Saat charging baterai di SPKLU Kaltimra, Jalan MT Haryono Balikpapan. Gunakan aplikasi PLN Mobile. Foto: dok. pribadi
DALAM dua pekan ini saya beralih menggunakan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), untuk aktivitas harian. Dalam waktu yang relatif singkat, perubahan pola penggunaan kendaraan langsung terasa signifikan.
Yang paling sederhana: saya tidak lagi antre BBM setiap pekan. Sebagai gantinya, saya melakukan charging baterai sekitar 2-4 kali dalam seminggu.
Jika rute lebih jauh, kondisi macet, atau aktivitas mondar-mandir seperti ojek harian, intensitas pengisian bisa lebih dari empat kali. Apalagi kondisi jalan di kota yang naik-turun perbukitan juga cukup memengaruhi konsumsi baterai.
Soal Jarak Tempuh dan Baterai
Berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan Tyranno, baterai 100 persen mampu menempuh jarak lebih dari 70 km. Secara kasar, setiap penurunan 1 persen baterai setara dengan jarak kurang dari 1 km. Tentu saja, ini sangat bergantung pada:
- Kondisi jalan (datar atau menanjak)
- Beban kendaraan (boncengan atau tidak)
- Gaya berkendara
- Kemacetan
Artinya, klaim jarak tempuh pabrikan (110 km) memang realistis selama kita memahami variabel penggunaannya.
Apakah Kuat Menanjak?
Ini pertanyaan yang paling sering saya terima.
Saya sudah mengujinya hampir setiap hari karena memang rute harian melewati tanjakan. Hasilnya cukup mengejutkan. Performa motor listrik ini terasa lebih responsif dibandingkan motor bensin kelas sejenis, terutama saat:
- Menanjak dengan boncengan
- Akselerasi awal di tanjakan
- Kecepatan stabil di jalan menanjak
Torsi instan dari motor listrik benar-benar terasa. Selain itu, sensasi berkendara jauh lebih senyap dan halus. Tidak ada getaran mesin dan suara knalpot.
Dari sisi teknologi, fitur-fiturnya juga cukup lengkap: mode kecepatan, kontrol saat turunan, bahkan fitur mundur. Secara pengalaman pengguna, ini terasa seperti naik kelas.
Ubah Pola Kebiasaan Lama
Foto di atas saat saya berada di stasiun pengisian kendaraan listrik di SPKLU PLN Kaltimra, Jalan MT Haryono Balikpapan. Motor listrik saya terparkir rapi, kabel terpasang, dan layar aplikasi menunjukkan status: Charging Partial Completed (pengisian dihentikan sebelum kuota habis).
Angkanya sederhana: saya membeli 3,00 kWh, tetapi yang terpakai hanya 0,86 kWh. Sisanya? Otomatis dikembalikan ke saldo.
Kelihatannya sepele. Hanya 0,86 kWh. Tapi justru dari angka kecil itulah saya melihat sesuatu mengubah pola kebiasaan.
Selama bertahun-tahun menggunakan motor bensin, pola saya jelas: tunggu hampir habis, antre di SPBU, isi penuh, bayar, selesai. Polanya linear dan jarang berubah.
Sekarang, motor listrik mengubah kebiasaan itu. Saya tidak lagi menunggu “hampir kosong”. Saya justru sering melakukan top-up kecil. Hari itu pun begitu. Saya hanya butuh tambahan daya sedikit, bukan isi penuh. Dan sistem mengizinkan itu.
Saya membeli 3 kWh, tapi hanya menggunakan 0,86 kWh, sekitar 29% dari kuota. Biaya pemakaian tercatat Rp 2.333,57. Sisanya, lebih dari Rp 5.800, dikembalikan otomatis. Ini jelas transparan. Real-time. Tanpa debat sampai pengadilan Mahkamah Konstitusi.
Jika tarif pengisian publik sekitar Rp 2.700 per kWh, maka 0,86 kWh hanya bernilai dua ribuan rupiah. Dengan konsumsi rata-rata motor listrik kurang lebih 15 km per kWh, tambahan daya itu bisa memberi jarak kurang lebih 15 km. Ini jarak antara rumah dengan kampus pergi pulang (roundtrip).
Bagi pengguna bensin, 15 km mungkin terasa tidak signifikan. Tapi dalam konteks mobilitas harian antar anak-istri, ke sekolah, ke kampus, ke kantor, ke warung, itu cukup.
Motor listrik bukan cuma soal mesin tanpa knalpot. Ia membawa perubahan pola pikir:
- Dari “isi penuh” menjadi “isi secukupnya”.
- Dari energi berbasis liter menjadi berbasis kWh.
- Dari transaksi fisik menjadi digital.
- Dari antre di SPBU menjadi charging di berbagai titik, bahkan di rumah saja.
Kita perlahan belajar bahwa energi itu fleksibel. Bisa dicicil. Bisa dihitung presisi. Bisa dipantau dari layar ponsel.
Jadi, pola motor bensin itu isi ketika hampir habis. Pola motor listrik bisa jadi isi ketika ada kesempatan.
Kalau charging di rumah, jarak harian konsisten, infrastruktur publik (SPKLU jarang) belum terlalu rapat, maka selalu isi penuh tetap paling praktis dan ekonomis.
Tetapi kalau mobilitas tinggi antar lokasi (seperti ojek), jarak sering berubah, ingin menjaga kesehatan baterai jangka panjang, sudah terbiasa dengan ritme charging seperti ponsel, maka top-up kecil memberi fleksibilitas lebih tinggi.
Mengapa Saya Memilih Motor Listrik?
1. Faktor Kebutuhan Keluarga
Anak sulung menggunakan salah satu kendaraan untuk bekerja. Istri juga cukup aktif: belanja, beli gas, laundry, mengajar, dan berbagai aktivitas lain. Jarak tempuh mereka bahkan lebih jauh dibanding saya yang sebagian besar hanya ke kampus.
Artinya, kebutuhan mobilitas keluarga memang meningkat.
2. Lebih Hemat dan Bebas Antre BBM
Biaya BBM harian cukup terasa di pengeluaran bulanan. Belum lagi di kota kami, kelangkaan BBM bukan hal baru. Antrean bisa mengular hingga kilometer.
Berpindah ke EV menghilangkan satu sumber stres: antre BBM.
Biaya listrik untuk pengisian jauh lebih terkendali dan bisa dihitung dengan lebih presisi.
3. Rasa Ingin Tahu dan Perkembangan Teknologi
Sebagai pengajar Informatika, rasanya kurang pas jika gagap teknologi. Tapi alasan utamanya bukan sekadar tren, melainkan rasa ingin tahu.
Apakah EV benar-benar praktis untuk harian?
Apakah sekadar wacana atau sudah layak menjadi kendaraan utama?
Jawabannya, dari pengalaman saya: sudah sangat layak.
Tren EV di Kaltimra: Bukan Lagi Sekadar Wacana
Pengalaman pribadi saya ternyata selaras dengan data.
Sepanjang 2025, SPKLU yang dikelola PT PLN (Persero) UID Kaltimra mencatat 18.932 transaksi pengisian daya. Angka ini melonjak lebih dari 200 persen dibanding 2024 yang sekitar 5.489 transaksi.
Total konsumsi energi juga naik hampir empat kali lipat:
- 2024: 109.766 kWh
- 2025: 468.762 kWh
Jumlah SPKLU pun bertambah dari 71 unit menjadi 77 unit.
Di sepanjang jalan menuju tempat kerja, saya menjumpai dua SPKLU R2 dan satu untuk mobil. Untuk jarak jauh, beberapa pengguna EV menyebut sepanjang rute Balikpapan – IKN akan menemukan SPKLU R2.

Data ini menunjukkan satu hal: penggunaan EV di Kalimantan Timur dan Utara sudah masuk fase adopsi nyata, bukan lagi sekadar eksperimen.
Ketersediaan infrastruktur ini akan mengurangi range anxiety atau rasa cemas takut kehabisan daya di jalan. Mudah-mudahan, ke depan, PLN bisa berkolaborasi dengan berbagai instansi/perusahaan/sarana pemerintah terkait pengadaan SPKLU, termasuk di kampus dan sekolah.
Soal Lingkungan dan Isu Nikel
Saya sering menulis kritik soal lingkungan. Maka, rasanya kontradiktif jika tetap berkontribusi pada emisi gas buang tanpa mencoba alternatif yang lebih bersih.
Memang benar, baterai EV menggunakan nikel dan isu tambang nikel di Indonesia sering menjadi polemik. Ada kekhawatiran soal kerusakan lingkungan dan dampak kesehatan masyarakat.
Namun jika terjadi kerusakan, persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada tata kelola dan penegakan AMDAL. Di banyak negara, pertambangan bisa berjalan dengan standar lingkungan ketat.
Dalam kapasitas pribadi, saya memilih fokus pada apa yang bisa saya kendalikan: mengurangi emisi dari kendaraan harian.
Memanfaatkan Insentif Pemerintah
Ada juga faktor rasional lainnya: pajak kendaraan listrik jauh lebih murah, sekitar Rp35.000 per tahun. Beberapa daerah juga memberi fasilitas tambahan bagi kendaraan listrik.
Jika ada kebijakan yang mendorong transisi energi lebih bersih, mengapa tidak dimanfaatkan?
Kesimpulan Pribadi
Dua pekan mungkin belum cukup untuk menyimpulkan segalanya. Namun sejauh ini:
- Lebih hemat
- Lebih senyap dan nyaman
- Performa tanjakan memuaskan
- Tidak antre BBM
Selaras dengan semangat efisiensi dan lingkungan
Beralih ke EV bukan sekadar mengikuti tren, tetapi keputusan rasional berbasis kebutuhan, pengalaman, dan data.
Mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi “layak atau tidak?”, melainkan “kapan mulai mencoba?”