Menu


Siapa yang Lebih Hina?
Ustaz Dave Ariant Yusuf. Source: Facebook

Ustaz Dave Ariant Yusuf. Source: Facebook

Pagi ini saya membaca status seorang ustaz yang menginspirasi. Saat tampil di televisi, ustaz ini bersuara teduh dan senyum yang khas. Kata dan kalimat yang diucapkannya banyak menginspirasi orang. Bahasa yang digunakan sangat baik. Dalam sebuah status Facebook-nya pun saya nilai juga sangat baik, terstruktur, dan mudah dipahami.

Jelas sekali. Ini terlihat di beberapa status media sosial yang ditulisnya mudah dibaca orang awam dan dimengerti. Susunan kalimat terstruktur dan tanpa tanda baca yang keliru, setidaknya menurut penilaian saya. Menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Tampak berpengalaman. Ini menandakan sebelum melakukan posting di media sosial telah melakukan koreksi lebih dahulu dan sangat berhati-hati.

Yak, dia adalah Ustaz Dave Ariant Yusuf disingkat UDAY, yang dulu biasa muncul di serial si Unyil Trans 7.

Tulisannya banyak yang menginspirasi orang. Salah satunya berjudul “Siapa yang Lebih Hina” yang hari ini semua saya kutip di sini agar dapat diambil pelajaran bagi sesiapa saja. Tulisan ini mengingatkan kita agar diri kita selalu tawaduk, rendah hati (bukan rendah diri loh ya…), jauh dari sifat sombong sedikitpun meskipun sifat itu ada sebesar biji sawi. Semoga manfaat barokah. Aamiin.

#####

SIAPA YANG LEBIH HINA?

Ada seorang santri yang telah bertahun-tahun menuntut ilmu pada seorang Kyai. Hingga tiba saatnya ia diperbolehkan pulang untuk bertugas mengabdi kepada masyarakat.

Sebelum Santri itu pulang, Kyai berkata kepadanya, “Sebelum kau pulang, dalam tiga hari ini aku ingin kau mencari seseorang atau makhluk yang kau anggap lebih hina dan lebih buruk darimu”

“Tiga hari terlalu lama Kyai, hari ini pun aku bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk dariku, ” jawab Santri penuh percaya diri.

Kyai tersenyum seraya berkata, “Berangkatlah…”

Dua hari telah berlalu namun si Santri tak kunjung datang memenuhi permintaan Kyai. Akhirnya pada hari ketiga Santri itu datang menghadap Kyai.

“Bagaimana anakku, apakah kau sudah menemukannya?” tanya Kyai.

“Sudah, Kyai” jawabnya seraya tertunduk.
“Ternyata orang atau makhluk yang menurutku sangat buruk dan sangat hina adalah diriku sendiri,” ujarnya perlahan.

Kyai pun tersenyum, lalu bertanya, “Mengapa kau mengatakan seperti itu?”

Santri itu pun mulai menceritakan kepada Kyai tentang perjalanannya mencari orang atau makhluk yang ia anggap lebih hina darinya.

Awalnya ia berjalan menyusuri lorong sempit di sebuah perkampungan. Ia bertemu dengan seseorang yang sedang mabuk berat di sebuah warung. Menurut pemilik warung, orang itu selalu mabuk-mabukan setiap hari.

Dalam hati Santri itu berkata, “Pasti orang ini orang lebih buruk dariku, ia habiskan setiap waktu hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah”.

Dalam perjalanan kembali ke rumah Kyai, Santri kembali berpikir, “Rasanya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dariku, sekarang ia mabuk-mabukan tapi siapa tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga ia bisa husnul khotimah, sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah belum tentu di akhir hayatku nanti husnul khotimah”.

Si Santri kembali mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya. Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan karena selain bulunya kusut dan bau, sekujur tubuh anjing itu kudisan.

“Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku, anjing tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan, ”teriak Santri dengan girang.

Dengan menggunakan karung, si Santri membungkus anjing tersebut hendak dibawa ke Kyai. Namun ditengah jalan tiba-tiba ia kembali berpikir, “Anjing ini memang buruk rupa dan kudisan, namun benarkah dia lebih buruk dariku?” Oh tidak, kalau anjing ini mati, ia tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia, sedangkan aku harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan selama hidup di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka”.

Si Santri melepaskan anjing itu dan terus berjalan masih mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya. Namun hingga hari ketiga, ia tak jua menemukannya. Lama sekali ia berpikir, hingga akhirnya ia tersadar dan memutuskan untuk kembali menemui Kyai.

Mendegar penuturan Santrinya, Kyai itu kembali tersenyum seraya berkata, “Bagus Anakku. Selama kita hidup di dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia dari siapa pun. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang paling buruk. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan iman kita hingga jauh dari keimanan. Yang tampak baik di mata manusia belum tentu baik dalam pandangan Allah. Yang tampak buruk di mata manusia bisa jadi mulia dalam pandangan Allah”.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi” (HR.Muslim)

####

Baca juga:  Stop! Jangan Buang Sampah Sembarangan!

Baca juga:

Sabtu, 20 Oktober 2018 : 15:50 Wita
Gadget, Peluang dan Tantangan Generasi Milenial
Gadget, Peluang dan Tantangan Generasi Milenial
Minggu, 5 November 2017 : 13:41 Wita
Gara-gara Obrolan Daring Whatsapp!
Gara-gara Obrolan Daring Whatsapp!
Rabu, 24 Januari 2018 : 00:58 Wita
Dilema Pizza, Seperti Harapan vs Kenyataan
Dilema Pizza, Seperti Harapan vs Kenyataan
Rabu, 26 Juli 2017 : 12:47 Wita
Dea Milana, Wanita di Lembayung Senja
Dea Milana, Wanita di Lembayung Senja
Senin, 10 Agustus 2015 : 14:39 Wita
Foto: Agus Martowardojo Gubernur Bank Indonesia
Foto: Agus Martowardojo Gubernur Bank Indonesia
Senin, 26 November 2018 : 11:28 Wita
Kadang Menjadi Facilitator, Kadang Menjadi Enabler
Kadang Menjadi Facilitator, Kadang Menjadi Enabler

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *