Ilustrasi. Sumber: mediaindonesia.com
KRISIS belajar selama pandemi Covid-19 dua tahun belakangan ini menjadi perhatian pemerintah dan pemerhati pendidikan. Pasalnya, rendahnya hasil belajar peserta didik, bahkan literasi membaca dinilai sangat rendah. Krisis belajar juga ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang lebar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi.
Kurikulum Merdeka dirancang pemerintah sebagai bagian dari upaya Kemendikbudristek untuk mengatasi krisis belajar tersebut. Selama dua tahun ke depan, Kurikulum Merdeka akan terus disempurnakan berdasarkan evaluasi dan umpan balik dari berbagai pihak.
Memang, kurikulum memiliki pengaruh besar pada apa yang diajarkan oleh guru. Dengan kurikulum, guru akan terbantu bagaimana materi tersebut diajarkan. Tapi, kurikulum tidak bisa berdiri sendiri.
Kurikulum butuh penguatan kapasitas guru, dosen, kepala sekolah, pimpinan perguruan tinggi, dan pendampingan bagi pemerintah daerah, penataan sistem evaluasi, serta infrastruktur dan pendanaan yang adil.
Perubahan menuju Kurikulum Merdeka ini diperlukan sebagai salah satu upaya menyelesaikan krisis pembelajaran. Apabila tidak segera ditangani, maka akan menguatkan adanya anggapan bahwa schooling ain’t learning: bersekolah, tapi tidak belajar.
Istilah “sekolah, tapi tidak belajar” ini sudah sering didengar orang. Tapi, pada kenyataannya masih banyak praktik dan implementasi hasil dari sekolah tidak diterapkannya di kehidupan nyata.
Misalnya, banyak orang tahu merokok itu tidak sehat dan merusak. Tapi, mereka tetap saja merokok. Mereka punya standar ganda. Punya alasan sendiri bahwa merokok itu baik untuk dirinya, tetapi tidak untuk orang lain, terutama untuk anak dan istrinya.
Misalnya lagi, banyak orang ngebut di jalan raya atau di jalan perkampungan sehingga membahayakan orang lain. Tapi, tetap saja mereka melakukannya, bahkan berbuat semena-mena. Seolah dirinya adalah orang yang sangat berkuasa di muka bumi ini.
Bukankah, kedua hal tersebut, merokok dan ngebut di jalan raya, pernah diajarkan bapak ibu guru kita semasa sekolah?
Masih ingatkah bapak ibu guru pernah mengajari kita agar tidak merokok karena bisa menyebabkan batuk, gangguan pernafasan, dan merusak paru-paru?
Masih ingatkah kita pernah diajari bapak ibu guru kita agar tertib berlalu lintas di jalan raya demi keselamatan diri dan orang lain?
Tentu saja ada banyak pelajaran yang telah diajarkan oleh bapak ibu guru di masa sekolah. Kini, pendidikan dan pengajaran terus berkembang dan semakin maju. Pembelajaran dan cara belajar pun mengikuti perkembangan zaman menggunakan teknologi.
Buku ini saya unduh dari perpustakaan nasional yang disebarkan melalu jejaring sosial. Disebutkan bahwa Indonesia bukan hanya berjuang dalam menghadapi learning loss dan learning gap akibat pandemi. Sebelum pandemi pun sebenarnya juga mengalami krisis pembelajaran.
Semoga bermanfaat.
Kajian_Pemulihan