Menu


Tsundoku: Membiarkan Bahan Bacaan Menumpuk
Ingin membeli buku ini, Bukan Guru Biasa karya pak Tuswadi dan buku Menulis itu Indah, kumpulan penulis dunia. Foto: dok. pribadi

Ingin membeli buku ini, Bukan Guru Biasa karya pak Tuswadi dan buku Menulis itu Indah, kumpulan penulis dunia. Foto: dok. pribadi

Membeli buku adalah salah satu hobi saya. Hobi yang diawali dari perkenalan saya dengan majalah Jayabaya, koran Jawa Pos, dan perpustakaan saat di sekolah dasar.

Majalah Jayabaya dan koran Jawa Pos terbitan Surabaya itu dilanggan ayah saya sejak dulu. Saya lupa kapan persisnya berhenti berlangganan Jawa Pos. Mungkin menjelang krisis moneter hebat tahun 1998.Sedangkan sampai sekarang, 2018, Jayabaya masih diteruskan dilanggan ibu saya. Mungkin lamanya setara seumuran saya 40 tahunan lebih.

Ben iso boso Jowo…,” kata ibu saat itu. Tapi saya yakin, ibu tetap melanggan majalah ini juga karena ada rasa. Saya menyebut, rasa nyaman ketika dibaca sembari leyeh-leyeh. Memang, majalah ini cocok sebagai bacaan di kala senggang untuk pensiunan dan usia lanjut.

Tahun 2017 lalu ketika mudik, saya diberi ‘sangu’ ibu kue lepet dan satu buah majalah Jayabaya terbaru yang beliau bawa saat itu. Sampai sekarang, tahun 2018, saya belum tuntas membacanya. Mungkin saya belum pensiun dan masih merasa muda. 😀

Omong-omong. Saya selalu tertarik untuk membaca buku. Buku-buku yang membuat saya tertarik adalah buku tentang pengembangan diri, self improvement. Namun, entah mengapa ketika buku itu sudah ada di tangan, dalam arti, baik dari meminjam atau membeli sendiri, saya tidak membaca tuntas.

Sebenarnya, bukan berarti saya tidak membaca tuntas. Maksud saya, ada yang tuntas, ada yang tidak. Tapi, jangan berharap saya menyebutkan buku apa yang tuntas dibaca looh yaa…

Bagi saya, membaca buku ini terkait kebutuhan dan waktu yang tersedia. Untuk itulah, saya lebih suka menyimpannya bertumpuk-tumpuk buku tersebut untuk suatu saat saya gunakan kembali sebagai bahan rujukan atau referensi.

Baca juga:  The Rules of Parenting, Opini tentang Aturan Pengasuhan Anak bagi Orang Tua

Bagaimana pun, buku saat ini sudah bergeser ke bentuk digital. Saya pernah melanggan buku digital ini dengan masa waktu. Tapi ya begitulah, tampaknya saya hanya butuh saat tertentu saja. Selebihnya, saya jarang membacanya karena kesibukan.

Saya berkesimpulan, melanggan buku digital itu mirip seperti menumpuk buku untuk tidak dibaca. Bedanya, buku masih bisa digunakan kembali. Sedangkan langganan buku digital ada batas masa berlakunya. Seringkali sistem meminta update software, minta ganti hardware baru, muncul masalah kompatibiltas yang menyebabkan buku digital tidak cocok software atau hardware lama, dan lain-lain. Akhirnya jadi repot akan sulit digunakan kembali. Awalnya simple, repotnya belakangan.

Betul juga istilah dalam bahasa Jepang ini. Tsundoku, yang berarti membiarkan bahan bacaan menumpuk tanpa membacanya.

Zaman sekarang pun bertamah tantangan baru yang menggeser buku. Hadirnya teknologi media sosial hampir mengambil alih setiap waktu manusia. Banyak orang seperti gagap tekologi saat ini. Seolah memasuki masa “Booming”. Membaca berita gosip, rumor, dan yang mengaduk-aduk emosi tampak lebih menarik bagi pemirsa.

Meski demikian, sebenarnya ini tantangan bagi orang yang tidak suka membaca, apalagi membaca dengan cara pelan menjadi dengan cara cepat. Beberapa tutorial dan banyak pelatihan membaca cepat bermunculan. Testimoni juga sudah cukup banyak. Namanya pelatihan, ada yang berhasil menerapkan pelatihan, ada pula yang belum berhasil.

Beberapa kiat baca cepat atau baca kilat yang saya rangkum ChirpStory Agus Setiawan, seorang trainer atau coach berpengalaman dengan beberapa muridnya yang saya lihat cukup berhasil menerapkan pelatihan.

Pertama adalah tinjauan awal.

Tinjauan awal adalah langkah pertama yang harus dilakukan sebelum membaca dengan cara membaca sampul depan, sampul belakang dan daftar isi kemudian buat kesimpulan dan tujuan. Jika tidak menggunakan baca kilat pun, langkah ini tetap sangat membantu agar membaca menjadi lebih efektif.

Baca juga:  Menulis, Menurut Kyai dan Budayawan

Tujuan membuat tinjauan awal adalah memberikan gambaran besar apa yang bisa buku berikan, agar kita tahu cakupan umum dari buku. Ini sangat penting. Karena tanpa ini, pikiran akan kehilangan arah. Akibatnya kita sering kali lupa bab yang baru saja dibaca.

Kedua, membuat tujuan.

Tujuan memberikan arahan dan menjawab sebuah pertanyaan yg otomatis ditanyakan kepada diri kita setiap kali melakukan sesuatu.

WIIFM. What’s in it for me. Sebuah pemikiran untuk apa saya melakukan hal ini. Apa yang bisa saya dapatkan?Pikiran kita selalu menjawab. Namun, itu saja tidak membantu banyak jika jawabannya tidak diformulasikan dan dituliskan.

Mengapa dituliskan?

  1. Karena pikiran kita selalu memikirkan sesuatu. Dalam 24 jam dari 60 ribu buah pikir yang dipikirkan oleh pikiran.
  2. Karena kita memerlukan sebuah pemikiran, agar setiap kembali, maka kita akan mendapatkan tujuan yang telah ditulis.
  3. Karena jika tidak dituliskan, setiap kali kita memikirkan untuk apa kita membaca buku itu, maka pikiran akan menjawab dengan jawaban berbeda.

Tujuan haruslah menjawab apa yang ingin dicapai dan mengapa ingin mencapainya. Apa yg memberikan Anda arahan? Mengapa memberikan energi untuk menyelesaikannya? Alasan mengapa buku itu harus selesai. Itu semua akan menghidupkan hasrat untuk menyelesaikan buku dengan pemahaman dan tujuan.

Ketiga, baca kilat.

Langkah-langkah bacakilat adalah kondisi Genius, Afirmasi Pembuka, Baca Kilat, Afirmasi Penutup, Visualisasi.

Kondisi genius itu maksudnya adalah kondisi rileks, tanpa beban atau tegang dan gelisah. Kondisikan diri agar rileks. Membaca buku harus rileks sehingga informasi mudah masuk ke otak. Supaya rileks buatlah kondisi ruangan nyaman, aroma dan suasana mendukung.

Mata manusia bisa menyerap 100 juta bit informasi per detik. Pada proses ini disebut membaca dengan pikiran bawah sadar. Sedangkan pikiran sadar hanya memproses 40 bit per detik (5-9 halaman saja).

Baca juga:  Promosi Kampus, Menjawab Tantangan Masa Depan

Pikiran bawah sadar itu menyerap semua informasi yang masuk. Tanpa menyaring. Semuanya masuk sempurna. Proses membaca dengan pikiran bawah sadar ini disebut membaca dengan sel batang.

Contoh pikiran bawah sadar itu seperti ketika sedang berkendara di jalan raya, maka semua hal yang ada di depan kita, entah itu di samping kiri, kanan, atau belakang semua terekam secara tidak sadar di otak. Apabila ada sesuatu terjadi tiba-tiba di depan kita, bergerak lewat misalnya, maka kita akan reflek menginjak rem atau menghindar.

Afirmasi berarti penegasan yang positif. Tetapkan atau katakan bahwa saya membaca buku ini untuk tujuan pada langkah kedua. Baru kemudian baca kilat.

Untuk latihan pertama proses baca kilat ini harus dilakukan beberapa kali, hingga memperoleh pengalaman. Semakin berpengalaman membaca, maka semakin cepat. Lakukan afirmasi penutup dan gambarkan, visualisasikan, atau simpulkan hasil akhir membaca buku.

Semoga bermanfaat.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *