Mahasiswa antre makan gratis di Undip Semarang, Rabu (7/9).
“Alhamdulillah, makan gratis hari ini,” tulis ibunya si sulung di pesan WhatsApp, Rabu (7/9) kemarin.
Membaca pesan itu, saya bingung ada apa dengan makan gratis?
Ibunya si sulung hanya mengirim foto baris-baris kursi, pemuda pemudi berbaris, dan foto isi nasi bungkus. Ada sendok plastik, nasi, ayam goreng tepung, oseng-oseng wortel dan kacang panjang.
Siang itu saya masih telat mikir, ada apa sih? Maklum, saya lagi konsentrasi mengetik menyusun sebuah laporan yang butuh segera dipublikasikan. Halah…
Saya kemudian ingat, pekan lalu saya memberitahu si sulung kalau saja ada informasi pembagian makanan gratis di kampus. Isi surat menyebutkan pembagian makanan bergizi dalam rangka layanan kesejahteraan dan bantuan kepada mahasiswa yang terdampak Kopit Sembilan Belas.
Pembagian berlangsung hanya dua hari dalam satu pekan, yakni setiap hari Selasa dan Rabu, bertempat di FPIK dan Student Center. Saya tahu lokasi ini. Pastinya, kalau si sulung pulang pergi kuliah lewat depan FPIK bisa mampir ambil makan gratis sekalian. Kan lumayan… wkwkwk…
Sebenarnya saya tidak yakin si sulung mau ikut mengantre. Apalagi bila merasa dirinya wanita, biasa canggung atau malu, walau sekadar mengantre makanan gratis. Tapi, kadang saya mengingatkan dia jangan karena merasa wanita, terus kemudian mundur dan tidak melakukan apa-apa.
“Itu namanya mental blok, Nak. Hindari mental blok. Kamu punya kesempatan belajar yang sama sebagaimana yang lain,” dorong saya.
Ternyata betul. Si sulung ikut mengantre makanan gratis bersama teman-temannya. Dia lalu membawanya pulang dan dimakan di kamar kosnya. Mungkin masih malu makan bareng langsung di tempat. Hehe…
Dia kemudian mengirimkan foto sisa nasi yang tak habis dimakannya. Tampaknya, sebungkus nasi itu cukup membuat dirinya kenyang.
Saya lihat foto itu sepertinya nasinya cukup pulen, sepertinya enak. Itu yang membuat saya ikut menjadi lapar, walaupun cuma dapat lauk ikan tempe satu biji sekalipun, misalnya, ngarep… Wkwkwk…
“Katanya dosennya juga ikut dapat makanan, tapi prasmanan,” tulis Ibunya si sulung.
“Mungkin juga ikut perbaikan gizi kali?” tulisnya lagi diikuti emotikon tertawa. ?
Saya tidak tahu pekan depan apakah si sulung kembali ikut mengantre makanan gratis lagi atau tidak. Kabarnya, ada mahasiswa yang kembali terkena Kopit sehingga kuliah tatap muka sementara diganti daring selama satu pekan.
Beberapa temannya punya kesempatan untuk pulang kembali ke kampung halamannya. Ada yang ke Jakarta, ke kota atau ke daerah yang dekat dengan kampusnya. Dia tampaknya tergoda untuk ikutan pulang beberapa hari.
Tapi, dia sadar untuk pulang tidak lah mudah. Saya menduga mungkin sudah pernah merasakan perjalanan jauh beberapa hari yang lalu sehingga tahu artinya sebuah effort.
Semoga kamu berhasil ya, Nak. Doa ayah semoga Allah paring perlindungan penjagaan selalu aman selamat lancar sukses dan barokah. Aamiin