Menu


Mas Sutaji, Guru Mengaji dan Pendekar Silat yang Penjual Bakwan
Mas Sutaji jualan bakwan gorengan. Foto: dok. pribadi

Mas Sutaji jualan bakwan gorengan. Foto: dok. pribadi

Lingkungan masjid yang luas pagi itu cukup tenang. Banyak anak usia dini sampai remaja sedang mengikuti apel pagi persiapan lomba Festival Anak Saleh. Seorang pria paruh baya datang membawa kendaraan bermotor roda dua. Di bagian boncengan kendaraannya, ia gunakan untuk mengangkut rombong jajanan.

“Lewat mana, Mas?” tanyanya, seolah akan menuju ke tempat duduk undangan festival. “Oh, lewat sini agak sulit dipakai apel upacara, lewat atas saja,” jawabku, yang sudah mengenal sebelumnya. Pak Sutaji (45) namanya.

Namun siapa sangka, tak banyak yang mengetahui jika ia akan menggelar dagangan di halaman parkir sekitar masjid. Seiring waktu, sedikit demi sedikit orang-orang mulai mendekat dan berkerumun di tempat dagangannya.

Penasaran, usai melihat-lihat festival, saya pun mengamati makanan yang dikemas plastik dan dimakan lewat ujung plastiknya ini.

Ayo, Mas,” ujarnya menawarkan jajanannya, ramah. “Ini sponsor utama festival,” ujarnya bercanda.

Sebelum dikemas, potongan tipis tepung kulit bakwan diisi satu sendok adonan tepung kanji, terigu, dan ikan kemudian digoreng. Setelah matang, ditiriskan, dibungkus plastik, lalu diisi sambal kacang. “Plastik diikat, dikocok, terus kalau makan plastik dibuka ujungnya dengan digigit, makannya lewat ini,” katanya sambil senyum.

Makin penasaran, saya pun pesan sebungkus. Nyam… kok enak, ada rasa kenyal, kriuk bakwan yang gurih dan sambal kacang pedas. Beda sekali jika dibanding salome, jajanan khas Balikpapan itu. Harganya lebih murah. “Lima ribu saja,”ujarnya.

Sehari-hari ia mangkal di depan Koramil Rapak Balikpapan. “Mulai pagi, tapi setelah dhuhur pindah tempat,” tuturnya. Menurutnya, keuntungan yang diperoleh sehari kurang lebih 150 ribu. “Ya, kalau ramai Alhamdulillah bisa lebih dari itu,” ujar istrinya (48) menambahkan.

Baca juga:  Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!

Mendengar panggilan panitia festival dari pengeras suara, ia pun pamit pada istrinya melayani pembeli, menuju belakang masjid untuk berganti pakaian. Dengan gamis dan peci putih, ia muncul dari ruang ganti dengan senyum mengembang. Tampak kontras dengan kulit tubuhnya yang coklat gelap dan mengkilap.

Menuju tempat lomba berlangsung, ia duduk menjadi salah satu juri murottal untuk anak-anak usia dini dan remaja. “Alhamdulillah, anak saya juara satu murottal, juara satu qiroat, dan juara bla bla bla…,” ujarnya bangga, seusai festival.

Subhanallah. Semoga Allah paring tambah barokah. Aamiin.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *