Menu

Buka Mata, Buka Pikiran, dan Buka Hatimu

Memperoleh kearifan bukanlah cuma kegiatan teoritis. Kita tak jadi bijaksana, bersih hati, dan bahagia (hanya) karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to... " (saja). Kita harus terjun, kadang hanyut atau berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam laku dan perbuatan, dalam merenung dan merasakan: ujian dan hasil ditentukan di sana.
~ Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

picture of space

Blogging Spaces

Foto ketika mengantar Pak DI dan Ibu. Foto: Istimewa

Foto ketika mengantar Pak DI dan Ibu. Foto: Istimewa

Saya termasuk beruntung bisa ‘foto bareng’ dengan Pak Dahlan Iskan. Saya berada di tengah-tengah ‘diapit’ Pak Dahlan dan Ibu. Ah, tidak. Ini foto tidak sengaja. Tapi please deh, aksi foto bareng ini bukan untuk pansos instead of panjat sosial. Pansos, istilah yang dipakai netizen zaman now untuk menyebut orang yang ingin cepat terkenal atau populer. Salah satu tindakan pansos adalah memanfaatkan foto bareng dengan pesohor atau orang populer. Hehe…

Ceritanya, hari itu saya didapuk menjadi salah satu panitia pelaksana wisuda Sarjana dan Diploma tahun 2019 di Universitas Mulia. Saya masuk menjadi salah satu anggota tim penerima tamu. Tugasnya, mempersilakan tamu undangan mengisi buku tamu lebih dahulu, kemudian mempersilakan dan menuntunnya menuju tempat duduknya. Dengan begitu, diharapkan tamu akan merasa nyaman dan… wes, mantap pokoknya. 😀

Hmm… Kelihatannya sepele ya: menerima tamu, mempersilakan mengisi buku tamu, memberikan buah tangan, dan mengarahkan tamu menuju tempat duduknya. Selesai. Tapi, justru di sinilah masalahnya. Tidak semua tamu mengenal saya. Begitu juga dengan saya yang banyak tidak mengenal mereka. Akibatnya, mudah diduga terjadi kesalahpahaman, meskipun intensitasnya kecil.
Selanjutnya…

Foto bersama Rektor dan Wakil Rektor serta 18 orang Ketua UKM yang baru dilantik. Foto: dok. pribadi

Foto bersama Rektor dan Wakil Rektor serta 18 orang Ketua UKM yang baru dilantik. Foto: dok. pribadi

Sabtu (2/11) saya mengikuti pelantikan Pengurus UKM atau Unit Kegiatan atau Kreativitas Mahasiswa Universitas Mulia. Secara resmi Bapak Rektor berserta para Wakilnya menyaksikan penandatanganan Surat Keputusan masing-masing Ketua atau Koordinator UKM tersebut.

Berdasarkan surat undangan yang saya terima, saya ditunjuk sebagai dosen pendamping untuk bidang pemrograman. Nama UKM-nya, Mulia Smart Coding. Semuanya ada 18 UKM. Seperti yang dikatakan Bapak Rektor, tugas dosen disini untuk mendampingi mahasiswa agar kegiatan dan aktivitasnya terarah, terkontrol, terdukung, terbina, sehingga diharapkan mencapai tujuan dan goals yang diharapkan.

Saat pelantikan tersebut, mahasiswa dan dosen yang ditunjuk dan dipercaya mengurusi UKM menerima SK dari Bapak Rektor. Meski menjadi salah satu anggota dosen pendamping, saya belum menerima salinan SK dan belum membaca apa yang diamanatkan lewat SK tersebut. Meski demikian, saya mencoba menangkap pesan dan harapan Bapak Rektor yang saya tuliskan kembali disini. Selanjutnya…

Jangan buat status receh mengganggu hidup kita. Don't sweat the small stuff. Richard Calrson.

Jangan buat status receh mengganggu hidup kita. Don’t sweat the small stuff. Richard Calrson.

Zaman sekarang adalah zaman data, zaman digital. Seorang pebisnis sukses mengatakan bahwa sekarang semua tergantung data. Dengan data, pebisnis mampu melihat gambaran masa depan bagaimana perusahaan atau organisasinya kelak. Seperti sebuah ramalan, tapi bisa diprediksi, bisa dikalkulasi, bisa dihitung melalui statistika katanya. Visualisasi data.

Di sekolah atau kuliah, ilmu ini dipelajari lewat mata kuliah yang membahas data mining dan implementasinya. Statistika hanya dasarnya, juga pemrograman.

Omong-omong bicara data, akhir-akhir ini ada beberapa berita yang menyebutkan banyak orang, artis, atau pesohor yang mengalami depresi. Banyak orang tidak menyangka sebelumnya, tidak menduga, kaget. Karena tanda-tandanya sulit dikenali. Ada penderita yang akhirnya melampiaskan lewat obat-obatan terlarang, dan ada yang melakukan bunuh diri. Berita menyebutkan, penderita merasa tertekan, tapi menyembunyikan diri. Selanjutnya…

Nadiem Makarim menerima "pesan" Presiden Joko Widodo dalam Kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/10). Foto. setkab.go.id

Nadiem “Mas Menteri” Makarim menerima “pesan” Presiden Joko Widodo dalam Kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/10). Foto. setkab.go.id

Di sela-sela pekerjaan yang menunggu diselesaikan, saya sempatkan untuk mencatat beberapa catatan penting untuk Kabinet Indonesia Maju, yang baru di-launching Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden KH Amin Ma’ruf, Rabu (23/10) kemarin.

Setidaknya ada hal menarik yang perlu saya tulis disini. Pertama, pesan Bapak Presiden kepada para pembantunya. Kedua, Mendikbud baru, Pak Mas Nadiem Makarim (35). Catatan nomor dua ini terkait posisi saya yang bekerja di bawah, sebelumnya, Ristekdikti, dan kini berubah kembali ke Kemendikbud.

Ada pesan Bapak Presiden yang saya perlu tulis disini. Tujuannya, untuk catatan jika di kemudian hari perlu diungkap kembali sebagai pelajaran. Saya sebagai rakyat biasa juga merasa membutuhkan pesan Bapak Presiden. Sebagai seorang pemimpin negeri, tentu banyak ungkapan dan pernyataan positif yang menjadi perhatian, perkeling, atau pengingat segenap rakyat Indonesia.

Dikutip detik.com, berikut pernyataan Bapak Presiden. Selanjutnya…

Presentasi makalah Seminastika 2019 Universitas Mulia di Hotel Grand Jatra Balikpapan, Rabu (16/10). Foto: dok. pribadi

Presentasi makalah Seminastika 2019 Universitas Mulia di Hotel Grand Jatra Balikpapan, Rabu (16/10). Foto: dok. pribadi

Alhamdulillah. Tahun ini saya berkesempatan mengikuti Call for Paper Seminastika 2019 yang diselenggarakan Universitas Mulia di Hotel Grand Jatra Balikpapan, Rabu (16/10). Seminar Nasional yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini bertajuk Embracing Industry 4.0, Towards Sustainable Smart Application. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar dan sukses, plus surprise.

Selain Bapak Jauhar Effendi, Plt Assisten Pemerintahan dan Kesra mewakili Gubernur Kalimantan Timur, juga hadir narasumber dari UTeM Melaka Malaysia Prof Masilla dan Dr Valentine J Gandhie dari Inggris. Sayang sekali, untuk menulis rangkuman para narasumber lumayan bikin pegel. Tapi sebagian materi Gubernur Kaltim bisa diakses di situs resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Tampak ratusan orang, baik dari akademisi, peneliti, maupun professional ikut berpartisipasi sebagai peserta dan pemakalah. Mereka berasal dari Aceh, Jakarta, Papua, dan Kalimantan hingga luar negeri antusias membagikan dan mempresentasikan pengalaman dan karyanya. Mereka juga tampak siap berdiskusi lebih lanjut mengingat waktu presentasi yang terbatas. Hanya 15 menit untuk presentasi dan tanya jawab. Selanjutnya…

Batik Printing, sebutan batik yang bukan batik. Foto: dok. pribadi

Batik Printing, sebutan batik yang bukan batik. Foto: dok. pribadi

“Hari ini Hari Batik, mari merasakan kasta…” ujarku pagi ini pada istri, ketika bersiap berangkat kerja. Ia tersenyum dan membalas. “Baju ini juga ada kastanya,” akunya pada baju muslimah hitam yang ia kenakan.

“Tidak, saya merasakan batik berbeda. Jika baju biasa tidak terlihat mahal atau tidak, tapi kalau batik, orang akan melihat dari jauh saja sudah tahu berapa “nilai” batiknya,” begitu balasku.

Itu perbincangan ringan saya dengan istri pagi ini di Hari Batik, 2 Oktober 2019. Maka ketika ada anjuran mengenakan pakaian batik terbaik di Hari Batik, saya membayangkan masing-masing orang akan mengenakan batik terbaiknya. Ya, terbaik menurut yang mengenakan dan yang dimilikinya.

Setelah kita sama-sama mengenakan batik terbaik menurut kita sendiri, maka… taraa… yang mengerti dan paham tentang batik akan bisa memberi “nilai” masing-masing orang yang berbatik. Betulkah? Selanjutnya…