Thumbnail YouTube Ferry Irwandi. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=tFiAMAdHZQ8
Sebuah dialektika sengit baru-baru ini membelah pandangan publik: perlukah jurusan Filsafat dihapus dari perguruan tinggi?
Pertanyaan yang terdengar radikal ini bukan tanpa alasan. Di satu sisi, ada kubu pragmatis yang menuntut pendidikan tinggi untuk relevan dengan pasar kerja. Di sisi lain, kubu idealis mati-matian mempertahankan filsafat sebagai pilar peradaban.
Perdebatan ini bukan sekadar soal satu jurusan, melainkan pertarungan fundamental tentang makna pendidikan itu sendiri.
Wacana penghapusan jurusan Filsafat, seperti yang digulirkan oleh Ferry Irwandi, berakar pada kritik yang tajam dan sulit dibantah: ketidaksesuaian dengan industri. Lulusan filsafat, dengan segala kemampuan berpikir kritisnya, sering kali gagap saat ditanya, “Spesialisasimu apa?” Mereka “terlempar” ke pasar kerja umum, bersaing dengan lulusan dari bidang yang lebih aplikatif.
Singkatnya, Ferry Irwandi membangun argumennya bukan dengan statistik pengangguran, melainkan dengan logika bahwa ketidaksesuaian antara keahlian lulusan Filsafat dan kebutuhan industri secara otomatis akan menyumbang pada tingginya angka pengangguran.
Jika dicari di Google, saya menemukan, justru pernyataan yang menyebutkan lulusan Jurusan Filsafat memiliki tingkat pengangguran tertinggi adalah tidak benar.
Meskipun mungkin tidak secepat jurusan teknis, lulusan filsafat memiliki keterampilan yang berharga di berbagai bidang, dan tingkat pengangguran mereka relatif rendah.
Kritik lain Ferry Irwandi adalah eksklusivitas. Filsafat, yang seharusnya menjadi alat berpikir bagi semua orang—dokter, insinyur, ekonom—justru terkurung di “menara gading”.
Maksudnya, hanya segelintir mahasiswa yang berani memasuki gerbangnya, sementara jutaan lainnya tidak pernah tersentuh oleh keajaiban logika dan etika yang ditawarkannya. Akibatnya, kita mungkin memiliki banyak tenaga ahli, tetapi minim individu yang bijaksana.
Namun, menghapus jurusan Filsafat sama saja dengan menebang pohon besar hanya karena kita tidak sabar menunggu buahnya. Argumen dari para pembelanya, seperti Kiki Syah’an dan kalangan akademisi, mengingatkan kita pada fungsi filsafat yang tak tergantikan.
Pertama, filsafat adalah “induk” dari segala ilmu. Ia tidak mengajarkan apa yang harus dipikirkan, melainkan bagaimana cara berpikir. Tanpa fondasi epistemologi dan ontologi yang kuat, sains bisa menjadi sekadar kumpulan data tanpa makna, dan teknologi bisa kehilangan arah moralnya.
Jadi, Jurusan Filsafat berfungsi sebagai “penjaga gawang” yang memastikan kedalaman dan kemurnian disiplin ini tetap terjaga.
Kedua, di era disrupsi, justru filsafatlah yang paling relevan. Sains memberi kita temuan, tetapi filsafat memberi kita nilai. Fisika menemukan E=mc², namun pertimbangan etislah yang menentukan apakah ia menjadi bom atom atau sumber energi bersih.
Di tengah gempuran Kecerdasan Buatan (AI), rekayasa genetika, dan krisis iklim, kemampuan menavigasi dilema moral bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Siapa yang akan mengajarkannya jika bukan para filsuf?
Dari dialektika yang panas ini, lahirlah sebuah kesimpulan yang jernih. Solusinya bukanlah memilih antara pragmatisme dan idealisme, melainkan merangkul keduanya.
Menghapus total jurusan Filsafat adalah sebuah pandangan picik kurang terbuka yang akan merugikan peradaban dalam jangka panjang. Namun, mempertahankan status quo tanpa perubahan juga merupakan sebuah kebodohan kemalasan intelektual.
Maka, jalan keluarnya adalah reformasi total.
Pertahankan Jurusan, Demokratiskan Ilmunya.
Jurusan Filsafat harus tetap ada sebagai pusat keunggulan (center of excellence) untuk para spesialis dan “penjaga gawang” keilmuan. Namun, ilmunya harus “dibumikan”.
Jadikan mata kuliah seperti Logika, Berpikir Kritis, dan Etika sebagai mata kuliah wajib atau pilihan di seluruh fakultas. Biarkan mahasiswa kedokteran belajar bioetika, mahasiswa teknik belajar etika AI, dan mahasiswa bisnis belajar filsafat ekonomi.
Hancurkan Menara Gading dengan Kolaborasi.
Jurusan Filsafat tidak bisa lagi berdiri sendiri. Ia harus proaktif menjalin kolaborasi interdisipliner. Buka peminatan Filsafat Teknologi, Filsafat Lingkungan, atau Filsafat Hukum. Dengan cara ini, lulusannya tidak hanya memiliki kemampuan berpikir, tetapi juga grounded keilmuan yang kuat dan relevan dengan dunia nyata.

Terjemahkan Kearifan menjadi Keterampilan.
Jurusan ini harus mampu mengartikulasikan ulang relevansinya. “Berpikir mendalam” harus diterjemahkan menjadi “kemampuan analisis kompleks”. “Retorika” menjadi “komunikasi persuasif”. “Dialektika” menjadi “problem-solving“.
Saya justru menemukan banyak perguruan tinggi di Eropa maupun Amerika memiliki jurusan Filsafat, salah satunya di Massachusetts Institute of Technology (MIT) (Massachusetts) AS.
MIT adalah contoh yang paling menarik. Sebagai salah satu perguruan tinggi berbasis teknologi terkemuka di dunia, MIT memiliki departemen Linguistik dan Filsafat. Ini menunjukkan bahwa bahkan di pusat inovasi teknologi, pemahaman filosofis dianggap esensial untuk mendorong kemajuan yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kontroversi ini adalah panggilan untuk bangkit. Jurusan Filsafat tidak sedang berada di ujung tanduk untuk dimusnahkan, melainkan didorong untuk berevolusi. Ia harus turun dari menara gadingnya, bukan untuk “menghamba pada industri”, tetapi untuk mencerahkan dan memperkuat semua disiplin ilmu.
Sebab, dunia tidak hanya butuh pekerja terampil; dunia lebih butuh manusia yang berpikir. Dan di situlah, filsafat akan selalu menemukan tempatnya.