Selimut Debu | suburaID
Menu


Selimut Debu
Selimut Debu, kisah perjalanan. Foto: dok. pribadi

Selimut Debu, kisah perjalanan. Foto: dok. pribadi

Pagi ini, buku yang kubeli 6 tahun yll ini kulihat di lemari kaca, berdiri tegak menghadap ke depan. Tak biasa. Tampaknya, ia habis dibaca dan dikembalikan ke lemari yang penuh buku itu dengan sembarang, takberaturan. Beberapa kali lewat di depan lemari ini, beberapa kali itu pula buku ini seperti mengganggu perhatianku, sepertinya ia ingin disentuh.

Kubuka lemari, kuambil buku, kubuka beberapa halaman, masih menarik. Hampir tiap bagian paragraf menyentuh, seperti kisah di bawah ini.

Lagi-lagi berita biasa. Bagi para wartawan yang bekerja di Kandahar, bekerja di lingkungan seperti ini setiap hari taruhannya adalah nyawa. Tapi berita macam bom, penembakan liar, ledakan, penculikan, dan lain-lain bagi mereka sudah tidak ada istimewanya lagi. Tak perlu mengejar peristiwa seperti wartawan baru yang belum pernah lihat bom. Televisi sering tidak punya gambar untuk mengisi berita. Berita bom bunuh diri di Kandahar dibacakan dengan gambar sudut jalan di Kandahar, dilanjutkan gambar sudut pasar, gambar orang naik sepeda, gambar sudut jalan yang lain lagi. Dan karena durasinya yang terlalu pendek, urutan gambar yang sama diulang lagi sampai berita dibacakan habis.

… hal 125-126

Baca juga:  Menghadapi Ketidakpastian dengan Kesiapan

Baca juga:

Rabu, 13 Februari 2019 : 17:47 Wita
Apa itu Masyarakat 5.0?
Apa itu Masyarakat 5.0?
Jumat, 2 November 2018 : 14:23 Wita
Verspreid Geen Kletspraat of Geruchten
Verspreid Geen Kletspraat of Geruchten
Jumat, 11 Agustus 2017 : 05:23 Wita
Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!
Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!
Minggu, 25 November 2018 : 11:56 Wita
Memaknai Hari Guru di Era Revolusi Industri 4.0
Memaknai Hari Guru di Era Revolusi Industri 4.0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *