Hutan Sumatera Lenyap. Foto: kompas.id
HARIAN Kompas (12/12/2025) merilis data yang bukan hanya menyedihkan, tapi juga menakutkan. Hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah lenyap seluas 1,2 juta hektar dalam tiga dekade terakhir. Bayangkan, setiap hari, hutan seluas 139 lapangan sepak bola hilang dari muka bumi Sumatra.
Akibatnya fatal. Bencana banjir dan longsor meningkat lima kali lipat dalam lima tahun terakhir. Ribuan nyawa melayang, ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Bagi kita yang tinggal di luar Sumatra, khususnya kita di Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Tengah, atau Sulawesi, berita tersebut bukanlah sekadar kabar duka dari pulau tetangga. Ini adalah cermin masa depan kita. Jika kita tidak berbenah sekarang, nasib kita tidak akan jauh berbeda.
Apa yang terjadi di Sumatra adalah “cetak biru” bencana yang sedang terjadi di daerah kita. Laporan Kompas menyebutkan penyebab utama hilangnya hutan di sana adalah alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit, pertambangan, dan hutan tanaman industri (HTI).
Terdengar akrab, bukan?
Di Kalimantan Timur, kita dikepung oleh lubang tambang batubara dan hamparan sawit yang tak berujung. Di wilayah ibu kota baru dan penyangganya, pembangunan infrastruktur (urbanisasi) sedang dikebut.
Data Kompas menunjukkan bahwa di Padang Pariaman, alih fungsi hutan menjadi kawasan perkotaan menyumbang kerusakan besar. Ini adalah peringatan keras bagi pembangunan IKN dan kota penyangga seperti Balikpapan dan Samarinda: Pembangunan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan adalah bunuh diri ekologis.
Mengapa Hutan Itu Vital?
Mungkin kita sering bertanya, “Kenapa kalau hutan hilang, banjir pasti datang?”
Peneliti UGM, Hatma Suryatmojo, menjelaskan dengan sederhana dalam laporan tersebut. Hutan berfungsi sebagai “spons” raksasa.
- Kanopi Pohon: Menahan 35% air hujan agar tidak langsung menghantam tanah.
- Akar dan Tanah Hutan: Menyerap 55% air hujan ke dalam tanah (infiltrasi).
Ketika hutan diganti dengan tambang atau beton, fungsi spons itu hilang. Air hujan 100% meluncur bebas di permukaan tanah, membawa lumpur, dan menghantam pemukiman di hilir. Inilah yang menyebabkan banjir bandang makin sering terjadi, bahkan saat hujan belum terlalu lama turun.
Jangan Terkecoh Peta “Hijau”
Salah satu temuan paling mengejutkan dari investigasi Kompas adalah manipulasi tata ruang. Di peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), suatu daerah mungkin diberi warna hijau (Hutan Lindung). Tapi faktanya? Di lapangan sudah berubah menjadi tambang atau kebun sawit.
Kompas menemukan peruntukan lahan sejumlah lokasi terdampak banjir terindikasi tak sesuai RTRW. Salah satunya peruntukan hutan lindung di Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, yang sekarang menjadi area pertambangan.
Di Kalimantan dan daerah lain, praktik ini juga rawan terjadi. Hutan lindung di atas kertas, namun gundul di kenyataan. Kita sebagai warga sering kali terlena karena melihat peta yang “aman”, padahal bencana sedang mengintip.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Kita tidak bisa hanya diam menunggu air bah masuk ke rumah kita. Sebagai warga negara yang cerdas, ada tiga hal yang harus kita lakukan mulai hari ini:
- Kawal Tata Ruang (RTRW) Daerah Kita
Jangan buta peta. Cek status lahan di sekitar tempat tinggal Anda. Apakah daerah resapan air di hulu Samarinda atau Balikpapan masih hutan atau sudah jadi tambang? Jika ada aktivitas mencurigakan di kawasan yang seharusnya hutan lindung, viralkan dan laporkan. - Kritis Terhadap Izin Baru
Sumatra mengajarkan kita bahwa rehabilitasi (menanam kembali) itu kalah cepat dibanding deforestasi (perusakan). Menanam pohon butuh 5-6 tahun untuk tumbuh, sementara menebang hutan hanya butuh hitungan hari. Maka, mencegah izin pembukaan lahan baru di hutan primer jauh lebih efektif daripada memperbaiki yang sudah rusak. - Siaga Bencana Sebagai Gaya Hidup
Cuaca ekstrem bukan lagi anomali, tapi “normal baru”. Perbaiki drainase di lingkungan rumah, jangan menutup seluruh halaman rumah dengan semen (biarkan tanah menyerap air), dan selalu pantau peringatan dini cuaca.
Penutup
Tangisan dari Sumatra adalah peringatan keras bagi Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Hutan Sumatra yang lenyap telah “membalas” dengan air mata dan bencana. Jangan sampai kita di Kalimantan Timur menunggu giliran yang sama.
Kita sedang membangun masa depan, tapi jangan sampai kita membangun kuburan kita sendiri dengan merusak alam yang melindungi kita. Jaga hutan kita, sebelum ia tak bisa lagi menjaga kita.