Menu

Buka Mata, Buka Pikiran, dan Buka Hatimu

Memperoleh kearifan bukanlah cuma kegiatan teoritis. Kita tak jadi bijaksana, bersih hati, dan bahagia (hanya) karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to... " (saja). Kita harus terjun, kadang hanyut atau berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam laku dan perbuatan, dalam merenung dan merasakan: ujian dan hasil ditentukan di sana.
~ Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

picture of space

Blogging Spaces

Ustaz Dave Ariant Yusuf. Source: Facebook

Ustaz Dave Ariant Yusuf. Source: Facebook

Pagi ini saya membaca status seorang ustaz yang menginspirasi. Saat tampil di televisi, ustaz ini bersuara teduh dan senyum yang khas. Kata dan kalimat yang diucapkannya banyak menginspirasi orang. Bahasa yang digunakan sangat baik. Dalam sebuah status Facebook-nya pun saya nilai juga sangat baik, terstruktur, dan mudah dipahami.

Jelas sekali. Ini terlihat di beberapa status media sosial yang ditulisnya mudah dibaca orang awam dan dimengerti. Susunan kalimat terstruktur dan tanpa tanda baca yang keliru, setidaknya menurut penilaian saya. Menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Tampak berpengalaman. Ini menandakan sebelum melakukan posting di media sosial telah melakukan koreksi lebih dahulu dan sangat berhati-hati. Selanjutnya…

Cover Vlog Touring Boncengan menikmati eksotika Pantai Pulau Merah. Foto: dok. pribadi

Cover Vlog Touring Boncengan menikmati eksotika Pantai Pulau Merah. Foto: dok. pribadi

Ini adalah kisah perjalanan dari Banyuwangi menuju Pantai Pulau Merah yang terkenal eksotik.

Pagi itu, usai tiba dari perjalanan kereta api dari Gubeng Surabaya ke Stasiun Karangasem Banyuwangi, berdua dengan Iwan, saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pulau Merah boncengan dengan motor.

Tiba siang hari di Pulau Merah, saya menunggu hingga senja, dengan harapan bisa melihat suasana di sekitar pantai menjadi merah hingga matahari terbenam.

Subhanallah. Memang, pemandangannya benar-benar indah.
Selanjutnya…

Kucing betina ini setiap pagi menunggu di depan pintu rumah. Lihat ulahnya ini. Foto: dok. pribadi

Kucing betina ini setiap pagi menunggu di depan pintu rumah. Lihat ulahnya ini. Foto: dok. pribadi

Ini adalah kucing betina. Setiap pagi usai matahari terbit, dia selalu berada di depan pintu masuk rumah. Kadang sambil ‘mengeong’ memanggil orang yang ada di dalam rumah. Ulahnya ini sudah dia jalani setiap hari sejak sebelum masuk bulan puasa yang lalu. Kira-kira 3-4 bulan yang lalu.

Untuk apa kucing ini di depan pintu rumah?

Lha, mau apalagi kalau bukan untuk makan. Setelah pintu dibuka, dia pasang muka melas. “Makan…” begitu mungkin meongnya.

Ya, makan pagi dan sore. Kadang siang dia mampir. Makanannya pun apa saja yang saya punya. Kucing ini termasuk doyan sembarang kalir. Kadang tahu goreng, tempe, ikan, ayam, roti, atau apa saja yang saya makan saat itu. Ibunya anak-anak membelikan dia makanan khusus untuk kucing peliharaan. Selanjutnya…

Teknik Nuklir UGM. Foto: Istimewa

Teknik Nuklir UGM. Foto: Istimewa

Hari Selasa (9/7) malam kemarin tiba-tiba ada kabar di grup Whatsapp keluarga. Ponakan bilang, dia diterima di Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada lewat SBMPTN. Malam itu juga ketika saya sedang berada di kelas, langsung saja saya menyambar, “Alhamdulillah… ya Allah, jadi anak UGM… Barakallah!”

Uminya malah bilang, “kok teknik nuklir… wih ngeri umi dengarx.”

Kabar ini  tentu saja surprise buat saya. Di media sosial bahkan sudah banyak kabar serupa. Hari itu time-line akun media sosial cukup ramai. Banyak orang tua, saudara, atau keluarga mereka yang ‘pamer’ keberhasilan. Mereka berbagi tangkapan layar telepon selularnya yang menunjukkan telah diterima di perguruan tinggi negeri pilihan.
Selanjutnya…

Richard Carlson, Dont Sweat the Small Stuff. Foto: dok. pribadi

Richard Carlson, Dont Sweat the Small Stuff. Foto: dok. pribadi

Pagi ini saya membuka kado dari si bungsu. Isinya adalah buku yang saya beli di Gramedia hari Minggu (7/7) kemarin. Ketika sampai di rumah usai membeli buku itu tidak segera saya buka. Saya malah sibuk dengan membuka Whatsapp membaca beberapa pesan yang masuk. Maklum, telepon genggam saya itu tidak saya bawa jalan.

Membuka kado seperti ini bagi saya adalah sesuatu yang langka. Maksudnya, sangat jarang terjadi. Kesan saya, secara pribadi tentu saja hati saya merasa sangat senang dan bahagia menerima hadiah. Apalagi hadiah itu jika diberikan sendiri oleh anak, istri, saudara, ataupun orang tua.
Selanjutnya…

Gagal sekali jadi merasa gagal total. Source: kaskus.id

Gagal sekali jadi merasa gagal total. Source: kaskus.id

Sejak posting video dokter Agus Ali Fauzi tempo hari, saya coba kembali menyimak pesan-pesannya, dan mencoba tertarik dengan sebutan istilah berpikir negatif. Ini terkait pengalaman saya yang beberapa kali ‘dituduh’ ini dan itu, melakukan hal yang sama sekali tidak saya lakukan. Mengapa orang tersebut bersikeras dengan tuduhan itu, meskipun saya jawab tidak?

Inilah yang kemudian membuat saya berpikir mengapa orang tersebut ‘ngeyel’?

    • Mengapa orang terbiasa berpikir negatif?
    • Mengapa orang terus menerus menuduh orang lain hanya berdasarkan prasangkanya yang buruk?
    • Mengapa orang itu memiliki standar ganda? Ketika ia melakukan kesalahan, maka ia anggap itu adalah hal yang biasa dan tidak mengapa ia lakukan. Namun, ketika orang lain melakukan hal yang sama, ia sebut kesalahan itu tak dapat dimaafkan.

    Selanjutnya…