Menu


Dea Milana, Wanita di Lembayung Senja
Bebek di sawah. Foto: blogspot

Bebek di sawah. Foto: blogspot

Aku beranjak dari tepi danau, duduk termenung di pematang sawah. Rumput basah embun pagi yang membasahi celanaku, tak kuhiraukan lagi.

Aku tertarik melihat sekumpulan bebek yang bermain lumpur, mencari makanan bersama anak-anaknya. Mereka seolah memanggilku, mengajakku bahagia bersama. Mereka tampak tak punya beban. Tak ada duka, yang penting senang. Mereka bebas berenang, berjalan kesana kemari, tak peduli air yang berlumpur.

Disini aku sendiri. Ingin rasanya terus bebas, menikmati hari-hari liburku sendiri. Berkelana kesana kemari, ke pedalaman terpencil di ujung dunia agar tak ada yang tahu aku disini. Tapi aku ingat, aku tak boleh egois dan semau diriku. Ada banyak orang yang menunggu dan membutuhkan diriku disana.

Aku terus berjalan menyusuri sudut-sudut jalan, mencari tempat untuk sekadar merebahkan tubuh dan menenangkan jiwa. Tempat yang indah dan damai, untuk berpikir dan merenungi hidup.

Di tempat ini, di pinggir jendela, kulihat sawah membentang luas. Berlatar pegunungan hijau dan berselimut kabut. Indah sekali.

Aku bersyukur bisa menikmati keindahan. Hingga aku ingin menuju kesana lagi, di tengah sawah, membawa alat lukis dan ingin kulukis indahnya semua disini. Tapi ketika melangkahkan kaki kesana, ayahku seolah hadir, tepat di depanku. Tak terasa aku terisak, air mataku menetes.

Ah, jika kuingat, kadang tak habis pikir, mengapa aku harus tinggal serumah lagi dengan ayah. Sebagai seorang istri, tentu aku ikut suami. Tapi, dulu sekali, ayah tak setuju pilihanku. Ayah punya pilihan yang tak habis kumengerti. Hingga aku seolah membuang diri, mengikuti jalan takdirku sendiri.

Tapi kini, kuasa Tuhan tak pernah bisa aku tolak. Sepedih apapun hubungan ini, antara aku, ayah dan ibuku, tetap saja darah lebih kental dari air.

Cinta kasih ayah ibuku mengalahkan kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan. Seluka apapun hati ayah ibuku, tetap saja pintu maaf selalu terbuka untukku. Aku bersyukur ayah ibuku selalu lebih besar cintanya padaku.

Aku juga mencintaimu ibu. Aku juga mencintaimu ayah. Ingin kupeluk selalu tubuhmu berdua. Aroma tubuhnya yang harum, seolah energi yang mendorong diriku berdiri tegak kembali meraih harapan-harapan.

Disclaimer: Cerita ini berasal dari cerita asli kemudian diubah dengan maksud memperbaiki susunan kata dan kalimatnya secara redaksional. Tujuannya adalah untuk mereproduksi ulang tulisan aslinya. Penulis asli kemudian mencocokkan dengan karakternya apakah isi tulisan memiliki kesamaan karakter atau tidak.

Baca juga:  Check Website yang Mengalami Downtime

Baca juga:

Kamis, 27 Juli 2017 : 00:33 Wita
Tantangan Menulis Kisah Hidup
Tantangan Menulis Kisah Hidup
Minggu, 14 Mei 2017 : 00:13 Wita
Tenang, Soal Rezeki Sudah Ada yang Mengatur
Tenang, Soal Rezeki Sudah Ada yang Mengatur
Senin, 11 Januari 2016 : 00:36 Wita
Membangun Rumah, Setahun Lamanya Bikin Dapur!
Membangun Rumah, Setahun Lamanya Bikin Dapur!
Rabu, 14 November 2018 : 10:05 Wita
“Kamu Tidak Menulis, Kamu Berak!”
“Kamu Tidak Menulis, Kamu Berak!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *