Menu


Membeli Buku Anak Singkong, Andy Noya, dan Keberagamaan
Si Anak Singkong, Keberagamaan, dan Andy Noya. Foto: dok. pribadi

Si Anak Singkong, Keberagamaan, dan Andy Noya. Foto: dok. pribadi

Sabtu (22/7) sore sy jalan-jalan ke mall bareng ibunya anak-anak. Ini adalah jalan-jalan ke mall untuk yang pertama kalinya sejak akhir bulan Ramadan yll. Praktis, sy tidak tahu hiruk pikuk mall menjelang Lebaran. (terus kenapa?)

“Yuk, kita ke mall beli buku,” kataku ke ibunya anak-anak. Tanpa banyak tanya, ia ikut saja.

Buku yang sy cari adalah tentang otobiografi seorang tokoh, yakni biografi yang ditulis oleh tokoh itu sendiri atau sebagaimana yang ia ceritakan pada penulis. Ada banyak buku, kebanyakan berupa biografi tokoh kemerdekaan yang ditulis berdasar sumber berita atau dokumen.

Tiba-tiba sy tertarik pada tumpukan buku setinggi lutut, yang ditaruh di lantai toko. Judulnya Si Anak Singkong (SAS). Buku lawas. Tapi tampak semuanya masih tersegel plastik. Sy ambil satu. Pertama, sy lihat harganya, murah, 36K saja. Kedua, sy lihat siapa yang meng-endorse. Tanpa banyak baca lagi, langsung saja sy angkut satu biji.

Sesampai di rumah, sy merasa surprise membeli buku ini ketika sy membaca bagaimana SAS mengakuisisi bank konvensional yang hanya memiliki dua buah komputer. Ia mengaku tidak memiliki latar belakang bank. Bahkan ia tidak pernah tahu apa itu ‘due diligence’ ketika tahap awal hendak mengakuisi sebuah bank. Lucu juga sih ya…

Buku kedua, Andi Noya (AN). Siapa yang tak kenal orang ini. Sy tahunya dia jurnalis berambut kribo. Nyentrik. Bersuara khas, lucu, seperti tak pernah marah. Acaranya di tv banyak menginspirasi banyak orang.

Tapi siapa sangka. Dari bukunya ini, sy baru tahu ternyata masa kecilnya pernah tinggal di Cisadane Surabaya. Pernah terlibat geng tiga bersaudara. Sering dianiaya gengnya. Tak berdaya. Tanpa perlawanan. Sejak saat itu, ia mengaku menyimpan dendam yang terbawa sampai dewasa ketika di Jayapura. Kembali ke Surabaya membawa belati dan berniat menemui mantan gengnya yang dulu itu hanya untuk membuat perhitungan. Seru. Tapi lucu.

Baca juga:  Tepat 19 Tahun, Kini Melebur menjadi Universitas Mulia

Buku ketiga tentang keberagaman. Sy tertarik buku ini dari judulnya lantaran di bulan Juli ini sudah beberapa kali sy mendengar istilah keberagaman. Sampai-sampai, Walikota pernah bilang jika keberagaman tetap dijaga dengan baik, maka tidak tertutup kemungkinan ibu kota yang baru pindah di Balikpapan.

Semoga manfaat barokah. Salam literasi.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *