Menu

Buka Mata, Buka Pikiran, dan Buka Hatimu

Memperoleh kearifan bukanlah cuma kegiatan teoritis. Kita tak jadi bijaksana, bersih hati, dan bahagia (hanya) karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to... " (saja). Kita harus terjun, kadang hanyut atau berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam laku dan perbuatan, dalam merenung dan merasakan: ujian dan hasil ditentukan di sana.
~ Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

picture of space

Blogging Spaces

Panduan Kuliah Daring (Online) yang saya buat berdasarkan pengalaman selama satu pekan mengajar Online, baik di kampus maupun di rumah (Work-from-Home). Sumber: dok. pribadi

Panduan Kuliah Daring (Online) yang saya buat berdasarkan pengalaman selama satu pekan mengajar Online, baik di kampus maupun di rumah (Work-from-Home). Sumber: dok. pribadi

Sejak sepekan yang lalu, tepat tanggal 14 Maret 2020, intensitas persebaran Covid-19 di Indonesia diberitakan semakin meningkat. Ini ditandai berita tentang Menteri Perhubungan Bapak Budi Karya Sumadi tercatat sebagai pasien no 76 positif Covid-19. Masuknya Covid-19 di lingkaran pertama jajaran pemerintah seolah menjadi tanda bahwa pemerintah harus lebih serius lagi dan tidak memandang Covid-19 sebelah mata.

Esoknya, Presiden Joko Widodo melakukan press-release dan menghimbau agar masyarakat melaksanakan kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah, Minggu (15/3). “Para kepala daerah juga saya minta membuat kebijakan sesuai kondisi daerahnya menyangkut proses belajar dari rumah bagi pelajar/mahasiswa, kebijakan tentang sebagian ASN bekerja di rumah dengan tetap memberi pelayanan kepada masyarakat, dan menunda kegiatan yang melibatkan banyak orang.” tulis laman Facebook Presiden Jokowi.

Hari berikutnya, Senin (16/3), barawal dari Kemendikbud, kemudian Ditjen Dikti, LLDIKTI XI, hingga sampai pada Universitas Mulia, yakni perguruan tinggi tempat saya bekerja, masing-masing menerbitkan edaran dan mendorong pembelajaran daring (dalam jaringan atau online).

Selanjutnya…

Media Online aljazeera.com menempatkan sedikit iklan Google Adsense dan hampir tanpa iklan khusus. Foto: tangkapan layar

Media Online aljazeera.com menempatkan sedikit iklan Google Adsense dan hampir tanpa iklan khusus. Foto: tangkapan layar

KETIKA menulis tentang QRIS dan persebaran virus Corona di dunia kemarin, dan pagi tadi membaca salah satu pimpinan redaktur media online yang berbicara di hadapan mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya, saya mulai berpikir bagaimana media-media online ini hidup dan membiayai kehidupannya.

Betapa tidak. Bagaimana para pimpinan media itu dengan percaya diri memamerkan kesuksesan media online-nya di hadapan mahasiswa, sementara jika dilihat media online yang dimilikinya tersebut biasa-biasa saja, tidak tampak ‘waow’ seperti media online besar yang sudah mapan? Bahkan, dengan pede-nya hanya berbekal WordPress yang di-customization, kemudian mereka mengaku sukses? Apa yang menjadi rahasianya?

Seperti blog ini yang juga menggunakan WordPress, pembaca akan melihat banyak iklan Google Adsense yang bertebaran di sana-sini yang kadang mengganggu. Tapi iklan, menurut beberapa sumber, menjadi salah satu pemasukan penting untuk biaya hidup blog ini. Sementara bagi sebagian pengelola media online, model bisnis subscription juga cukup menjanjikan pemasukan dan pendapatan mereka. Ini juga sangat menarik dan tentu masih ada banyak. Selanjutnya…

Perkembangan saat ini persebaran virus Corona di seluruh dunia. Sumber: AFP

Perkembangan saat ini persebaran virus Corona di seluruh dunia. Sumber: AFP

DI awal tahun 2020 sampai dengan ditulisnya catatan ini dunia mendadak gempar dengan tersebarnya virus yang berasal dari China. Terhitung sudah lebih dari 60 hari sejak China pertama kali memberi tahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang munculnya virus baru yang misterius di kota Wuhan.

Sampai saat ini, virus yang diidentifikasi dan diberi nama SARS CoV-2 ini telah menginfeksi lebih dari 100.000 orang di seluruh dunia, menyebabkan lebih dari 3.000 kematian, mengguncang pasar saham, dan memicu prediksi kehilangan pekerjaan, kekurangan makanan dan obat-obatan, bahkan mengancam krisis ekonomi global.

Ketakutan terhadap penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) mempengaruhi kegiatan penting organisasi-organisasi di seluruh dunia, mulai dari pembatalan pertandingan sepakbola, konferensi, sampai dengan penutupan taman hiburan di Asia hingga museum di Italia dan Prancis.
Selanjutnya…

Advertorial QRIS di Kompas, 3 Maret 2020. Foto: tangkapan layar

Advertorial QRIS di Kompas, 3 Maret 2020. Foto: tangkapan layar

HARI ini saya baru membaca koran digital premium kiriman seorang ‘kakak’ yang tinggal di Jakarta. Saya memang memintanya agar selalu mengirimkan koran dan majalah digital setelah sebelumnya ia mengirimkan koran sesekali. Tidak sering, kadang-kadang saja. Mungkin karena tidak ada respon sehingga dianggap tidak ada yang suka membaca koran.

Kuatir tidak lagi mengirimkan koran, saya pun sambil bercanda memintanya agar lebih sering lagi mengirim koran, syukur-syukur setiap hari. Ternyata gayung bersambut. Alhamdulillah. Walaupun koran dikirim tidak setiap hari dan bukan di pagi hari, pada akhirnya saya kelabakan mengatur waktu membacanya. Meski begitu, tetap saja koran saya unduh untuk dibaca di hari yang lain, seperti di hari Minggu ini.

Terus terang, saya akui berita-berita yang dimuat di media massa premium ini lebih berbobot, tidak seperti media online yang beritanya tampil setengah-setengah dan tidak tajam. Salah satu berita, yang ternyata advertorial alias berita promosi atau iklan, tapi cukup menarik perhatian saya adalah tentang QRIS.

Apa itu QRIS?
Selanjutnya…

Ilustrasi. Arisan uang. Foto: Google

Ilustrasi. Arisan uang. Foto: Google

PAGI tadi ibunya anak-anak bilang akan mengikuti arisan keluarga siang hari. Ia mengatakan ikut karena namanya sudah terdaftar dalam list arisan tersebut. Tetapi sebenarnya tidak ikut, hanya saja namanya digunakan oleh orang lain.

Secara hukum Islam, ada perbedaan pendapat tentang arisan. Ada ulama yang mengatakan haram dengan berbagai pertimbangan berdasarkan rujukan dalil-dalil. Tetapi ada juga yang mengatakan halal dengan bantahan dan pengertian yang berbeda selama digunakan dalam rangka membantu sesama, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, menghindari muamalah yang terlarang. Ada pula yang memberi pertimbangan lebih baik menjauhi utang karena arisan membuka pintu utang. Meski utang itu dibolehkan.

Konsultan keuangan malah menyarankan agar jangan mudah berutang. Boleh berutang selama betul-betul terpaksa dan sudah tidak ada lagi barang berharga yang digunakan untuk menggantinya. Saran mereka, berutang hendaklah yang produktif, yang sekiranya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Yang menguntungkan, begitu!
Selanjutnya…

Kuliah dan alat presensi berbasis Web dan RFID. Foto: dok. pribadi

Kuliah dan alat presensi berbasis Web dan RFID. Foto: dok. pribadi

ALHAMDULILLAH. Pekan pertama di semester genap ini secara keseluruhan berjalan lancar. Pertama, proses bimbingan akademik atau perwalian, mulai mengisi KRS sampai dengan terbitnya daftar hadir, terutama daftar hadir manual yang ternyata cukup mudah dan sukses saya siapkan. Kedua, tentang pelaksanaan pembelajaran dalam satu pekan ini, alhamdulillah, berjalan sukses.

Meski demikian, kali ini saya perlu setiap kali, mudah-mudahan, selesai mengajar dalam satu pekan membuat laporan yang saya tulis disini dalam bentuk catatan ringan. Diketik dalam waktu paling lama satu jam. Berisi poin-poin yang perlu dicatat untuk digunakan persiapan materi di pekan berikutnya.

Catatan pertama, soal bimbingan akademik yang menggunakan SIAS dan tidak lagi menggunakan SIAMON. Terkait perubahan ini, baik dosen maupun mahasiswa sedikit gagap menggunakannya. SIAS memiliki antar muka yang berbeda dan fungsi yang lebih banyak dibanding dengan SIAMON. Meski proses daftar ulang (heregistrasi), pengisian KRS dan bimbingan akademik dengan dosen wali pada SIAS hampir sama dengan SIAMON, tetapi SIAS memiliki tampilan yang berbeda dan lebih kaya fungsi. Selanjutnya…