Pemilihan sekaligus pelantikan Ketua RT. dok. pribadi
PEKAN lalu saya diundang untuk hadir di acara pelantikan Ketua Rukun Tetangga (RT) pada Jumat, (5/9). Pak RT kembali secara resmi dikukuhkan untuk memimpin warga masa bakti 2025-2030, setelah terpilih secara aklamasi.
Entah, saya ingat, pak RT sudah keberapa kalinya menjabat. Mungkin sudah lebih dari 15 tahun yang lalu, ketika saya pertama kali mengurus kepindahan.
Meski pemilihan ketua RT sebelumnya sudah pernah saya ikuti, tapi kali ini saya ingin membuat catatan. Mudah-mudahan berguna.
Pelantikan ini lebih dari sekadar seremonial. Hal ini lantaran menjadi panggung edukasi dan sosialisasi tentang peran vital seorang Ketua RT sebagai motor penggerak kemajuan di tingkat lingkungan terkecil.
Kita tentu ingat sejarah ketua RT. Dulu, zaman kolonial Jepang, namanya adalah Tonarigumi dan Azazyookai, yang masing-masing berarti rukun tetangga dan rukun kampung.
Fungsinya untuk memobilisasi dana dan daya penduduk demi kepentingan serta pemenuhan kebutuhan Jepang untuk memenangkan perang Asia Pasifik.
Seorang peneliti meyakini, jauh sebelum Jepang hadir di Nusantara pada 1943, telah terdapat perkumpulan atau paguyuban sosial seperti sinoman, pralenan dan sebagainya, yang mirip dengan Tonarigumi.
Kemiripan ini menjadikan Tonarigumi mudah diterima masyarakat Indonesia sebagai sebuah institusi sosial. Kemudian diadaptasi setelah Indonesia Merdeka menjadi Rukun Tetangga (RT) sampai sekarang.
Kini, momen pemilihan ketua RT ini seperti menggarisbawahi sebuah pencerahan: peran Ketua RT telah bergeser dari sekadar figur administratif menjadi pemimpin yang melayani, berkolaborasi, dan memberdayakan warganya.
Tidak heran, pak RT akhirnya terpilih lagi, lagi, dan lagi, melebihi jabatan seorang presiden yang maksimal dua periode saja. Gak boleh lebih, apalagi… ups… stop sampai di sini.
Ketua RT itu Pelayan, Bukan Bos
Pesan kuat ketua RT bukan bos ini disampaikan sendiri oleh Ibu Sekretaris Lurah dalam sambutannya. Ia menekankan, seorang Ketua RT adalah penanggung jawab pelayanan masyarakat yang harus terus berkoordinasi aktif dengan warganya.
“Saya hanya mempertegas sekali, mempertegas supaya tetap berkoordinasi dengan warga,” ujarnya. “Pak RT ini adalah seorang pemimpin wilayah yang melayani warganya, mendengarkan warganya. Bukan bos.”
Pernyataan ini menjadi sarana edukasi bagi seluruh warga yang hadir. Ketua RT diposisikan sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat, yang harus mampu menjelaskan kebijakan secara tegas dan jelas.
Keberhasilan pak RT tidak diukur dari jabatannya, melainkan dari kemampuannya merangkul partisipasi warga dalam setiap kegiatan, mulai dari kerja bakti hingga menjaga kebersamaan melalui silaturahmi.
“Pak RT tidak bisa bekerja sendirian, tetapi membutuhkan partisipasi daripada Bapak Ibu sekalian,” tambah Ibu Sekretaris Lurah, memperkuat esensi gotong royong sebagai kunci kemajuan lingkungan.
Tantangan Infrastruktur dan Solusi Gotong Royong
Dalam sambutannya setelah dilantik, pak RT tidak hanya mengucapkan terima kasih, tetapi juga secara transparan mensosialisasikan tantangan nyata yang dihadapi lingkungan RT.
Salah satu kendala utama adalah proses transisi aset dari pihak pengembang (developer) ke Pemerintah Kota yang belum tuntas.
“Yang kita hadapi itu adalah proses transisi dari developer kepada pemerintah kota. Jadi aset kita sampai saat ini masih ‘ngambang’. Developer tidak membantu, pemerintah tidak bisa masuk juga,” ungkap pak RT.
Kondisi ini, jelasnya, menghambat perbaikan sarana vital seperti jalan dan Penerangan Jalan Umum (PJU), karena legalitas aset yang belum jelas membuat pemerintah tidak bisa mengalokasikan anggaran.
Menghadapi tantangan ini, pak RT tidak tinggal diam. Lebih dari 5 tahun yang lalu, bersama warga bergotong royong melakukan semenisasi jalan. Saya pun ditarik dana untuk mengecor jalan. Langkah ini, menurut saya, sangat tepat.
Pada kesempatan ini, pak RT kembali menawarkan solusi berbasis kekuatan komunitas. Ia mengusulkan “iuran lingkungan dan sosial” yang bertujuan untuk kemandirian warga, terutama dalam menghadapi musibah.
“Sehingga ketika saudara kita yang mendapatkan kesusahan, itu duduk manis saja. Semua dananya, untuk biaya pemakaman, kita tanggung bersama nanti,” gagasnya. Ini adalah bentuk nyata dari solidaritas sosial yang harus dibangun dari, oleh, dan untuk warga.
Mengajak Emak-Emak Bergerak
Sebagai penutup, pak RT secara khusus mengajak para ibu atau “emak-emak” di lingkungannya untuk menjadi motor penggerak utama. Ia melihat bahwa partisipasi aktif kaum ibu seringkali menjadi kunci suksesnya kegiatan di lingkungan.
“Biasanya yang bergerak itu emak-emak. Kalau emak-emaknya kumpul, bapaknya ikut. Gampang kata orang emak-emak,” selorohnya yang disambut hangat warga.
Pelantikan ini menjadi momentum penting bagi warga. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan bersama. Seorang Ketua RT tidak berjalan di depan, tetapi berjalan bersama warganya.
Dengan edukasi peran yang jelas, sosialisasi tantangan yang transparan serta penguatan semangat gotong royong, lingkungan RT siap menyongsong masa depan yang lebih maju, aman, dan sejahtera, insyaAllah.