Menu


Ini Alasan Ilmiah Ilmuwan Kudu Sering Berbagi Ide Maupun Temuan di Media Sosial
Conceptual depiction of inreach and outreach for Twitter communication by academic faculty. Foto:  Isabelle M. Côté

Conceptual depiction of inreach and outreach for Twitter communication by academic faculty. Foto: Isabelle M. Côté

Saat ini banyak sekali para pengguna baru media sosial yang tiba-tiba muncul dan meledak dengan jumlah yang besar. Data APJII yang saya peroleh menunjukkan, di tahun 2017 tercatat layanan yang paling banyak diakses di Indonesia adalah aplikasi Chatting dan media sosial.

Besarnya pengguna layanan ini mendorong para ilmuwan untuk menggunakan media sosial yang dimanfaatkan untuk menyebarkan ide maupun temuan mereka.

Penggunaan media sosial (a.k.a Twitter, Facebook, Instagram, Whatsapp, etc.) memiliki potensi digunakan untuk menyebarluaskan informasi ilmiah secara lebih luas. Hasil penelitian, temuan maupun ide-idenya dibagikan bukan saja kepada komunitas ilmiah mereka saja yang terbatas, tetapi juga kepada masyarakat di luar komunitas dengan jangkauan pengikut yang lebih banyak.

Upaya berbagi ide maupun temuan ini diharapkan akan mendorong para ilmuwan untuk menginvestasikan temuan-temuannya di dalam memanfaatkan kehadiran media sosial dengan jangkauan (pengaruh) ilmiah yang lebih luas hingga kepada para pengambil keputusan.

Sebagaimana diketahui, komunikasi merupakan bagian integral dari budaya ilmiah. Zaman dulu, para ilmuwan terkemuka seperti Charles Darwin pernah menulis buku tentang asal-usul spesies yang ditujukan baik untuk audiens populer maupun non-spesialis.

Sekarang yang terjadi adalah, pertama laju komunikasi sains terjadi sangat cepat. Kedua, informasi yang dibagikan dalam sejumlah unit yang lebih kecil. Dan ketiga, cara pendistribusiannya atau pengirimannya jauh lebih banyak.

Ketiga tren ini telah mencapai puncaknya dalam penggunaan media sosial oleh para ilmuwan untuk berbagi penelitian mereka. Syaratnya, penelitian tersebut mudah diakses dan relevan bagi pengguna media sosial yang memiliki potensi — untuk memanfaatkan temuan, ide, maupun hasil penelitian — di luar kelompok ilmuwan.

Baca juga:  Foto: Agus Martowardojo Gubernur Bank Indonesia

Jadi, penekanan disini pada aksesibilitas dan relevansi yang sejalan dengan tujuan ilmuwan menyebarkan hasil penelitiannya, dan meninggalkan jargon lama di era “post-truth” atau politik pascakebenaran yang menekankan emosi atas informasi faktual.

Di Indonesia, kita tentu ingat para ilmuwan yang menggunakan media sosial dan memiliki pengaruh yang besar, baik kepada masyarakat luas di luar komunitasnya maupun para pengambil keputusan di lingkungan pemerintah.

Referensi:
[1] Scientists on Twitter: Preaching to the choir or singing from the rooftops?
[2] Era Post-Truth: Kebenaran Jadi Komoditas
[3] Etika Media di Era Post-Truth


Baca juga:

Minggu, 25 November 2018 : 11:56 Wita
Memaknai Hari Guru di Era Revolusi Industri 4.0
Memaknai Hari Guru di Era Revolusi Industri 4.0
Kamis, 1 November 2018 : 12:46 Wita
Wahai Arab Saudi, Eksekusi itu Notifikasi Dong!
Wahai Arab Saudi, Eksekusi itu Notifikasi Dong!
Rabu, 14 November 2018 : 10:05 Wita
“Kamu Tidak Menulis, Kamu Berak!”
“Kamu Tidak Menulis, Kamu Berak!”
Senin, 12 November 2018 : 09:49 Wita
Tsundoku: Membiarkan Bahan Bacaan Menumpuk
Tsundoku: Membiarkan Bahan Bacaan Menumpuk
Senin, 29 Oktober 2018 : 10:16 Wita
Check Website yang Mengalami Downtime
Check Website yang Mengalami Downtime
Selasa, 1 Januari 2019 : 13:44 Wita
Mengubah Mindset di Zaman Kiwari
Mengubah Mindset di Zaman Kiwari

Satu tanggapan untuk “Ini Alasan Ilmiah Ilmuwan Kudu Sering Berbagi Ide Maupun Temuan di Media Sosial”

  1. […] sumber media digital ataupun konvensional, melalui jejaring komunitas maupun jejaring sosial, meningkatkan kemampuan menulis, maupun mengikuti pelatihan dan peningkatan pengembangan diri […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *