Di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, punya tradisi kuat dalam mengadopsi dan mempopulerkan istilah-istilah Arab ke dalam konteks budaya sehari-hari.
“Marhaban ya Ramadhan” menjadi sangat masif digunakan, terutama di era media sosial dan digital, sebagai bentuk ekspresi kolektif kegembiraan menyambut bulan puasa .
Ungkapan ini kemudian semakin kaya makna berkat para cendekiawan, seperti Prof. Quraish Shihab, yang memberikan tafsir mendalam.
Beliau memaknai “Marhaban ya Ramadhan” tidak hanya sebagai sambutan, tetapi juga sebagai momentum untuk berhenti sejenak, memperbaiki diri, dan mengambil bekal spiritual untuk perjalanan panjang menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makna filosofis inilah yang membuatnya begitu relevan dan bermakna bagi umat Islam saat ini.
Kata “Marhaban” (مَرْحَبًا) secara etimologi berasal dari akar kata rahuba (رَحُبَ) yang berarti luas, lapang.
Dalam tradisi Arab kuno, ungkapan ini lazim digunakan untuk menyambut seorang tamu.
Maknanya lebih dalam dari sekadar “selamat datang”; ia mengisyaratkan, “Kami menyambutmu dengan hati yang lapang dan tempat yang luas, sehingga engkau merasa seperti di rumah sendiri”
Kata “Ramadhan” (رَمَضَان) sendiri, menurut beberapa sumber, berasal dari akar kata ar-ramdu (الرَّمْضَاء) yang berarti panas yang menyengat.
Penamaan ini konon karena bulan ke-9 dalam kalender Arab kuno sering jatuh pada musim panas yang terik. Dalam konteks spiritual, “panas” ini kemudian dimaknai sebagai sensasi lapar dan dahaga saat berpuasa, atau sebagai “pembakar” dosa-dosa.
Jadi, secara bahasa, menggabungkan “marhaban” (sambutan lapang) dan “Ramadhan” (bulan panas/ pembakar dosa) adalah ciptaan yang alami dalam khazanah bahasa Arab.
Meskipun lafaz “Marhaban ya Ramadhan” tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an atau Hadis, semangat di baliknya sangat dianjurkan dalam Islam. Inilah yang menjadi “ruh” atau jiwa dari ucapan ini.
Kegembiraan Menyambut Ramadhan
Para ulama merujuk pada hadis yang menceritakan bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita, bahkan telah mempersiapkannya sejak bulan Rajab dan Sya’ban dengan doa:
“Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan) (HR. Ahmad).
Semangat inilah yang ingin diwujudkan dalam ucapan “Marhaban ya Ramadhan“.
Kabar Gembira
Ada pula hadis yang menganjurkan untuk menyebarkan kabar gembira datangnya bulan mulia ini, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah…” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).
Ucapan selamat datang adalah bentuk paling nyata dari kabar gembira tersebut.
Memasuki Ramadhan
Ada doa ketika memasuki bulan Ramadhan yang diamalkan oleh para ulama salaf yang shaleh karena maknanya yang luhur. Doa ini diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dalam kitabnya yang monumental, Kitab Ad-Du’a’ (no. 912). Sanadnya (rantai periwayatan) dari Ath-Thabrani sampai kepada sahabat Nabi, ‘Ubadah bin Ash-Shamit RA, adalah sebagai berikut:
Hafsh bin ‘Umar bin Ash-Shabbah Ar-Raqqi meriwayatkan dari Khalaf bin Al-Walid Al-Jauhari yang meriwayatkan dari Abu Ja’far Ar-Razi (‘Isa bin Abi ‘Imran Mahan) yang meriwayatkan dari Abdul ‘Aziz bin ‘Umar bin Abdul ‘Aziz yang meriwayatkan dari Shalih bin Kaisan bahwa ‘Ubadah bin Ash-Shamit RA berkata: “Rasulullah SAW mengajarkan kalimat-kalimat ini kepada kami ketika Ramadhan tiba, hendaknya salah seorang dari kami membaca: …”:
أللهمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
Latin:
Allahumma sallimni min ramadhana, wa sallim ramadhana li, wa tasallamhu minni mutaqabbalan
Terjemahan:
“Ya Allah, sampaikanlah aku dengan selamat (melewati bulan) Ramadhan, sampaikanlah (amalan) Ramadhanku untukku (dengan selamat), dan terimalah amal-amalku di dalamnya dengan penuh penerimaan.”
Syarah (Penjelasan) Makna Doa
Doa yang singkat ini sarat dengan makna yang mendalam dan menunjukkan tingginya adab seorang hamba kepada Allah SWT dalam menyambut tamu agung, bulan Ramadhan. Berikut penjelasan dari setiap frasanya:
“Allahumma sallimni min ramadhana” (Ya Allah, selamatkanlah aku di bulan Ramadhan). Frasa ini memiliki beberapa penafsiran. Imam Ath-Thabrani dalam Kitab Ad-Du’a’ menjelaskan bahwa ini bisa berarti memohon keselamatan dari berbagai penyakit dan uzur syar’i yang dapat menghalangi seseorang untuk beribadah di bulan Ramadhan.
Doa ini juga bisa dimaknai sebagai permohonan agar diberikan kekuatan untuk melaksanakan ibadah puasa dan amalan lainnya dengan selamat dari hal-hal yang dapat merusak pahala, seperti perbuatan sia-sia dan maksiat.
“Wa sallim ramadhana li” (dan selamatkanlah (amalan) Ramadhanku untukku). Setelah memohon keselamatan fisik untuk bisa menjalani Ramadhan, frasa kedua ini adalah permohonan agar ibadah yang dilakukan selama bulan tersebut diterima dan diselamatkan oleh Allah dari segala bentuk riya’ (pamer), ujub (bangga diri), atau noda yang dapat menghapus pahala.
Dengan kata lain, kita memohon agar Ramadhan yang kita lalui menjadi berkah dan membawa kebaikan untuk kehidupan kita di dunia dan akhirat.
“Wa tasallamhu minni mutaqabbalan” (dan terimalah amal-amalku di dalamnya dengan penuh penerimaan). Frasa terakhir ini merupakan puncak dari rangkaian doa. Setelah memohon kekuatan untuk beribadah dan keselamatan amal, kita memohon kepada Allah agar menerima semua amal ibadah kita di bulan yang mulia tersebut.
Kata mutaqabbalan (diterima) adalah harapan tertinggi seorang mukmin, karena amal yang diterima adalah amal yang akan menjadi bekal di akhirat kelak .
Secara keseluruhan, doa ini adalah permohonan yang komprehensif: memohon keselamatan untuk mencapai Ramadhan, memohon keberkahan selama di Ramadhan, dan memohon penerimaan amal setelah Ramadhan berlalu.