Menu


Sosialisasi Karir Jabatan Fungsional Dosen di Aplikasi Online Singkron
Momen bareng dosen-dosen PTS se-Kalimantan Timur dan Utara, Kamis (20/9). Foto: LLDikti Wilayah XI Kalimantan

Momen bareng dosen-dosen PTS se-Kalimantan Timur dan Utara, Kamis (20/9). Foto: LLDikti Wilayah XI Kalimantan

Alhamdulillah. Kamis (20/9) kemarin saya ikut sosialisasi sistem Singkron, singkatan dari Sistem Informasi Angka Kredit Online untuk seluruh Perguruan Tinggi Swasta di Kalimantan Timur dan Utara. Acara ini digelar oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, disingkat LLDIKTI, untuk Wilayah XI Kalimantan.

LLDikti ini dulunya bernama Kopertis, singkatan dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta. Sebelum bernama Kopertis pun, dulunya bernama LPTS, singkatan dari Lembaga Perguruan Tinggi Swasta. Yee… ternyata sudah dua kali ganti nama.

Saya jadi ingat, dulu pernah mengalami zamannya pembuatan NIRM, Nomor Induk Registrasi Mahasiswa. Dengan NIRM, mahasiswa berhak mengikuti Ujian Negara. Ujian Negara ini khusus untuk mata kuliah tertentu, dan yang menggelar Kopertis atau penguji yang ditunjuk negara. Kalau gagal atau belum ujian negara, maka sarjanamu gak kelar-kelar… πŸ˜€

So, ternyata dulu itu kuliah dan menjadi sarjana sangat susah dan lama banget, batasnya sampai 10 tahun. Saya dulu tahunya malah dari ayah saya, karena beliau dulu pernah berprofesi sebagai dosen swasta, selain profesi utama guru STM Negeri di Surabaya.

Oke deh. Kembali ke laptop…

Nah, tampaknya sosialisasi Singkron ini baru digelar di Indonesia untuk pertama kalinya, waow…

Menurut pak Prof Dr Ir Idianor Mahyudin, bahwa Kopertis XI, eh… LLDikti Wilayah XI Kalimantan ini satu-satunya yang punya sistem online. Maksudnya, program singkron ini yang punya hanya LLDikti Wilayah XI Kalimantan. Wilayah lain di Indonesia belum menggunakan Singkron ini.

Saya sendiri sepintas melihat program Sister yang dibuat Ristekdikti juga ada aplikasi untuk mengurus Jabfung atau Jabatan Fungsional ini. Saya belum melihat lebih jauh program Sister ini. Apalagi program Singkron.

Baca juga:  Stop! Jangan Buang Sampah Sembarangan!

Alasannya, klasik sih ya… sibuk… eh… ya, namanya juga alasan… πŸ˜›

Ya, bisa jadi sibuk beneran. Kalau masuk liburan sih biasa sibuk liburan, traveling, pokoknya diisi senang-senang saja bebas. Begitu masuk kerja, eh langsung diberondong tumpukan pekerjaan, ya administrasi lah, ya semester pendek lah, ya persiapan pendaftaran kuliah mahasiswa lah, ya bikin proposal penelitian lah, ya membuat laporan lah, ya pekerjaan ini dan itu lah… sampai-sampai kumis dan jenggot berantakan gak sempat dicukur… πŸ˜€

Terus terang, soal jabatan fungsional dari dulu sampai sekarang belum sempat saya urus. Sejak tahun 2005 jafung pertama keluar, belum diurus kenaikannya hingga sekarang. Ini berarti hingga sekarang sudah jalan 13 tahun. Ini lama banget. Ketuaan lagi…

β€œIni bukan persoalan sudah tua, bukan, masih muda, bukan, tapi ini persoalan hati untuk kerja,” kata pak Profesor Idianor, mendorong dosen-dosen yang hadir agar segera mengurus kepangkatannya. β€œIT (baca: aiti) bukan persoalan tua dan muda,” tambahnya.

Baiklah. Ada hal lain yang juga, menurut saya, menjadi pemicu mengapa dosen swasta lemah soal kepangkatan.

Soal kepangkatan, bagi dosen swasta, menurut saya, kurang greget jika dibanding dosen PNS yang memang karirnya dihitung dari kepangkatan dan kinerja.

Di swasta, tergantung dari perguruan tinggi yang menjadi home-base dosen tersebut. Mau pangkat tinggi atau rendah, tua atau muda, karirnya bisa sama saja dengan dosen yang baru lulus kuliah dan baru mengajar. Tidak ada istilah senior atau junior disana. Jelas sekali, semua dipandang sama. Saling menghargai. Saling menghormati. Tetap rukun, kompak, kerjasama yang baik.

Anda kalau jadi pimpinan bidang misalnya, disini, jangan sewenang-wenang memerintah bawahan di luar tugas-tugas yang seharusnya. Pimpinan atau atasan biasa membantu bawahan jika beban kerja berlebihan.

Baca juga:  Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!

Di swasta, mau kerja bagus, ada uang, gak mau kerja, hati-hati… surat peringatan tiba-tiba di atas meja, berisi laporan aktivitas dan sanksi menanti. Ingat. Tiga kali peringatan, dan keempatnya Anda bisa saja dikeluarkan dari pekerjaan. Sudah memakan korban jiwa. Nah loh… πŸ˜€

Nah. Kembali ke laptop lagi…

Setelah mengikuti sosialisasi ini, saya berusaha untuk mengumpulkan berkas persyaratan yang akan di-upload di aplikasi Singkron. Sayangnya, berkas persyaratan itu cukup berat. Salah satunya yaitu membuat jurnal mandiri, bukan sebagai angggota dan tanpa anggota, yang harus masuk jurnal terakreditasi nasional.

Karena waktu terus berjalan, maka data berkas-berkas yang kudu di-upload saat ini terhitung mulai tahun 2010. Kok bukan sejak 2005? Ya, itu juga bisa, tapi dokumentasi yang saya kumpulkan saat itu banyak yang tidak lengkap… πŸ˜›

Dari acara sosialisasi itu, ternyata teman-teman saya yang senasib jumlahnya cukup banyak. Disana ditemukan seorang dosen lain yang sejak 2006 belum memiliki jafung. Naudzubillahi min dzalik

Oke lah, mohon doanya ya, semoga saya bisa segera melengkapi berkas-berkas yang diperlukan untuk kenaikan pangkat. Kata Profesor Idianor, jafung itu menunjukkan mutu perguruan tinggi. Kalau ada dosen tetap yang tidak memiliki jafung dan NIDN, katanya, itu dosen ilegal. Berarti tidak boleh mengajar. Nah loh…

Ayo wisndang diurus jafungmu… semoga Allah paring lancar sukses barokah. Aamiin.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *