata sangat menggoda. Setelah Juni kemarin saya membolang berdua dengan seorang sahabat, saya merasa terus memikirkannya. Padahal tak ada kerabat atau orang dekat yang ada di sana.

Tapi herannya, di sana saya merasa merdeka, bebas mengukur jalan, menelusuri sudut kabupaten, bahkan menyasar ke kampung-kampung yang entah ada dimana. Dari tengah kota, jalan ke Selatan ke Pulau Merah, lalu ke kaki Gunung Ijen, kembali ke Ketapang, hingga menuju utara Savana Bekol Situbondo.

Ini gara-gara di tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya saya transit Stasiun Banyuwangi Baru tengah malam. Kami, anak dan istri, semua empat orang, berjalan kaki menuju Pelabuhan Ketapang dan menyeberang ke Pulau Bali. Yap. Banyuwangi, hanya tempat transit! Tak ada niat waktu itu untuk tinggal barang satu dua hari di sana. Selanjutnya…