Tulisan kaligrafi di Masjid Nurul Iman Damai Bahagia Balikpapan. Foto: Dok. pribadi
Selesai salam, seperti biasa saya duduk sebentar. Entahlah, kali ini pandangan saya tertuju pada tulisan kaligrafi di tembok masjid ini. Bukan hanya memandang, tapi muncul rasa penasaran: ini sebenarnya tulisan apa ya?
Setidaknya, ada dua tulisan kaligrafi di depan saya. Satu di sebelah kiri yang mudah sekali dibaca: kalimat tahlil dan tasyahud. Satu lagi sebelah kanan ini. Terus terang, saya kesulitan membacanya. Saya tidak pernah belajar ilmu kaligrafi.
Saya kemudian mencari tahu apa sebenarnya tulisan kaligrafi ini. Dari informasi yang saya dapat, tulisan ini bukan dari Al Quran maupun Al Hadis. Tapi, ini adalah atsar dari sahabat Rasulullah ﷺ, yakni Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
Dalam bentuk transliterasi, kaligrafi ini ternyata harusnya lebih panjang. Kurang lebih begini:
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ حَيَاةً عِنْدَ الزُّهْدِ فِي دُنْيَاهُمْ، وَلَنُوقِظَنَّ الْبَصَائِرَ نُورًا لِلْمُسْتَقِيمِينَ هُدًى
Inna lil-muttaqīna ḥayātan ‘inda az-zuhdi fī dunyāhum, wa lanūqiẓanna l-baṣā’ira nūran lil-mustaqīmīna hudan
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa memiliki kehidupan (sejati) melalui sikap zuhud terhadap dunia mereka, dan sungguh Kami akan membangkitkan mata hati (basyirah) sebagai cahaya bagi orang-orang yang istiqamah, petunjuk.”
Makna: Kalimat ini menggambarkan paradoks kehidupan. Orang yang bertakwa (muttaqin) justru menemukan hakikat kehidupan sejati (hayatan) bukan dengan mengejar dunia, tetapi dengan bersikap zuhud (tidak terikat, tidak tamak) terhadap dunia. Kehidupan sejati mereka terletak pada ketenangan hati, kebebasan dari belenggu materi, dan fokus pada akhirat.
Sumber: Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Asfiya’ (Jilid 1, halaman 216), dan juga disebutkan dalam kitab-kitab lain seperti Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Ia dinisbatkan kepada Abu Darda’ Uwaimir bin Zaid Al-Khazraji radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi yang dikenal dengan kesederhanaan dan zuhudnya.
Relevansi Zaman Sekarang
Begini. Di era yang memuja gemerlap materi, kalimat Abu Darda’, yakni “Inna lil-muttaqīna ḥayātan ‘inda az-zuhd…” terdengar seperti suara asing dari masa lalu. Tapi justru di sinilah letak kejeniusannya: Atsar ini bukan ajaran untuk melarikan diri dari dunia, melainkan seni mengolah hati agar merdeka di tengah hingar-bingarnya.
1. Zuhud: Bukan Anti-Dunia, tapi Anti-Perbudakan
Zuhud sering disalahpahami sebagai hidup miskin atau menolak kemajuan. Padahal, makna sejatinya adalah “tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir”.
Lihatlah Nabi Sulaiman yang kaya raya tapi hatinya tak terikat (QS. Sad: 32), atau Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang kekuasaannya justru membuatnya makin tawadhu’.
Logikanya sederhana:
– Jika Anda memiliki Rp 1 miliar, tapi gelisah kehilangannya, berarti Anda miskin.
– Jika Anda hanya punya Rp100 ribu, tapi hati tenang, berarti Anda kaya sejati.
2. Basyirah: GPS Spiritual di Zaman Edan
Bagian kedua atsar (“lanūqiẓanna l-baṣā’ira…“) adalah janji Allah yang relevan di era digital. Basyirah (mata hati) adalah kemampuan membedakan:
– Mana konten yang mencerahkan, mana yang menjerumuskan.
– Mana kerja untuk ibadah, mana kerja untuk obsesi gelimang harta.
Tanpa basyirah, kita seperti orang buta di tengah banjir informasi—sibuk tapi tak tahu arah.
3. Zuhud adalah Solusi Krisis Mental Modern
Data WHO (2023) menyebut 1 dari 8 orang di dunia alami gangguan mental. Salah satu penyebabnya: kehidupan yang dikendalikan oleh standar materi. Atsar Abu Darda’ menawarkan solusi:
– Detoks hati dari racun “harus lebih kaya, lebih terkenal”.
– Fokus pada “kehidupan sejati” (ketenangan, syukur, ibadah).
4. Kritik untuk Kaum “Zuhud Palsu”
Zuhud bukan alasan untuk:
– Bermalas-malasan (QS. Al-Jumu’ah: 10).
– Mengabaikan tanggung jawab duniawi (HR. Tabrani).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bekerjalah untuk duniamu seolah hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah mati besok.” (Hadis Hasan).
Zuhud adalah Seni Merdeka
Atsar ini mengajak kita pada revolusi makna hidup:
– Dunia adalah ladang, bukan tujuan.
– Kekayaan sejati ada di hati, bukan di rekening bank.
Di Masjid tempat kaligrafi ini tergantung, ia bukan sekadar hiasan dinding. Ia seruan untuk membebaskan diri dari ilusi materi, karena hanya dengan zuhud, kita menemukan “hidup” yang sesungguhnya.
Pertanyaan Refleksi:
“Jika hari ini Anda kehilangan semua harta, apakah hati Anda masih tetap tenang?” Jika jawabannya “tidak”, mungkin inilah saatnya belajar zuhud dari Abu Darda’.