Ilustrasi: Ketika Akademisi berbicara di Media Massa. Chat GPT
Oleh: Subur Anugerah
Afiliasi: subura.id
Email: subur.anugerah@gmail.com
DALAM pekan ini saya membaca sebuah berita di media massa yang menampilkan komentar seorang akademisi terhadap pembangunan kota, seiring dengan proyek RDMP berakhir. Akademisi menilai roda ekonomi tak melambat karena ada IKN.
Kebetulan, saya cukup mengenal narasumber tersebut. Meski pensiunan dosen, tapi masih aktif mengajar, menulis buku, melakukan penelitian serta terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kiprah dosen ini dalam dunia pendidikan tinggi, termasuk perannya membantu pendirian sejumlah perguruan tinggi dan kepengurusannya, menunjukkan rekam jejak akademik yang panjang.
Oleh karena itu, tidak heran jika dalam beberapa waktu terakhir dosen ini kerap dimintai pendapat oleh wartawan. Sangat layak sebagai narasumber.
Namun, ketika membaca berita tersebut sampai tuntas, antusiasme awal saya justru berubah menjadi bengong. Judul berita yang menonjolkan kata akademisi, tetapi isi pernyataannya tidak mencerminkan karakter analitis yang lazim diharapkan dari seorang akademisi.
Pernyataan yang dimuat bersifat umum dan normatif, tanpa dukungan data empiris seperti angka PDRB, laju pertumbuhan ekonomi, serapan tenaga kerja, indeks kegiatan bisnis, atau data rinci terkait Proyek RDMP maupun pembangunan IKN.
Tidak tampak pula rujukan terhadap teori ekonomi regional, misalnya, growth pole theory, regional multiplier effect, agglomeration economy, atau economic spillover, yang justru sangat relevan untuk menjelaskan dinamika ekonomi wilayah penyangga proyek strategis nasional.
Selain itu, artikel tersebut juga tidak memperlihatkan metode atau pendekatan analisis tertentu, seperti input-output analysis, proyeksi pertumbuhan ekonomi, atau analisis komparatif antar wilayah.
Padahal, penyebutan kata akademisi dalam pemberitaan publik seharusnya mengisyaratkan bahwa pernyataan yang disampaikan berangkat dari kajian ilmiah, atau setidaknya merujuk pada hasil riset dan sumber data yang dapat diverifikasi.
Akibat ketiadaan elemen-elemen tersebut, pernyataan yang tampil di ruang publik lebih menyerupai opini personal ketimbang analisis akademik.
Dalam berita media massa, penggunaan label akademisi menjadi problematis. Ia tidak sekadar menunjuk status profesi, tetapi membawa ekspektasi intelektual tertentu, yakni kedalaman berpikir, kehati-hatian dalam menarik kesimpulan serta keberpihakan pada bukti dan kerangka keilmuan.
Kesalahan Wartawan dalam Mengutip Akademisi
Namun, tanggung jawab atas problem ini tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada akademisi. Ada sejumlah potensi kesalahan jurnalistik yang patut dicermati.
Pertama, reduksi pernyataan. Tidak jarang akademisi menyampaikan penjelasan panjang dengan nuansa data, konteks, dan batasan analisis. Akan tetapi, demi kebutuhan berita cepat dan ringkas, wartawan sering mereduksinya menjadi satu atau dua kutipan singkat yang kehilangan konteks akademiknya.
Kedua, pemilihan kutipan yang tidak representatif. Wartawan cenderung memilih pernyataan yang mudah dipahami publik atau yang terdengar afirmatif, sementara bagian yang berisi kehati-hatian ilmiah, asumsi, atau syarat-syarat analisis justru dihilangkan.
Ketiga, ketiadaan verifikasi akademik. Dalam banyak kasus, wartawan tidak menanyakan sumber data, dasar teori, atau rujukan riset dari pernyataan akademisi, sehingga berita tidak memperlihatkan perbedaan antara opini pribadi dan analisis ilmiah.
Keempat, framing judul yang berlebihan. Penyematan label “akademisi menilai” atau “akademisi memastikan” sering kali menciptakan kesan seolah-olah pernyataan tersebut merupakan kesimpulan ilmiah yang solid, padahal isinya bersifat prediksi atau pandangan umum.
Kesalahan-kesalahan ini berpotensi merugikan akademisi, karena publik menilai isi pernyataan secara apa adanya, tanpa mengetahui proses penyederhanaan dan penyuntingan yang terjadi di ruang redaksi.
Tanggung Jawab Akademisi dalam Ruang Publik
Meski demikian, akademisi tetap memiliki tanggung jawab moral, etika, dan ilmiah ketika berbicara di media massa. Seorang akademisi tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga institusi, disiplin ilmu, dan tradisi keilmuan yang melekat padanya.
Ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian akademisi agar tidak tampak “salah” atau tereduksi menjadi sekadar pemberi opini:
- Menyampaikan batasan analisis secara eksplisit, misalnya, dengan menyebut bahwa pandangan yang disampaikan berbasis data tertentu atau bersifat sementara.
- Menyebutkan sumber data atau riset kunci, meskipun secara singkat, agar wartawan memiliki pijakan untuk menuliskannya.
- Menghindari pernyataan yang terlalu general dan konklusif, terutama untuk isu kompleks seperti ekonomi regional dan pembangunan nasional.
- Meminta konfirmasi kutipan jika memungkinkan, terutama untuk isu strategis yang berpotensi menimbulkan tafsir keliru.
- Membedakan secara tegas antara opini personal dan analisis akademik sehingga publik tidak salah menangkap posisi keilmuan yang disampaikan.
Apa yang Disampaikan Akademisi di Media Massa?
Akademisi memiliki peran penting di media massa, terutama dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan pemahaman publik. Hal yang seharusnya disampaikan akademisi di media massa mencakup:
- Penyampaian hasil riset dan pengetahuan. Akademisi wajib menyebarluaskan hasil penelitian dan pengetahuan dari disiplin ilmunya kepada publik, bukan hanya untuk kalangan terbatas. Ini membantu masyarakat memperoleh pengetahuan yang benar dan terpercaya.
- Edukasi dan literasi publik. Media massa berfungsi sebagai sarana edukasi. Akademisi dapat membantu menyederhanakan dan memperjelas penjelasan mengenai isu-isu kompleks, serta membangkitkan rasa ingin tahu masyarakat terhadap berbagai hal.
- Analisis isu terkini. Akademisi dapat memberikan analisis yang mendalam dan berimbang mengenai topik hangat atau tren yang sedang berkembang di masyarakat, menggunakan perspektif keilmuan untuk membangun kredibilitas dan otoritas.
- Kontrol sosial dan partisipasi publik. Akademisi dapat berperan sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan atau pembangunan. Keterlibatan publik melalui penyampaian aspirasi dan pandangan para ahli sangat penting untuk tata kelola pemerintahan yang baik dan transformasi pembangunan.
- Membangun opini publik yang konstruktif. Melalui artikel opini atau diskusi, akademisi dapat membentuk opini publik berdasarkan fakta dan analisis kritis, bukan sekadar emosi, untuk mendorong dialog yang berani dan terbuka.
- Menjunjung etika dan objektivitas. Pesan yang disampaikan harus didasari pada etika komunikasi yang baik, menghindari penyebaran hoaks, SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), atau ujaran kekerasan, serta mencantumkan sumber informasi yang kredibel.
Secara keseluruhan, akademisi seharusnya memanfaatkan media massa untuk mengembalikan pengetahuan yang didapat dari publik (melalui riset yang didanai publik) kepada publik dalam bentuk yang mudah dipahami, akurat, dan bermanfaat untuk kemajuan bersama.
Penutup
Dalam pemahaman umum, akademisi adalah figur yang hidup di dalam ekosistem ilmiah, seperti mengajar, meneliti, menulis karya ilmiah, dan terlibat dalam diskursus intelektual. Gelar dan jabatan akademik bukan sekadar atribut formal, melainkan simbol komitmen terhadap rasionalitas, bukti, dan kejujuran intelektual.
Oleh karena itu, ketika akademisi berbicara di media massa, kualitas wacana publik sangat bergantung pada dua hal, yakni ketelitian jurnalis dalam mengemas pernyataan, dan kehati-hatian akademisi dalam menyampaikan pandangan.
Keduanya harus saling bertemu agar ruang publik tidak dipenuhi opini yang tampak ilmiah, tetapi kehilangan fondasi keilmuan.
Di sinilah tantangan kita bersama: menjaga agar diskursus publik tetap berpijak pada pengetahuan, bukan semata-mata pada otoritas gelar atau popularitas narasumber.
Referensi:
[1] Ini Alasan Ilmiah Ilmuwan Kudu Sering Berbagi Ide Maupun Temuan di Media Sosial.
[2] Tips dan Trik Menulis Press Rilis bagi Dosen
[3] Membicarakan Gagasan Media di Zaman Sekarang
[4] Bisnis Indonesia Berbagi Tips Menulis di Media Massa Bagi Dosen FEB UGM
[5] Akademisi Sarankan Konsumsi Kelor untuk Imunitas Tubuh (contoh berita media massa bagi akademisi dan dosen)