Untuk memastikan server dalam kondisi stabil, saya memantau lewat htop. Foto: dok. pribadi
Baru saja saya menyelesaikan koreksi ujian akhir semester Ganjil 2025/2026. Di depan layar, saya tidak hanya melihat baris-baris perintah PHP, struktur SQL, dan tangkapan layar (screenshot) hasil eksekusi program. Lebih dari itu, saya melihat “jejak” cara berpikir, perjuangan, dan yang paling penting pilihan integritas.
Di era kecerdasan artifisial (AI) generatif yang mudah didapat, seperti ChatGPT atau Deepseek, jawaban ujian dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Padahal, sudah terang ujian bersifat closed-book (tutup buku) dan tutup internet. Ini bukan sekadar teknis, melainkan ujian karakter.
Untuk itu, saya siapkan perangkat di lab khusus untuk keperluan itu. Tetapi, ada satu kelemahan, yakni perangkat Wifi setiap PC dapat dinyalakan. Tentu, kelemahan ini bisa memicu karakter asli mereka berbuat curang, kecuali yang menjaga integritas, tetap jujur.
Disini, saya ingin membagikan beberapa catatan penting dari hasil koreksi ini agar menjadi pelajaran bagi perjalanan mereka sebagai calon Software Engineer, yang jujur.
1. Kode Manusia vs Mesin
Banyak yang bertanya, “Bagaimana dosen tahu saya menggunakan AI?” Jawabannya sederhana: Kode itu memiliki “aura”.
Mahasiswa yang koding secara manual memiliki ciri khas yang sangat manusiawi: CSS yang sederhana namun fungsional, komentar kode yang pendek dan praktis, serta pilihan variabel yang terkadang tidak sempurna namun konsisten dengan alur pikirnya.
Sebaliknya, hasil generate AI seringkali “terlalu sempurna” namun hampa konteks. Saya menemukan mahasiswa yang menyertakan ratusan baris CSS estetis dengan kode warna Hex yang sangat spesifik (seperti #f4f7f6).
Secara logika, mustahil menghafal ratusan baris desain seperti itu dalam ujian satu jam tanpa referensi. Namun, yang paling fatal adalah Halusinasi AI.
Saya menemukan mahasiswa yang mengumpulkan kode untuk sistem buku tamu, tetapi di dalamnya muncul tabel karyawan yang tidak pernah ada di soal. Mengapa? Karena ia menyalin mentah-mentah hasil AI tanpa membacanya terlebih dahulu, takut ketahuan.



Berikut ini saya sertakan kunci jawaban koding salah satu soal (karena soal berbeda-beda) ala manusia, sederhana, tapi logis, bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 jam menulis biasa tanpa AI sama sekali. Ini seperti Live Coding saat materi kuliah disampaikan di kelas praktikum.
Contoh Kunci Jawaban PWEB2. Jebakan “Instruksi” yang Terlupa
Salah satu temuan paling ironis adalah ketika mahasiswa menyertakan komentar seperti:
// Sesuaikan dengan nama database Anda.
Komentar ini adalah kalimat perintah dari AI kepada penggunanya. Ketika kalimat ini tetap ada di lembar jawaban Anda, itu adalah pengakuan diam-diam bahwa Anda tidak sedang menulis kode, melainkan hanya sedang menjadi “kurir” pesan dari mesin ke kertas ujian.
Seorang programmer adalah seorang arsitek logika, bukan sekadar tukang ketik yang tidak paham apa yang diketiknya.
3. Pentingnya Bukti Eksekusi
Mengapa saya memberikan nilai minimal (10) bagi yang tidak menyertakan tangkapan layar (screenshot) hasil eksekusi? Karena dalam dunia profesional, kodingan yang tidak bisa dibuktikan jalannya (running) adalah kodingan yang mati.
Screenshot jalannya program dan dump database adalah bukti bahwa Anda telah bergelut dengan localhost, memperbaiki error, dan memastikan sistem tersebut hidup.
Mahasiswa yang hanya mengumpulkan teks kode tanpa bukti visual, seolah-olah sedang memberikan janji tanpa bukti.
Dalam pemrograman, “It works on my machine” adalah sebuah pencapaian, tetapi “It only exists as text” adalah sebuah kegagalan.
4. Rayuan “Jalan Pintas” yang Menyesatkan
AI adalah alat yang luar biasa, namun ia bisa menjadi racun jika digunakan sebagai pengganti proses berpikir. Jika Anda terbiasa menggunakan “jalan pintas” di ruang ujian, Anda sedang membangun fondasi karier di atas pasir.
Dunia industri tidak butuh orang yang hanya jago membuat prompt AI. Mereka butuh orang yang paham mengapa sebuah query INNER JOIN bisa lambat, mengapa session tidak terbaca, atau bagaimana mengamankan input dari SQL Injection.
Semua “insting” itu hanya bisa didapat dengan satu cara: Menulis kode sendiri dan bertemu dengan error. Sekali lagi, harus bertemu dengan error. Jangan takut error karena error itu pelajaran. Dan, pelajaran berharga itu wajib dicoba, bukan melulu disuapi dosen.
5. Pintu Selalu Terbuka
Bagi Anda yang mendapatkan nilai tinggi saat ini, saya bangga. Kode Anda mungkin sederhana, CSS Anda mungkin hanya garis hitam putih, tapi itu adalah hasil keringat pemikiran Anda sendiri. Itulah modal awal menjadi programmer hebat.
Hanya saja, dosen hanyalah manusia biasa yang sering lelah dan salah. Bisa jadi, Anda kali ini lolos dari pemeriksaan AI. Itu bisa jadi Anda sudah paham caranya ‘mengelabui’ dosen. Tapi, soal kejujuran, tetap ada dalam diri Anda sendiri.
Bagi Anda yang mendapatkan nilai rendah karena indikasi AI atau manipulasi berkas, saya memberikan tantangan terbuka: Pintu ruangan saya selalu terbuka untuk ujian ulang secara langsung (Live Coding).
Dengan begitu, baris-baris kode yang Anda tulis itu memang berasal dari kepala Anda, bukan dari mesin AI. Tetapi, tentu saja bukan semester ini. Mungkin semester depan atau semester pendek saja. Karena semester ini tugas saya sudah selesai.
Mari kita jadikan ujian ini sebagai titik balik. Belajarlah untuk mencintai proses “pusing” saat mencari titik koma yang hilang, karena di situlah otak Anda sedang berkembang. AI adalah asisten kita, tapi tetaplah Anda yang menjadi tuannya.
Selamat belajar, tetaplah jujur, dan teruslah ngoding!