Menu


Youtube, Mengejar 4.000 Jam Tayang dan 1.000 Subscribers
Jumlah jam tayang pada tanggal 16 Agustus 2018, setahun setelah sebuah konten video Upacara 17 Agustus 2017. Foto: Screenshot

Jumlah jam tayang pada tanggal 16 Agustus 2018, setahun setelah sebuah konten video Upacara 17 Agustus 2017 naik. Foto: Screenshot

Salah satu yang — mungkin — menjadi motivasi para Content Creator Youtube untuk mendapatkan uang atau Monetisasi adalah melampui 4.000 jam tayang dan 1.000 Subscribers. Dua syarat ini sangat memberatkan pemula yang ingin cepat sukses. Tapi, sebaliknya sangat mudah bagi yang sudah berhasil.

Memang, orang cenderung melihat hasil akhirnya saja. Padahal, di balik kesuksesannya itu ada suka dan duka jerih payahnya. Ada doa dan kerja keras. Ada usaha yang tidak sedikit. Dan, yang paling penting adalah keberuntungan dari Tuhan. ๐Ÿ˜€

Ini adalah catatan saya tentang bagaimana mengelola konten Youtube. Dari awalnya iseng meng-upload video dengan tema Upacara Tujuh Belasan di bulan Agustus, kemudian tiba-tiba penontonnya membludak. Hingga video yang penontonnya sedikiiiiiiiiiiit sekali. Ihiks…

Tidak heran, dua syarat yang diberikan Youtube saat ditulis ini belum terpenuhi. Dari tanggal 16 Agustus 2018 yang lalu sempat menyentuh angka 1.607 jam tayang dalam satu tahun, Youtube akhirnya mengembalikan turun drastis menjadi 230-an jam tayang di bulan September 2018.

Catatan statistik Channel hari ini, 17 Januari 2019. Foto: Screenshot

Catatan statistik Channel hari ini, 17 Januari 2019. Foto: Screenshot

Untuk mengejar dan melampaui dua syarat itu menjadi terasa sulit. Saat ditulis tulisan ini pun baru menyentuh 819 jam tayang dan 142 subscriber. Masih jauh… ๐Ÿ˜€

Para penonton Youtube saat ini sudah sangat cerdas. Sudah memiliki preferensi yang tinggi dan lebih suka memilih mana konten yang menurutnya diikuti terus (Subscribe) dan mana yang tidak.

Adakalanya, sebuah Channel dengan konten sangat bagus tidak memiliki banyak Subscibers dan ribuan jam tayang. Tapi, ada juga loh yang — menurut sebagian mereka — dinilai kurang mendidik, tapi memiliki jutaan Subscribers.

Baca juga:  Wahai Emak-emak, Gunakan Kekuatanmu untuk Membela yang Benar!

Saya pikir, orang menilai mendidik atau tidak, semua tergantung dan kembali kepada penonton. Setiap orang mestinya bisa belajar dari apapun. Sebuah konten video Youtube yang dinilai tidak mendidik bagi orang lain, bisa jadi bagi sebagian orang dinilai bermanfaat.

Nah, inilah yang saya sebut preferensi. Makin banyak pengguna Youtube, makin beragam pilihan sesuai preferensi masing-masing pengguna. Orang bisa saja menemukan hikmah, ilmu, atau sesuatu yang menurutnya bermanfaat di balik sebuah konten video normal. Bagi yang tidak menemukan apapun di dalamnya, entah itu hal bermanfaat atau tidak, yang lebih penting adalah tidak merendahkannya.

Semoga Allah paring manfaat barokah. Aamiin.


Baca juga:

Kamis, 11 Juli 2019 : 15:08 Wita
Diterima di Teknik Nuklir UGM, Om!
Diterima di Teknik Nuklir UGM, Om!
Senin, 24 September 2018 : 09:45 Wita
Stop! Jangan Buang Sampah Sembarangan!
Stop! Jangan Buang Sampah Sembarangan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *