Menu


Microsoft Tega Banget Menyuruh Berpaling ke Lain Hati
Windows Phone Nokia Lumia 520 yang ancur layarnya tapi masih oke jalan deh ya. Foto: dok. pribadi

Windows Phone Nokia Lumia 520 yang ancur layarnya tapi masih oke jalan deh ya. Foto: dok. pribadi

Sejak mengenal Windows Phone Microsoft Lumia di tahun 2013 yang lalu, saya kepincut. Lebih tepatnya, saya kepincut layar kotak-kotak Windows 8, yang namanya cukup keren, Metro User Interface atau antarmuka Metro. Terus terang, saya terpikat dengan Metro karena warna-warninya yang cakep.

Maka, membelilah saya saat itu. Saya pilih yang paling murah, Nokia Lumia 520 seharga kurang dari 1.5 juta. Metro, mengganti antarmuka Microsoft Windows tradisional. Isinya ada tombol Start, dan banyak kotak ubin “Live Tiles”, asyik. Jika disentuh, maka akan membawa pengguna ke aplikasi terkait. Cukup menghindari bosan Android kala itu.

Desain Metro pertama kali diperkenalkan sistem operasi Windows 7 Phone. Dirancang untuk menjadi antarmuka berbasis sentuhan yang akan bekerja di berbagai perangkat, termasuk ponsel pintar, komputer tablet, laptop dan PC desktop. Metro menjadi antarmuka default dalam Windows 8, yang ada pada milik saya ini.

Ponsel ini banyak membantu saya. Tapi, juga banyak bikin susah! Misal, browser-nya tidak mampu mengakses laman website yang memiliki ukuran besar macam kompas.com. Browser langsung menutup sendiri. Begitu juga jika digunakan mengakses website yang saya buat. Slider tidak tampil dengan browser IE ini. Asyem deh, bikin jengkel. Komunitas pengembang juga sedikit.

Meski demikian, saya sempat terbantu dengan ponsel ini ketika berpergian menggunakan aplikasi Here. Tahun 2013 saya gunakan di Arab Saudi untuk dokumentasi perjalanan saya. Sayang sekali, kurang maksimal. Di tahun 2015 ketika keliling Surabaya, saya menggunakan aplikasi Taksi Blue Bird. Saya tidak menyangka ada aplikasinya di Microsoft Store. Juga tahun 2016 dan 2018, ponsel ini mampu menjadi alat penunjuk jalan ketika touring naik motor bareng anak istri keliling Pulau Bali. Gile kan!

Baca juga:  Membeli Buku Kebebasan dan Etika Pers dalam Perpsektif Hukum Islam

Tahun 2015, ponsel ini jatuh dan pecah kacanya. Yang menggunakan saat itu anak sulung saya. Saya sendiri tidak masalah. Tetapi karena dipakai si sulung, maka oleh ibunya anak-anak dibawa ke tukang service hape, dan biayanya hanya 75 ribu saja ganti kaca.

Tak berselang lama, eh… jatuh lagi dan pecah. Kali ini oleh ibunya anak-anak sendiri. Ketika itu ia duduk memangku ponsel, lalu turun dari mobil di depot Tahu Sumedang Samboja. Ponsel terlempar dan KRAK! Pecah menyentuh batu. Alamak. Sejak saat itu saya biarkan, tidak diperbaiki. Si sulung malu menggunakan hape pecah dan minta hape baru. Ya sudah, hape Windows Phone ini saya ambil alih lagi sampai sekarang. Saya biarkan layar kaca dalam kondisi pecah. Apalagi sempat beberapa kali jatuh, hingga muka layar hancur seperti ini hehe…

Tapi yang terpenting bagi saya Windows Phone masih berfungsi. Masih bisa digunakan telepon dan Internet. Meski tombol power hilang. Layar hancur. Browser tampil hitam putih seperti browser pada Unix atau Linux zaman dulu. Suka tiba-tiba menutup sendiri. Shutdown sendiri jika memori penuh. Jika menerima panggilan telepon, susah ditutup kembali. Apalah-apalah. Bikin susah juga sih.

Tapi herannya, saya sangat betah menggunakan ponsel ini. Ini berarti, kepemilikan ponsel ini memecahkan rekor terlama yang saya miliki hingga saat ini, 6 tahun lebih! Hingga akhirnya saya menerima kabar lewat email beberapa bulan yang lalu, bahwa Microsoft mengumumkan akhir tahun 2019 ini tidak lagi mendukung Windows Phone! Meski begitu, di bulan Juni kemarin, ponsel ini masih sempat menemani saya traveling ke Banyuwangi, top pret!

Pokoknya, ada banyak hal yang saya sangat terbantu dengan ponsel ini. Kini, dia lebih banyak menjadi Access Point untuk Internet rumahan dengan Wifi. Juga masih mampu menyalakan Whatsapp. Ada banyak suka dukanya memang menggunakan ponsel Windows Phone ini.

Baca juga:  Siapa yang Lebih Hina?

Menurut saya, yang perlu digarisbawahi adalah, ketika menggunakan ponsel ini harus ditemani dengan ponsel Android atau ponsel jenis lainnya. Maksudnya, jika terjadi masalah pada Windows Phone, Anda masih bisa menggunakan ponsel cadangan, hehe…

Akhirnya, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bill Gates dan Microsoft. Meski ada rasa sedih bercampur bahagia Windows Phone ini berhenti dukungan.

Apalah artinya mahal-mahal, tetapi kemudian tidak ada dukungan lagi sampai paling tidak akhir tahun 2019 ini. Whatsapp pun juga sudah berhenti memberi dukungan pada semua versi Windows Phone. Sedih? Tentu saja kan?

Meski ponsel ini harganya yang paling murah di antara versi lainnya ini, tapi Microsoft malah menyarankan beralih ke Android atau iPhone. Apaan? Teganya kamu Microsoft! Seenaknya menyuruh berpaling ke lain hati. Padahal, niat saya masih ingin menggunakan ponsel ini sampai benar-benar tidak lagi bisa digunakan… ngikik! 😀

Pelajaran penting lainnya, ini akibat cepatnya perkembangan teknologi dan bisnis. Teknologi berkembang karena tuntutan zaman. Kebutuhan yang makin beragam, dan keamanan yang terjamin. Bisnis kemudian menyesuaikan. Jika tidak berkembang, bisnis juga stagnan, ekonomi berhenti. Menjadi konsumen juga harus jeli, cerdas memilih, untuk mendukung asa dan berharap masa depan yang lebih baik. Semoga manfaat barokah. Aamiin.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *