Menu


Menyelami Literasi Manusia Lewat Titik Nol
Titik Nol, buku baru tapi lama. Belajar tentang sebuah perjalanan, tentang Literasi Manusia. Foto: dok. pribadi

Titik Nol, buku baru tapi lama. Belajar tentang sebuah perjalanan, tentang Literasi Manusia. Foto: dok. pribadi

Jalan-jalan? Berpelisiran? Bersenang-senang menghabiskan uang? Aku tak ingin berbantahan dengan tuduhan-tuduhannya. Apa gunanya kami beradu mulut sekarang? Dulu, orang yang senantiasa mendamaikan pertengkaran kami bersaudara selalu adalah Mama. Sekarang, kami kembali bertengkar, atas nama Mama. Masing-masing kami merasa sudah melakukan yang terbaik buat Mama. Kami pun dirundung ketidakberdayaan menghadapi cobaan bertubi-tubi ini, juga karena Mama.

Ya, itu adalah kutipan Pulang dari buku Titik Nol yang ditulis Agustinus Wibowo. Ia pulang ke Indonesia setelah 10 tahun mengembara di negeri timur. Ketika sampai di rumah, ia tak kuasa dituduh saudaranya jalan-jalan pelesiran sesuka hati. Ia memang menyebut dirinya,”is an Indonesian travel writer and travel photographer. He started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing, where he pursued his bachelor degree in Tsinghua University“. Ia tuangkan segala uneg-unegnya itu ke dalam Titik Nol.

Awal tahun 2020 ini baru saja saya beli Titik Nol, setelah terbit sejak 2013 yang lalu. Buku ini mengalami cetak untuk kesekian kalinya. Saya sendiri sudah membeli bukunya yang pertama, Selimut Debu, yang ia tulis berdasarkan kisah nyata perjalanannya mengarungi Asia hingga Timur Tengah itu.

Saya akui, ketika membaca Selimut Debu itu, saya seolah terbawa dan ikut mengalami kisah perjalanannya. Mulai dari Cina, Bangladesh, India, sampai negara-negara bekas Uni Soviet itu. Kisahnya memang mengharu-biru. Itulah kenapa ia sangat yakin bahwa ia telah memelopori genre baru dalam sastra perjalanan Indonesia dengan memungkinkan pembaca untuk mengalami perjalanan fisik, spiritual, dan emosional penulis ketika mereka merenungkan konflik dan kecemasan mereka sendiri.

Baca juga:  Disrupsi, Menggusur Cara Lama Menuju Cara Modern

Di Titik Nol ini, ia kembali menulis cerita yang mengaduk-aduk emosi. Membawa pembaca ikut merasakan dan mengalami sendiri kisah perjalanannya ‘melawan’ pergolakan batinnya tentang orang tua, terutama Mama dan keluarganya di Indonesia. Ia sengaja menceritakan dan membawa pembaca ke dalam perjalanannya yang tidak tenang, selalu diikuti dan dibayang-bayangi Mama yang ia cintainya.

Itulah kenapa, menurut saya, ia tulis: Perjalananku bukan Perjalananmu. Perjalananku adalah Perjalananmu. Maksudnya, sesuai yang saya pahami, di Titik Nol itu adalah kisah perjalanan yang ia lakukan sendiri dan ia rasakan, bukan kisah perjalanan orang lain kemudian diceritakan. Tapi, apa yang ia lakukan dalam perjalanannya itu ia hubungkan kepada pembaca agar ikut merasakan perjalanannya.

Sementara itu, pendidikan di Indonesia tidak lagi menggunakan cara-cara lama yang sudah usang. Zaman sudah berubah, teknologi juga berkembang cepat. Cara kita belajar mengajar zaman dulu, materi-meteri belajar yang sudah usang, kini mulai ditinggalkan.

Materi Perguruan Tinggi Unggul dan SOTK Kemendikbud oleh Aris Junaidi. Plt Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Yogyakarta, 20 Januari 2020. Dalam Studium Generale. Univeritas Negeri Yogyakarta.

Materi Perguruan Tinggi Unggul dan SOTK Kemendikbud oleh Aris Junaidi. Plt Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dalam Studium Generale. Univeritas Negeri Yogyakarta. 20 Januari 2020.

Kemendikbud menginterpretasikan visi Presiden perihal Sumber Daya Manusia yang Unggul adalah generasi yang memiliki karakter kuat dan menguasai Literasi Baru (Literasi Data, Teknologi, dan Literasi Manusia) dan Keterampilan Abad 21 yang dikenal dengan 6C’s. Salah satu yang menjadi perhatian saya dalam hal ini adalah kemampuan Literasi Manusia.

Literasi Manusia bertujuan agar manusia berfungsi dengan baik di lingkungan manusia dan dapat memahami interaksi dengan sesama manusia. Kemampuan ini menjadi semakin penting dan dibutuhkan mengingat untuk memahami interaksi sesama manusia, kita harus belajar mengasah kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, berkomunikasi, dan kasih sayang.

Baca juga:  Cloud Computing, Belajar Memasang OwnCloud, NextCloud, dan OpenStack

Bagi saya, Titik Nol ini sarat dengan implementasi Literasi Manusia, terutama manusia di negara-negara yang dijelajahi penulis. Penulis kemudian mengajak pembaca untuk sama-sama mengarungi perjalanan, merasakan debu gurun dan ombak kehidupan yang mendebarkan.


Baca juga:

Sabtu, 20 Oktober 2018 : 15:50 Wita
Gadget, Peluang dan Tantangan Generasi Milenial
Gadget, Peluang dan Tantangan Generasi Milenial
Minggu, 3 November 2019 : 02:08 Wita
Didapuk Menjadi Pendamping UKM, Apa Luarannya?
Didapuk Menjadi Pendamping UKM, Apa Luarannya?
Jumat, 11 Agustus 2017 : 05:23 Wita
Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!
Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *