Ilustrasi
Sudah lama saya ingin menulis tentang hal ini, tetapi selalu tertunda. Prokrastinasi? Mungkin. Tapi, melihat berbagai berita akhir-akhir ini, rasanya sulit lagi menahan diri untuk tidak menuliskannya. Siapa tahu catatan ini ada manfaatnya.
Tulisan ini dipicu oleh informasi bahwa militer Thailand menggerebek dan menguasai kompleks penipuan raksasa di O’Smach, Kamboja, menyusul ketegangan perbatasan.
Kompleks ini awalnya merupakan kasino dan hotel yang dialihfungsikan menjadi markas scam. Pelaku yang terlibat berasal dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, Vietnam, Taiwan, Indonesia, dan Myanmar.
Di media sosial, banyak netizen menyesalkan kabar bahwa pelaku dari Indonesia dipulangkan tanpa proses hukum. Mereka dikhawatirkan bisa menjadi lone wolf di negeri sendiri. Sebaliknya, pelaku dari Tiongkok dikabarkan menghadapi tuntutan hukum yang berat.
Kompas, juga memberitakan, Indonesia menempati peringkat kedua negara paling rentan terhadap penipuan di dunia berdasarkan Global Fraud Index 2025 yang dirilis Sumsub. Skor Indonesia mencapai 6,53 dari skala 10, berada di posisi 111 dari 112 negara yang diteliti, sedikit lebih baik dari Pakistan di posisi paling rentan.
Penilaian ini didasarkan pada jumlah kasus penipuan, kesiapan sistem pencegahan, kemampuan pemerintah dalam penanganan serta kondisi ekonomi yang berpotensi memicu kejahatan finansial.
Di sisi lain, Pemerintah Singapura justru meluncurkan National Simulated Scams Exercise, sebuah simulasi penipuan berskala nasional untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap kejahatan siber, khususnya online scam.
Program yang disebut Exercise SG Ready ini berlangsung 1-15 Februari 2026 dan melibatkan lebih dari 1.000 organisasi, sekolah, unit pendidikan, bisnis, komunitas, dan instansi pemerintah. Sebuah langkah yang patut diapresiasi.
Baru-baru ini pula, Anggota Komisi I DPR, Nurul Arifin, mengkritik keras Komdigi terkait dugaan kebocoran data pelamar kerja akibat penggunaan Google Form atau Google Drive yang terbuka untuk publik.
Insiden ini dinilai sebagai “alarm serius” bagi keamanan data nasional. Ironisnya, lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan perlindungan data pribadi justru dinilai lalai dalam sistem rekrutmen internalnya.
Berbagai kabar tersebut membuat saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ini menjadi pengingat bahwa kita perlu sadar di mana kita hidup, bagaimana bersikap sebagai warga negara yang baik, dan tentu saja tetap rendah hati.
Pengalaman Pribadi
Pada 2024, saya pernah dihubungi seseorang yang tiba-tiba mengajak berbisnis. Dari foto profilnya, saya merasa mengenalnya, sehingga saya merespons dengan tetap berprasangka baik.
Namun, semakin lama percakapan berlangsung, semakin terasa janggal. Tawaran bisnis itu mengajak saya untuk berbuat curang. Saya merasa ini tidak benar, apalagi dilakukan oleh orang yang di dunia nyata sangat dikenal dan dihormati.
Saya tetap tenang dan membiarkannya berbicara panjang lebar. Saking tenangnya, dia sampai melakukan unsolicited calls, suatu panggilan yang tidak diharapkan. Mungkin karena respons saya datar, setelah penjelasannya yang panjang sekali itu, akhirnya dia mundur sendiri.
Dari situ saya belajar, seringkali jika peristiwa itu terjadi, ketika upaya penipu gagal dan berujung frustrasi, tak jarang mereka menutupnya dengan makian yang tidak pantas.

Pengalaman Baru
Menulis di media sosial dan menjadi viral juga membawa risiko. Salah satunya adalah potensi manipulasi. Bahkan, citra sebagai “orang baik” di media sosial bisa dimanfaatkan.
Tulisan saya tentang kucing yang terluka, meninggal, lalu saya kuburkan, misalnya, bisa membangun persepsi bahwa saya penyayang binatang dan berhati lembut. Tanpa sadar, citra seperti itu dapat menjadikan seseorang target empuk penipuan.
Berbagai referensi juga menyebutkan, orang dengan profil usia matang, tampak mapan, memiliki atribut religius, aktif di media sosial, dan responsif saat diajak komunikasi, sering menjadi sasaran scam.
Orang-orang yang terlihat baik di media sosial, justru bisa menjadi target potensial. Mirip seperti seseorang yang mengenakan perhiasan mencolok di pasar, tanpa sadar menarik perhatian pihak yang berniat buruk.
Pekan lalu, seorang wanita paruh baya yang penampilannya mirip pesohor terkenal mengirim permintaan pertemanan. Jujur, kali ini saya khilaf dan menerimanya. Khilaf, euy… uhuy…
Sejak awal sebenarnya sudah terasa janggal. Tidak ada satupun teman bersama di sirkel pertemanannya. Mayoritas temannya justru bapak-bapak paruh baya dengan penampilan religius, dan hampir tidak ada teman sesama wanita.
Dia lalu menyapa di Messenger. Anehnya, saya ikut menanggapi. Ia tampak berbicara santun, ramah, bahkan mengingatkan dosa, ketika saya terbuka soal usia, meski bercanda.

Lalu, apa yang biasanya dia cari?
Dari pengalaman orang lain dan yang sudah-sudah, dia sedang mendapatkan nomor WhatsApp.
Itulah “kunci pintu” menuju target. Dia akan bilang untuk memudahkan silaturahmi, biar komunikasinya bisa lebih personal, lebih intens, terasa rahasia, dan lebih dekat.
Kedekatan emosional dia bangun secara perlahan, pelan-pelan, hingga korban merasa nyaman, percaya, bahkan bisa jatuh hati. Pada titik itu, korban cenderung lebih terbuka, termasuk terhadap berbagai permintaan dan aplikasi di ponselnya.
Karena itu, kita perlu waspada. Dunia digital memberi banyak kemudahan, tetapi juga membuka celah bagi penipuan. Kebaikan tetap penting, tetapi kewaspadaan adalah keharusan.