Menu


Membangun Rumah, Tukang Las Keliling Balikpapan

Tukang las keliling Balikpapan. Foto: dok. pribadi

Tukang las keliling Balikpapan. Foto: dok. pribadi

Sore itu sy ke luar rumah hendak membeli cat pelitur. Di tengah perjalanan, tepat di turunan jalan kulihat seseorang dengan sepeda motor yang di belakangnya tertulis las keliling sedang kesulitan menuruni jalan.

Saya dari belakangnya juga turun, lebih cepat dan menyalipnya, wush! Sampai di bawah sy teringat daun pintu pagar di rumah lepas, perlu dilas. Seketika sy menepi, lalu berhenti dan menunggu las keliling itu lewat.

“Pak, stop, bisa baikin pagar rumah, lepas?” panggil sy sambil memberi aba-aba agar dia berhenti.

Dia lalu berhenti di tengah jalan, tidak menepi, dan langsung menjawab, “Bisa!” katanya. Hebat, pikirku. Belum lihat sudah bilang bisa.

“Ikuti sy Pak,” kata sy sambil nyebutin alamat rumah. Ia mengikuti sy, memutar balik dari turunan kembali ke arah tanjakan.

Motornya yang lumayan butut itu membawa peralatan las, lengkap dengan tabungnya yang berat. Sy melambatkan laju kendaraan sambil sesekali menengok ke belakang melihat apakah ia masih mengikuti sy. Asap knalpotnya mengepul putih, tampaknya cukup kesusahan naik tanjakan.

Sesampainya di rumah, ia langsung menepikan motornya yang memiliki banyak sandaran, saking beratnya bawaan. Sy tunjukkan bagian pagar yang perlu diperbaiki. Dengan sigap ia memeriksa dan mengamati pagar. Saat itu, datanglah seseorang yang bertanya alamat sebuah rumah. Sambil membantu menunjukkan jalan, sy tidak lagi memperhatikan apa yang dilakukan pak tukang las. Setelah itu, pak tukang las kembali ke kendaraannya usai memeriksa pagar.

“Besok,” katanya tersenyum dengan logat Sunda. Ia mengatakan ada bagian pagar yang harus disediakan lebih dulu untuk mengganti bagian pagar yang rusak.

“Oh… Baik. Berapa semua Pak,” tanyaku.

Baca juga:  Membangun Rumah, Setahun Lamanya Bikin Dapur!

Dia menghitung lalu menyebutkan sejumlah harga yang tak jauh beda dengan perkiraan sy. Meski begitu, sy iseng untuk negosiasi.

“Bisa kurang kah Pak?” tanya sy sekadar menawar. Ia lalu menghitung ulang.

Bagi sy, sudah kebiasaan menjadi seorang pembeli itu menawar jika boleh ditawar. Tapi tentu saja yang dimaksud menawar itu bukan hanya soal harga semurah-murahnya. Sy ingin ia meyakinkan sy dengan harga yang ia tawarkan. Sama seperti penjual kamera SLR untuk pengguna awam. Sy malah surprise jika penjual tidak hanya sekadar menyebut harganya saja, tapi dia juga tahu detilnya, fungsinya, cara menggunakannya, dan memberitahukannya pada pembeli awam.

Sebelum pak tukang las itu menyebutkan lagi harga penawaran yang lebih rendah, sy ingin ia menunjukkan apa saja yang perlu diperbaiki. Ia lalu menjelaskan detilnya, menunjukkan bagian-bagian mana yang harus diganti, dan bahan yang harus ia sediakan lebih dulu.

“Kalau begitu, yang bagus ya Pak, yang kuat,” pinta sy tanda setuju dengan harga semula.

“Ya,” jawabnya menyanggupi.

Sebagai konsumen, proses sebelum melakukan transaksi seperti itulah, bagi saya penting sekali. Penting karena idealnya jual beli barang dan jasa menjadi terang dan jelas, tidak ada yang disembunyikan, dan harga yang diberikan cukup wajar, normal, ideal, dan cocok.

Esoknya, tepat di Hari Buruh, ia benar-benar mengerjakan apa yang sy pinta. Dan, hasilnya membuat sy melongo, jauh di luar ekspektasi sy. Ia sudah siap dengan potongan bagian rangka pagar yang baru yang sudah dibuat sebelumnya sehingga tinggal dipasangkan, bukan baru dibuat di tempat. Sy menduga, itu berarti usai subuh atau bahkan malam hari ia siapkan potongan bagian itu.

Baca juga:  Memaknai Hari Guru di Era Revolusi Industri 4.0

Hasil sambungannya pun juga cukup bagus. “Menyatu,” katanya sambil menjelaskan perbedaannya dengan dilas.

Sejauh ini sy sangat puas dengan hasil pekerjaannya. Sy coba menghitung berapa modal yang ia keluarkan, mulai dari ongkos angkut, persiapan, makan minum, jasa keterampilan dan keahlian las, aset peralatan las lengkap tabung gas, besi bahan pagar, mur dan baut delapan pasang, sampai dengan caranya memasang dan menyelesaikan pekerjaan. Sy jadi malu jika dibandingkan dengan ongkos yang ia minta dari sy, itupun masih sy tawar hehe…

Semoga lancar barokah… 🙂

*) Catatan biasa di Hari Buruh


Baca juga:

Minggu, 17 Februari 2019 : 08:45 Wita
Hard works must be combined smartwork
Hard works must be combined smartwork
Rabu, 19 September 2018 : 05:14 Wita
Boleh Saja Ambil Skripsi di Semester 7, Asal…
Boleh Saja Ambil Skripsi di Semester 7, Asal…
Jumat, 13 Oktober 2017 : 14:42 Wita
Berikan Kasih Sayang, Jangan Kau Eksploitasi
Berikan Kasih Sayang, Jangan Kau Eksploitasi
Senin, 29 Oktober 2018 : 10:16 Wita
Check Website yang Mengalami Downtime
Check Website yang Mengalami Downtime
Rabu, 24 Januari 2018 : 00:58 Wita
Dilema Pizza, Seperti Harapan vs Kenyataan
Dilema Pizza, Seperti Harapan vs Kenyataan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *