Menu


Muka Melas si Kucing Betina
Kucing betina ini setiap pagi menunggu di depan pintu rumah. Lihat ulahnya ini. Foto: dok. pribadi

Kucing betina ini setiap pagi menunggu di depan pintu rumah. Lihat ulahnya ini. Foto: dok. pribadi

Ini adalah kucing betina. Setiap pagi usai matahari terbit, dia selalu berada di depan pintu masuk rumah. Kadang sambil ‘mengeong’ memanggil orang yang ada di dalam rumah. Ulahnya ini sudah dia jalani setiap hari sejak sebelum masuk bulan puasa yang lalu. Kira-kira 3-4 bulan yang lalu.

Untuk apa kucing ini di depan pintu rumah?

Lha, mau apalagi kalau bukan untuk makan. Setelah pintu dibuka, dia pasang muka melas. “Makan…” begitu mungkin meongnya.

Ya, makan pagi dan sore. Kadang siang dia mampir. Makanannya pun apa saja yang saya punya. Kucing ini termasuk doyan sembarang kalir. Kadang tahu goreng, tempe, ikan, ayam, roti, atau apa saja yang saya makan saat itu. Ibunya anak-anak membelikan dia makanan khusus untuk kucing peliharaan.

Usai kenyang, dia pergi lagi. Kalau lapar, dia datang lagi. Persis di waktu dan tempat yang sama. Dia sudah mendapatkan pola makan. Saya pun tidak keberatan jika kucing ini datang. Malah dengan suka hati memberinya makan. Tapi saya tidak memeliharanya. Lebih suka membiarkan dia bebas.

Ibunya anak-anak juga kadang tidak membolehkan kucing ini masuk ke dalam rumah. Apalagi tidur di sofa. “Bulunya rontok Mas…” katanya.

Kucing ini pun makan seporsi. Jika tidak habis, dia tinggalkan dan dimakan kucing lainnya. Foto: dok. pribadi

Kucing ini pun makan seporsi. Jika tidak habis, dia tinggalkan dan dimakan kucing lainnya. Foto: dok. pribadi

Di awal pertama kali datang ke rumah, kucing ini dalam keadaan hamil. Setelah melahirkan, dia masih juga datang. Sendirian. Tidak pernah mengajak anak-anaknya. Kemungkinan anak-anaknya tinggal di rumah salah satu tetangga. Pernah saya melihat dia tidur di depan teras rumah tetangga. Saya menduga, mungkin dia tinggal disitu.

Baca juga:  Sosialisasi Karir Jabatan Fungsional Dosen di Aplikasi Online Singkron

Kucing ini termasuk bersih. Bulunya tampak terawat. Saya perhatikan, dia merawat sendiri tubuhnya. Setiap kali sambil menunggu di depan pintu, dia menjilati sendiri badannya. Mandi kucing sendiri. Ini dia tunjukkan setiap kali datang ke rumah saya.

Tapi, tampaknya dia juga menderita penyakit kulit. Pernah kulitnya mengelupas di sekitar leher dan batok kepalanya. Tapi cepat sembuh kembali. Mengelupas lagi di bagian leher. Lalu cepat sembuh lagi. Saya menduga, lukanya itu kemungkinan dicakar kucing jantan. Ada banyak kucing jantan kekar, juga galak di sekitar situ.

Suatu malam, saya menemukan kucing jantan putih. Kekar badannya. Tapi terbujur kaku di semak-semak. Semula saya pikir dia tidur. Ternyata mati. Tetangga sebelah rumah, yang dihuni pemuda kos, menguburkan kucing itu, malam itu juga.

Beberapa hari kemudian tersiar kabar. Banyak kucing mati perumahan sebelah. Disinyalir, kucing-kucing itu dibunuh dengan sengaja oleh orang. Mayat kucing itu dibiarkan tergeletak, atau disembunyikan di semak-semak. Orang-orang yang memelihara kucing tersebut sama melapor polisi. Kasusnya ada di media massa.

Lebaran kemarin, saya berkunjung ke rumah sahabat. Saya baru tahu, di rumahnya ternyata ada belasan ekor kucing, termasuk yang kecil-kecil. Saya baru tahu ternyata ia suka memelihara kucing sejak kucing itu kecil. Ia rawat betul kucing-kucingnya sampai kucing itu dewasa.

Hasilnya memang tidak mengecewakan. Orang langsung suka memeluk dan mengelus kucingnya. Mirip boneka kucing. Bulunya, lubang telinganya, hidungnya, sampai pantatnya ia bersihkan. Saya pegang dan mengelus salah satu kucing itu. Tampak terasa lembut sekali bulu-bulunya. Tidak berdebu. Tidak juga terasa keset dan membekas kotor di telapak tangan.

“Yang ini betina, sudah tidak bisa melahirkan, rahimnya diangkat,” katanya suatu ketika menjelaskan salah satu kucing yang ia miliki. Kucing persia. Berbulu panjang. Tapi galak. Kukunya tajam sekali. Tangan saya sedikit luka kena cakarnya.

Baca juga:  Jika Ditanya "Lagi Dimana", Maka Berhati-hatilah

Katanya, kucing persia itu payudaranya mengeras karena jarang dipakai menyusui. Ia bawa ke dokter hewan. Diperiksa. Biayanya 1 juta. Kemudian operasi pengangkatan rahim 1 juta. “Dua juta semuanya itu,” kisahnya.

Ia memang penyuka kucing. Sangat cocok pelihara kucing. Tak ada kucing kurus di rumahnya. Hampir semua kucingnya gemuk. Makanannya selalu tersedia cukup di wadahnya. Tak boleh makan sembarang, termasuk ikan goreng, pindang, tahu, tempe. “Bikin bulunya cepat rontok,” katanya.

Bahkan toilet khusus untuk kucing pun ia sediakan. Ia latih lebih dulu kucing-kucingnya untuk be’ol sejak dari kecil. Ketika dewasa, kucing-kucing itu sudah terbiasa. Terpola. Itulah kenapa saya tidak mencium aroma kencing kucing ataupun kotoran kucing di setiap sudut rumahnya.

Beda dengan saya. Saya sulit untuk telaten memelihara hewan. Setahun yang lalu terakhir memelihara ikan di kolam aquarium. Saya putuskan berhenti memelihara karena tidak telaten ini. Kasihan. Ada yang mati. Biasanya karena airnya kotor, mati listrik, atau lupa tidak diberi makan karena terlalu sibuk bekerja.

Padahal alasan memelihara ikan saat itu agar bisa refresh dari kesibukan. Tapi ya begitulah. Jika ada ikan atau ayam yang mati karena itu, saya jadi merasa sedih dan bersalah. Ya, saya sempat memelihara ayam kate. Bertahan 3-4 bulan saja.

Oleh karena itu, semua ikan dan ayam saat itu saya hibahkan. Dipelihara tetangga dan saudara. Meski juga terakhir saya dengar kabarnya ada yang mati. Habis juga. Padahal sudah besar.

Semoga Allah paring barokah. Aamiin.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *