Menu


Niat dan Usaha Menjaga Hati
Ibu sedang berjalan menuju Masjidil Haram waktu Subuh. Foto: dok. pribadi

Ibu sedang berjalan menuju Masjidil Haram waktu Subuh. Foto: dok. pribadi

HARI ini kakak saya mengabarkan sedang dalam perjalanan kembali ke tanah air. Ia baru saja usai menjalankan ibadah umroh di tanah suci bersama dengan suami dan sebagian anak-anaknya.

Selama dalam rangkaian ibadah tersebut, ia menahan diri untuk tidak disibukkan dengan foto-foto kegiatannya selama dalam perjalanan ibadah. Padahal di awal sebelumnya, ia cukup antusias, ingin selalu update di medsos dengan mengirimkan potret senyum bahagianya bersama anak dan suami.

Jare ustadz gak oleh ben ora salah niat, ben ora riak pamer-pamer ngono jare, hehe…” tulisnya dalam bahasa Jawa ngoko campuran Jawa Timur.

Meski dalam komunikasi yang sangat amat terbatas, khusus kalangan sendiri, dan tidak keluar area privasi, saya tidak protes agar ia kembali mengirimkan foto-foto kegiatannya. Bagi saya, ini adalah godaan bagaimana menjaga hati, menjaga komitmen. Memegang prinsip yang sudah diteguhkan di dalam hati agar tidak goyah sesulit memegang bara api dalam genggaman tangan.

Saya merasa, ia ingin konsentrasi penuh, focus, curiosity dengan ibadah dan tidak ada pikiran lain selain hanya kepada Allah. Ya, memang seharusnya begitu.

Saya berusaha empati bahwa kegiatan potret-memotret (bagi fotografer amatir) dan hubungannya dengan menjaga hati tidaklah mudah.

Kenapa?

Ibadah itu sangat amat privasi. Hanya antara Allah dan hambaNya saja yang tahu. Seorang hamba ingin mengadu, sambat dengan sepenuh hati, berserah diri, tawakal hanya kepada Ilahi. Bagaimana mungkin di tengah-tengah mengadu, sambat, menangis, tapi hatinya tidak hadir, pikiran masih banyak distraksi dunia, keinginan, dan usahanya mengabadikan diri untuk dipublikasikan kepada orang lain?

Inilah, urusan menjaga hati itu teramat amat sulit. Jangankan kita manusia biasa yang banyak salah, lha wong Rasulullah saja berdoa meminta perlindungan kepada Allah agar hatinya ditetapkan dalam pendirian memeluk agamaNya, pendirian dalam iman kepadaNya. Bahkan selalu meminta ditunjukkan jalan yang lurus.

Baca juga:  Kunci Jawaban Soal Analisis Desain Berorientasi Obyek

Sebagai gantinya, saya kemudian berbagi puluhan dokumentasi foto-foto lama saya yang dulu ketika mengantar Ibu menjalankan ibadah di tanah suci.

Lho kok? Apakah dengan demikian saya pamer ibadah yang sudah pernah dijalani?

Wait. Tunggu, Anda tidak tahu foto saya bukan?

Jangan gegabah mengambil keputusan menghukumi seseorang seperti prasangka dan pikiran pendek Anda bahwa orang tersebut melakukan sesuatu seperti yang Anda sangkakan, sebelum benar-benar tahu persis apa yang terjadi sesungguhnya.

Kenapa?

Karena prasangka buruk itu dilarang. Untuk meneliti dan mengambil keputusan pun juga menggunakan ilmu yang tidak mudah. Semua tertulis jelas di dalam Al-Quran dan Alhadits.

Kenapa dilarang?

Tentu mudharatnya sangat banyak. Jika dilanggar, maka akibatnya sangat besar, terjadi ketidakrukunan, saling curiga, cekcok, permusuhan, pertikaian, muncul laknat, dan yang paling tragis adalah bunuh-bunuhan. Banyak mudharat yang sangat jauh dari keberkahan.

Bukankah akibat prasangka buruk ini sudah banyak contoh yang terjadi di dunia nyata di zaman sekarang ini?

Eits… Zaman dulu sebenarnya justru sudah banyak yang terjadi yang bisa dijadikan contoh. Adapun zaman sekarang terjadi dan terulang lagi karena orang tidak mengambilnya sebagai pelajaran, tidak mengambil hikmah, tidak memahami apa yang terjadi di zaman dulu.

Inilah alasan saya membagi foto-foto dokumentasi mendampingi Ibu ketika itu. Tidak semua foto ketika dalam perjalanan ibadah menjadi bernilai pamer atau riya. Itu adalah urusan hati. Bisa saja hal itu sebagai pelajaran dan hikmah bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Soal pengalaman, medio 1992 yang lalu, Mbah Bendo nenek saya amat sangat marah ketika kedatangan saya di rumahnya hanya sekadar main-main belaka. Padahal saat itu nenek sedang sakit berat, sangat butuh bantuan, pertolongan, dan tinggal seorang diri. Maklum. Saat itu saya masih SMA, masih menjadi pemuda tanggung yang masih perlu banyak belajar dan paham. Dan yang kedua adalah pengalaman saat mengantar Ibu ibadah di tanah suci yang lalu.

Baca juga:  Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!

Catatan itu  mengingatkan bahwa saat mendampingi orang tua, dimanapun berada, entah itu mengantar di pasar, di tanah suci, atau di rumah sekalipun, maka utamakan konsentrasi dan perhatian penuh kepada orang tua. Dampingilah dengan sepenuh hati, rendahkan suara, karena itulah yang orang tua ingin dan harapkan. Berharap ketenangan ditemani dan diperhatikan seperti kita waktu kecil. Hindari sibuk dengan ego diri sendiri yang melalaikan, meski sibuk ibadah ketika perjalanan umroh atau haji sekalipun.

Masih ingat sebuah riwayat seseorang yang sakaratul maut dalam keadaan sulit meninggal gegara ia salat tetapi mengabaikan panggilan ibunya?

Ibu kita adalah manusia biasa. Artinya, ia juga lemah. Kadang emosinya tinggi atau turun. Oleh karena itu, ucapan seorang ibu kepada anaknya hendaklah dijaga dengan sebaik-baiknya, baik oleh ibu itu sendiri maupun oleh keluarga maupun anak-anaknya. Agama mengajarkan birrul walidain, rendahkan suara, tutur kata dan perbuatan. Ucapan ibu akan bermanfaat jika positif. Sebaliknya, jika negatif, maka akan amat sangat berbahaya.

Semoga Allah paring hikmah dan barokah. Aamiin.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *