Pensiun adalah Retire, Ganti Ban | suburaID
Menu


Pensiun adalah Retire, Ganti Ban
Alasan kenapa mau jadi PNS. Sumber: Youtube tirto.id

Alasan kenapa mau jadi PNS. Sumber: Youtube tirto.id

DALAM beberapa hari terakhir ini ada obrolan di sebuah grup yang mengundang perhatian saya. Entah saya sekadar menyeletuk, basa-basi, say hello, atau lebih serius lagi mengusik nalar sehingga mengundang komentar panjang.

Kebetulan, pekan ini momennya adalah penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Di kampus, saat ini ada ribuan peserta yang sedang menempuh test CPNS. Dilihat dari formasi yang dibutuhkan pemerintah daerah setempat, mereka peserta rata-rata adalah Sarjana.

Sementara itu, dalam sebuah obrolan, ada seorang PNS yang akan mengajukan pensiun dini. Usianya saat ini mendekati 51 tahun. Saya tidak tahu pada usia berapa ia akan pensiun. Saya berasumsi, mungkin umur 55 tahun pensiun dini. Saat ini ia sedang fokus saving, mengumpulkan assets, sangu buat bekal pensiun.

Dua hal di atas ini mencuri perhatian saya. Pasalnya, yang pertama ingin menjadi PNS, ribuan orang bersaing masuk, dengan berbagai cara dan usaha yang tidak sedikit. Sedangkan yang kedua adalah ada yang ingin segera pensiun secepatnya. Ini menarik, mengapa ada yang ingin masuk, tapi setelah masuk dan bekerja malah ingin segera pensiun dini. Ada apa?

Saya kemudian sedikit mencari tahu apa yang menjadi motivasi orang-orang memilih bekerja sebagai PNS. Ada ulasan singkat yang disajikan tirto.id terkait test CPNS ini. Di sana dipaparkan redaksi ternyata alasan pertama yang mendasari mereka tertarik menjadi PNS adalah karena tunjangannya lebih besar daripada gaji pokok.

Alasan berikutnya karena hari tua bisa leha-leha. Maksudnya, jika sudah pensiun, mereka beranggapan akan memiliki banyak waktu untuk dinikmati bersama anak cucu. Alasan ketiga karena pekerjaan PNS mudah, tidak membutuhkan keahlian teknis khusus yang berat, dan seperti yang banyak terlihat di media hanya pekerjaan administratif.

Alasan keempat karena bisa keliling Indonesia gratis. (Wow… Saya jadi ingat seseorang yang keluar dari PNS kemudian keliling dunia gratis). Ini biasanya dalam rangka perjalanan dinas seperti dalam rangka pelatihan, pelaporan, studi banding, kerjasama dan lain-lain dengan dana anggaran perjalanan dinas yang besarnya tergantung daerah setempat.

Baca juga:  Bacaan Bagus, Memaksimalkan Potensi Anak Didik

Alasan terakhir menjadi PNS adalah karena tuntutan orang tua. Biasanya karena orang tuanya telah menjadi PNS dan merasakan enaknya bekerja mengabdi pada negara selama puluhan tahun, kemudian mendapatkan jaminan pensiun yang cukup. Ini mendorong agar kelak putra-putrinya juga mengikuti pekerjaannya yang sama.

Saya menduga alasan-alasan tersebut spontanitas saja ketika para calon PNS ini ditanya surveyor saat itu. Apalagi kemungkinan alasan tersebut akan berubah ketika yang bersangkutan telah mendapatkan wawasan baru, pemahaman, etos kerja, dan pengalaman baru, baik ketika baru bekerja, meniti karir, berprestasi, hingga memasuki masa pensiun.

Menurut sumber ini, seorang PNS yang telah berusia minimal 45 tahun dan telah mengabdi dengan masa kerja paling sedikit 20 tahun dapat mengajukan pensiun dini. Pensiun ini diajukan ketika seorang PNS belum mancapai batas usia pensiunnya. Kedua persyaratan tersebut (batas usia dan masa kerja) bersifat kumulatif dan harus terpenuhi kedua-duanya. Jika mengajukan pensiun dini kurang dari syarat usia dan masa kerja, maka tidak diberikan hak pensiun.

Lalu, mengapa jika sudah bekerja, mudah, enak, nyaman, fasilitas dan tunjangan terjamin, tapi ingin pensiun dini?

Setiap orang tentu berbeda dan punya alasan sendiri. Saat ini yang sering didengar masyarakat awam di lingkungan terdekat adalah adanya anggapan bahwa jika seseorang itu pensiun, maka dia lepas dari beban dan masalah pekerjaan sehingga bisa leha-leha tidak bekerja.

Ternyata justru pengertian pensiun bisa leha-leha dan tidak ada masalah inilah yang menjadi masalah utamanya. Kok bisa? Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Jika alasan pensiun leha-leha ini terus terbawa selama bekerja dan pensiun, maka menurut sejumlah ahli perlu di-redefinisi kembali.

Setelah hak pensiun diterima, orang mungkin lupa bahwa yang dibayarkan hanya pensiun pokok saja. Tidak dengan tunjangan yang selama bekerja sebelumnya selalu diberikan, kecuali tunjangan pangan dan tunjangan keluarga. Padahal pensiun pokok tidak begitu besar untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap bulan. Menurut Peraturan Pemerintah, besaran pensiun pokok tergantung golongan.

Baca juga:  Promosi Kampus, Menjawab Tantangan Masa Depan

Oleh karena itu, bagi pensiunan dengan golongan rendah akan mendapatkan besaran uang pensiun yang mungkin juga cukup terbatas untuk dirinya sendiri. Ini juga tergantung kemampuan masing-masing orang mengelolanya. Belum termasuk pengaruh inflasi dan tingkat kebutuhan hidup layak suatu daerah. Sebaliknya, jika tak pandai mengelola kebutuhan, maka pensiun akan penuh derita, begitu kata Merry Riana.

James Gwee mengatakan pensiun itu retire, ganti ban. “Dalam bahasa Indonesia memang pension itu pensiun, the word is pension. Tapi kalau dalam bahasa Inggris, pensiun itu adalah retire. Retire itu adalah ganti ban. Mungkin kita sudah kerja dari usia 25 tahun sampai 55 tahun, kelihatan sudah lelah, tetapi begitu masuk usia pension, retire, ganti ban. Berarti, dari usia 55 sampai usia mungkin 85 seharusnya lebih nyaman, lebih enjoy, lebih cepat, lebih mulus, kenapa bisa begitu?” katanya.

Menurutnya, karena selama bekerja dari usia 25-55 tahun tanpa disadari seseorang telah mengumpulkan aset cukup banyak. Bukan hanya dalam bentuk uang, rumah, dan harta saja. Tetapi juga termasuk knowlegde, experience, know-how, skills, network, reputation.

“Kita juga punya reputasi atau nama baik, sehingga pada usia 55th, misalnya kita akan buka usaha, kita juga sudah punya teman-teman yang kita bisa ajak ke rumah makan kita,” katanya.

Dengan demikian, menurutnya, pensiun itu semestinya tidak penuh dengan derita, pensiun itu retire, ganti ban. “30 tahun berikutnya, jalan menjalankan (kendaraan) lebih mulus, lebih tenang, lebih happy,” ujarnya.

Yup, saya sependapat dengan pensiun adalah retire agar tidak penuh derita. Ini juga berlaku untuk pekerja non-goverment, swasta, wirausahawan, ataupun pengusaha. Pada titik usia tertentu ia akan pension. Bagi pengusaha, usahanya bisa dilanjutkan putra-putrinya sambil ikut mengontrol dan menjadi mentor.

Namun, menjadi mentor untuk keluarga sendiri, terutama untuk anak-anak, agar mau meneruskan usaha atau perusahaan orang tua ternyata tidak mudah. Memang, tidak sedikit yang berhasil usaha/perusahaan orang tua dilanjutkan oleh anak-anaknya. Namun, tidak sedikit pula saya menemukan anak-anak tidak memiliki keahlian yang sama dengan orang tua. Saya temukan, dalam sekian tahun usaha/perusahaan tersebut berjalan normal. Tapi tidak tumbuh dan berkembang, dan lambat laun berakhir, tutup.

Baca juga:  [Video] Menonton LKBB, Lomba Keterampilan Baris Berbaris

Masalahnya ternyata bisa diidentifikasi jauh hari sebelumnya. Orang tua terlalu sibuk dengan usahanya sehingga melupakan pembinaan generasi berikutnya. Anak-anak tidak dilibatkan orang tua dalam setiap kali perusahaan dibangun. Bagaimana cara membangun perusahaan, melakukan negosiasi, membina jaringan, membangun reputasi dan sebagainya yang memang secara bertahap dilakukan ketika mengembangkan perusahaan.

Seringkali, kalaupun anak-anak dilibatkan ketika membangun perusahaan, passion anak terlihat kurang, tidak begitu suka dan tidak antusias tertarik. Malah anak-anak lebih suka bermain sesuka hatinya. Menurut saya, inilah tantangan orang tua membangun generasi muda. Tidak suka di saat itu, bukan berarti tidak memiliki bakat. Maka, para orang tua yang menjadi pengusaha mulai mencoba memikirkan generasi penerus atau kader jauh hari sebelumnya. Jika tidak ditemukan bakat dari mereka, maka segera switch atau dialihkan untuk kader lainnya.

Sementara itu, istilah pensiun dalam goverment hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan sudah tidak diberi kewajiban oleh negara dan negara telah memberikan penghargaan pensiun. Tetapi pekerjaan atau profesi sesungguhnya kadang masih diperlukan, seperti guru, dosen, bidan, atau dokter. Mereka pada usia tertentu ketika memasuki usia pensiun, tetapi kadang karena keahlian, kemampuan, kecintaan pada profesi, profesional, apalagi masih produktif dan banyak dibutuhkan banyak orang, maka mereka bisa terus melanjutkan profesi non-goverment. “Dikaryakan,” begitu kata Ibu saya yang pensiunan guru sejak 1987.

Kerja dan Motivasi menurut Pak Rama Royani atau Abah Rama. Sumber: screenshot

Kerja dan Motivasi menurut Pak Rama Royani atau Abah Rama. Sumber: screenshot

Menurut Abah Rama Royani, seorang pensiunan yang kini menekuni profesi sebagai coach Talents Mapping atau pemetaan bakat, mengatakan bahwa ada 4 cara seseorang yang ingin mengetahui apakah pekerjaan yang telah ditekuni itu sesuai bakat, yakni Enjoy, Easy, Excellent, dan Earning.

Bersambung…


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *