Evaluasi dan Perbaikan Kuliah Daring, Mencari Metode yang Tepat | suburaID
Menu


Evaluasi dan Perbaikan Kuliah Daring, Mencari Metode yang Tepat
Sharing kuliah daring di depan para dosen Universitas Mulia, 7 Juli 2020. Foto: Nadya

Sharing kuliah daring di depan para dosen Universitas Mulia, 7 Juli 2020. Foto: Nadya

BULAN Juli yang lalu, (7/7), saya didapuk pertama kali presentasi untuk membagikan pengalaman di depan para dosen Universitas Mulia tentang pengalaman menerapkan kuliah online atau daring selama semester Genap 2019/2020.

Ceritanya, di awal semester genap itu sebenarnya kuliah sudah berjalan luring (offline) di kelas. Salah satu mata kuliah yang saya asuh berisi praktikum Cloud Computing. Selang dua minggu kemudian kuliah dan praktikum dialihkan sepenuhnya daring mengingat situasi genting saat itu, pandemi atau pagebluk Covid-19.

Lantaran sudah pernah menerapkan kuliah daring di semester-semester sebelumnya, maka proses perpindahan dari luring beralih ke daring, alhamdulillah, bagi saya tidak mengalami hambatan yang berarti.

Meski demikian, saya pikir ada hal teknis yang bisa jadi cukup mengganggu saat itu, yakni kekuatan Notebook dan akses Internet menggunakan pulsa telepon selular. Ternyata, selain saya, anak-anak di rumah, terutama ibunya anak-anak merasa repot membelikan pulsa.

Masalah Akses dan Biaya Internet

Saya sendiri menghitung biaya pulsa di akhir bulan Maret mengalami lonjakan cukup besar. Di atas 600 ribu perbulan.

Masalah ini saya tahan dulu waktu itu. Saya pikir pandemi ini tidak berlangsung lama setelah mendengar dan membaca publikasi paper beberapa pakar dan ilmuwan matematika yang memperkirakan pandemi berakhir Mei dan Juni. Grafik turun melandai.

Tapi saya agak ragu karena pagebluk ini luar biasa kecepatan perkembangannya. Pola sebaran wabah yang tidak menentu. Sangat cepat meluas bahkan dalam hitungan hari sudah merambah di 215 negara di seluruh dunia. Itulah kemudian saya mencari alternatif berlangganan Internet di rumah.

Pertama, saya coba mendaftar **home mengingat ada brosur iklan yang disebar di teras rumah. Biayanya sekira 250-300 ribu perbulan, masuk masa promo. Setelah mengisi formulir pendaftaran online, ternyata langsung ditolak. Dikatakan daerah saya tidak ada jaringan. Padahal… ah sudahlah.

Baca juga:  Akhirnya, Membeli Sepatu Baru

Tanpa pikir panjang saya beralih ke ****home dan ada program untuk pelajar. Setelah mengisi pendaftaran, dalam satu jam ada konfirmasi dari kantor pusat di Jakarta. Proses pendaftaran agak sedikit ribet karena saya pilih program pelajar untuk si sulung yang SMA. Prosesnya cukup cepat. Kurang dari 1 minggu saya sudah bisa mengakses Internet di rumah. Biayanya di bawah 200ribu perbulan. Resolved!

Masalah Proses Pembelajaran Daring

Masalah berikutnya adalah pada proses pembelajaran. Seperti umumnya terjadi pada kuliah atau sekolah. Setelah berjalan sekian minggu tampak mahasiswa seperti mengalami kejenuhan. Ya, kalau yang dipersoalkan adalah subyektif seperti jenuh, kesal, capek, maka sebenarnya dosen juga sangat JENUH dan TERTEKAN. Lah wong dosen juga manusia, ya manusiawi lah sama-sama capek dan jenuh, sama-sama memiliki beban meski tingkatnya berbeda.

Dosen, mau tak mau harus bekerja menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Dosen pun harus melakukan dan menyelesaikannya secara profesional sesuai dengan sertifikat profesional yang disandangnya. Memang sih ada dosen yang gampangan dan memberi nilai pun suka-suka saja. Malah mengaku dan mengajari saya cara atau tips beres menilai mahasiswa sesuai maunya si mahasiswa. Masa dosen profesional kayak gitu… Hehe…

Tapi, memang persoalannya dalam hal ini lain daripada yang lain. Banyak dosen yang hanya memberikan tugas-tugas saja tanpa memberikan dasar teori yang memadai. Mahasiswa hanya disuruh membaca sendiri setelah diberi softcopy, disuruh mempelajari sendiri video di YouTube, atau video si dosen mengajar dengan suara pelan dan ogah-ogahan kayak menggerutu, berbaju kaos oblong, memakai sarung, wis… rasanya tidak pantas tampil di publik deh…

Akibatnya, mahasiswa juga mengikuti cara si dosen. Setiap kali mahasiswa ini mengikuti kuliah daring, maka ia melakukan hal yang sama, ogah-ogahan juga. Membuat tipuan di layar daringnya dengan memasang foto seolah sedang menyimak, persis sama seperti yang dilakukan si dosen ketika sedang mengikuti webinar. Dosen apaan sih?

Baca juga:  Tepat 19 Tahun, Kini Melebur menjadi Universitas Mulia

Setelah memasuki akhir bulan Juni, Juli, dan awal Agustus kemarin, saya beberapa kali mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPADA Kemdikbud. Pelatihan ini cukup bagus. Dari sini saya mendapat wawasan bahwa apa yang sudah saya lakukan sebenarnya sudah tepat, hanya saja masih ada banyak kekurangan. Misalnya, kekurangan pada metode pembelajaran.

Saya merasa, kekurangan saya adalah seperti memindah kebiasaan mengajar di kelas, beralih ke mengajar di Classroom dan YouTube. Cara mengajar sama, hanya beda media saja. Nah, ini salah besar!

Untuk itu, saya evaluasi dengan membuat paper dan saya presentasikan dalam konferensi nasional. Saya dokumentasikan di Researchgate. Alhamdulillah, dari hari ke hari paper ini selalu naik jumlah pembacanya. Dalam kurun waktu 2 bulan sudah mencapai 1.000 lebih pembaca. Luar biasa!


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *