Memberi Uang Saku Anak Sekolah, Pilih Harian atau Rapelan? | suburaID
Menu


Memberi Uang Saku Anak Sekolah, Pilih Harian atau Rapelan?
Daftar pertanyaan untuk orang tua mengoreksi diri, bagaimana pengasuhan anak mengatur keuangan. Foto; Financial Parenting

Daftar pertanyaan untuk orang tua mengoreksi diri, bagaimana pengasuhan anak mengatur keuangan. Foto; Financial Parenting

“Yah, sangu…” kata si bungsu tatkala sudah sampai di depan sekolah. Pagi ini kuantar ke sekolah.

“Lha… kemarin sudah diberi buat dua hari…” kataku mengingatkan dia.

Dengan muka masam dia mengingat lagi. “Ketinggalan di rumah…” katanya datar.

“Biar saja hari ini tidak sangu…” kataku. Ini saya katakan demikian lantaran sebelumnya pernah terjadi hal yang sama. Tetapi untuk pembelajaran ke depan dan karena kasihan, akhirnya saat itu saya beri uang saku juga. Besoknya, barulah ia memakai uang saku yang kemarin. Tapi hari ini tidak, karena saya pernah katakan kalau lupa lagi, maka biar saja tidak ada uang saku. Biar ada pembelajaran.

Si bungsu langsung ngeloyor begitu saja, berjalan cepat ke sekolah sambil menahan dongkol, ngambeg.

Yap. Ia lupa, entah disengaja atau tidak, bahwa kemarin ia menerima uang saku 50 ribu untuk dua hari. Sebenarnya saya memintanya itu untuk tiga hari. Ya, memang jika diukur untuk orang dewasa zaman sekarang, apalagi di Balikpapan, uang 50 ribu tidak cukup untuk tiga hari. Tega kah saya? ๐Ÿ™‚

Sebentar. Saya bukannya tidak percaya pada anak. Saya ingin dia belajar. Saya ingin tidak main-main soal keuangan sejak dini, sejak anak-anak. Saya ingin ada kesadaran yang terus diasah agar anak-anak belajar mengelola keuangan. Bukan sekadar mengelola uang. Saya ingin ada perjuangan. Ada kerja keras. Ada usaha bahwa untuk mendapatkan uang perlu kerja keras, perlu perjuangan, juga memiliki nilai humanism. Suka membantu, sedekah, dan tidak pelit dengan sesama.

Anak juga harus tahu diri jika orang tuanya tidak memiliki uang berlebih. Anak juga harus mampu mengontrol dirinya agar tidak terlalu memaksakan diri di luar keterbatasan finansial orang tua maupun dirinya sendiri. Bagi saya, mewujudkan keinginan-keinginan itu tentu tidaklah mudah, tetapi saya yakin Insyaallah bisa jika kita mau dan belajar. Akibat ini semua, saya sering dituduh pelit. Hehe…

Baca juga:  Sosialisasi Karir Jabatan Fungsional Dosen di Aplikasi Online Singkron

Akhir pekan lalu saya sudah mulai berpikir memberi uang saku setiap satu minggu sekali. Ini lantaran anak-anak — si sulung kelas dua SMA dan bungsu kelas dua SMP — sudah bukan anak kecil lagi. Mereka masuk akil baligh. Remaja Millennial.

Bukti kedewasaan mereka adalah, si sulung sudah beberapa kali mendapatkan uang secara mandiri dan mampu mewujudkan keinginannya dengan uangnya tersebut. Ia terlihat mampu mengumpulkan (bukan menabung) sisa uang saku harian. Ia juga terlihat mampu mengontrol keinginan dan membuat prioritas penggunaan uang. Saking ingin mewujudkan keinginan misalnya, ia menjadi ‘agak pelit’ dan perhitungan, biasanya dengan adiknya. Hehe…

Tapi bagus. Si sulung pernah meminjamkan uangnya ratusan ribu — atau mungkin satu jutaan — pada ayah dan ibunya. Tapi jika sudah waktunya dikembalikan sesuai janji di awal saat meminjam, ia tidak sungkan atau malu-malu memberikan tagihan. Persis seperti ‘debt-collector’ meminta uangnya dikembalikan. Bagus sih. Itu berarti soal uang sudah cukup detil. ๐Ÿ˜€

Berbeda dengan si sulung, si bungsu saat ini sedang belajar menabung. Ia membuka rekening tabungan di sekolah. Entah mungkin karena saya pernah memintanya untuk membuka tabungan saat itu. Saya tidak ingat persis, tapi rasanya pernah saya nasihatkan padanya. Ini lantaran ia cukup luman (Jawa), maksudnya ia kadang tampak tidak peduli dengan uang, kemudian bebas menggunakannya untuk hal-hal di luar dirinya sendiri.

Meski pada akhirnya uang yang ia tabung di tabungan sekolah ini sebagian berasal dari meminta lagi pada ayah ibunya, di luar uang saku dan uang jajan, tapi tentu saja ayah dan ibunya senang. Lha wong menabung, ya pasti senang lah. Hehe…

Baca juga:  Youtube, Mengejar 4.000 Jam Tayang dan 1.000 Subscribers

Eitt… tunggu dulu. Omong-omong soal uang jajan dan uang saku. Ternyata menurut Kak Seto dalam bukunya, Financial Parenting, menyebutkan bahwa uang saku dan uang jajan itu berbeda. “Berbeda ya Bapak Ibu sekalian… mohon diperhatikan sekali lagi… ”

Menurutnya, uang jajan itu bagian dari uang saku dan pemberiannya berbeda. Waktu pemberiannya tidak menentu, kadang setiap hari kadang tidak sama sekali. Sedangkan uang saku, masih menurut buku tersebut, biasanya diberikan seminggu sekali, dua minggu sekali, atau sebulan sekali.

Memberi uang saku dianggap cara terbaik bagi anak untuk belajar keuangan dan berlatih dalam setiap pengambilan keputusan. Model pemberian uang saku mingguan dianggap langkah awal terbaik orangtua. Tetapi kekurangannya, pemberian uang saku dianggap anak sebagai imbalan, upah, gaji, atau honor yang pantas ia terima layaknya pegawai perusahaan. Yap. Ini pernah terjadi.

Terlepas dari mana sumbernya, entah itu uang jajan, uang saku, hadiah, atau apa saja selama halal dan tidak melanggar perintah agama, maka untuk memperbesar tabungan — menurut praktisi atau konselor keuangan — hendaklah fokus pada jumlah yang berhasil disimpan (saving), bukan pada pengeluaran.

Semoga Allah paring manfaat barokah. Aamiin.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *