Menu


Gaji Naik, Apa yang Anda Pikirkan?
Penyerahan SK kenaikan golongan oleh Bapak Agung Sakti Pribadi, Ketua Yayasan Airlangga, Sabtu (3/11). Foto: Istimewa

Penyerahan SK kenaikan golongan oleh Bapak Agung Sakti Pribadi, Ketua Yayasan Airlangga, Sabtu (3/11). Foto: Istimewa

Alhamdulillah. Akhir pekan kemarin saya mendapat kenaikan golongan menjadi IV-A. Dihitung dengan masa kerja 17 tahun. Ada kenaikan gaji yang cukup signifikan jika dibanding 17-18 tahun yang lalu, yang hanya 365 ribu perbulan untuk gaji pertama.

Sedangkan besaran gaji untuk yang sekarang ini, rasanya tak elok saya sebut jumlahnya. Naik turun kok. Informasinya tergantung kinerja. Kadang dipotong banyak karena datang terlambat atau tidak masuk. Kalau rajin ya ada peningkatan.

Omong-omong, gajinya naik berapa sih? Confidential dan privacy, kata Mas Man, teman saya.

Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dakhiri menjelaskan bahwa kenaikan UMP tahun 2019 memperhitungkan angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi, yaitu sebesar 8,03 persen sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Besaran kenaikan upah tahun 2019 ini sedikit turun dibanding tahun 2018 yang sebesar 8,71 persen.

Beberapa sumber menyebutkan setiap tahun berarti ada kenaikan gaji sebesar 8-12 persen. Ada yang menyebutkan terjadi kenaikan kira-kira setiap 1-5 tahun. Semuanya harus win-win solution. Pekerja maupun pengusaha sama-sama untung, tidak timpang, apalagi timpang banget.

Dengan demikian, jika ditanya berapa gaji saya naik, maka – kalau saya tidak salah baca – gaji pokok saya naik sekira 20 persen dibanding tahun 2016. Dengan asumsi gaji pokok di tahun 2017 tetap. Ini artinya pertahun naik sekira 10 persen.

Terlepas dari itu semua, istri mengingatkan saya agar selalu bersyukur. Karena salah satu usaha iblis adalah menggoda manusia agar tidak bersyukur. (Al-A’raf 16-17). Mantap istriku! 😀

Bagaimana cara pekerja bersyukur?

Ada banyak cara. Selain diungkapkan dalam bentuk lisan, juga hati dan perbuatan selaras dan sejalan.

Baca juga:  Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!

Misal, dengan kenaikan gaji tersebut, alhamdulillah, pekerja bersyukur tidak melakukan tindakan yang melanggar kesepakatan kerja. Dengan kenaikan gaji tersebut, alhamdulillah, pekerja bersyukur lebih giat bekerja dan makin berusaha meningkatkan produktivitas. Macam-macam.

Tapi, menurut ulama, pengertian bersyukur bukan hanya ketika mendapatkan nikmat saja. Bersyukur itu berlaku di setiap waktu dan menjadi perilaku hidup kita sebagai hambaNya. Salat, merupakan salah satu bentuk bersyukur.

Saya jadi ingat ada suatu riwayat yang menyebutkan, Rasulullah pernah ditanya mengapa selalu salat setiap malam hingga kakinya bengkak, padahal kan sudah mendapatkan jaminan surga? Rasulullah menjawab, bukankah aku termasuk hamba yang bersyukur?

Secara ilmiah, ada penelitian manfaat bersyukur yang dilakukan Dr Michael Mc Collough dari Southern Methodist University, Dallas-Texas, dan Dr Robert Emmon dari University of California.

Penelitiannya tersebut menunjukkan bahwa orang yang setiap hari melatih dirinya untuk bersyukur ada peningkatan antusiasme, optimisme, energi, dan juga kemantapan dalam menentukan tujuan hidup.

Bahkan, mereka mengalami penurunan tingkat stres dan depresi. Selain itu, mereka juga lebih suka membantu orang lain. Ada siklus perlakuan baik pada orang-orang tersebut karena bersyukur akan mencetuskan sikap yang sama pada orang lain.

Nah, kalau begitu, setiap tahun gaji kita naik terus kan bagus banget ya? 😀

Omong-omong. Di usia sudah di atas 40 ini, saya termasuk golongan arbaina sanatan. Perencana keuangan menyebut, umur di atas 40 adalah titik krusial dan momen yang tepat untuk mendongkrak kondisi finansial. Bila tidak hati-hati, tabungan pensiun bakal terkuras habis.

Oleh karena itu, perencana keuangan memberikan saran dan masukan khusus di usia ini.

Alhamdulillah. Di titik ini beberapa keinginan dan target-target sudah tercapai. Namun, perencana keuangan mengingatkan agar saya jangan menyepelekan merencanakan keuangan.

Baca juga:  Awareness

Perencana keuangan mengatakan bahwa, pertama, di usia sekarang ini saya harus lebih bijaksana dan belajar dari kesalahan hidup maupun kesalahan keuangan. Saya tidak boleh berpikir untuk diri sendiri, tapi juga harus memikirkan keluarga dan masa depan mereka.

Sekarang anak-anak mulai tumbuh dewasa. Mereka mulai sibuk memikirkan bagaimana meraih masa depannya. Kesalahan kekeliruan saya di masa lalu dalam mendidik anak menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Sebagai orang tua, saya berusaha mendorong anak-anak agar terus semangat pantang menyerah meraih cita-citanya. Mendoakan agar mereka dapat meraih cita-citanya kelak. Semoga Allah mengabulkan keinginan mereka, melindungi mereka, dan memberikan keamanan keselamatan kelancaran kesuksesan dan kebarokahan dalam kehidupannya kelak. Aamiin.

Kedua, telaten menabung. Saat ini, alhamdulillah saya sehat dan baik-baik saja. Masih berjiwa muda juga. Suka traveling dan kuliner. Meskipun begitu, saya disarankan tidak mengacuhkan kebutuhan untuk hal-hal yang bersifat darurat, dan itu bisa dalam bentuk apa saja.

Menurut perencana keuangan, dalam menyusun rencana keuangan wajib mengikutsertakan dana darurat. Hal ini untuk menghadapi situasi keuangan yang likuid agar dapat digunakan saat kondisi darurat terjadi.

Meski demikian, kita selalu dinasehati para orang tua maupun ulama agar selalu berlindung kepada Allah Yang Maha Kuasa, dari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Ketiga, melunasi utang. Alhamdulillah, tahun ini beberapa utang telah lunas. Masih ada utang lagi dari KPR Muamalat yang sudah berjalan persis dua tahun ini, dari lima tahun yang disepakati.

Meski demikian, perencana keuangan mengatakan bahwa saya harus mempunyai tabungan dan investasi di sela-sela mencicil utang. Ini terkait masa depan.

Semoga Allah memampukan saya melunasi utang-utang tersebut, memberikan perlindungan dari jeratan utang yang memberatkan. Dan semoga Allah memberikan rezeki yang banyak yang halal yang barokah. Aamiin.

Baca juga:  Bacaan Bagus, Memaksimalkan Potensi Anak Didik

Keempat, kurangi biaya yang tidak penting. Perencana keuangan menyarankan agar saya mengurangi hal-hal yang tidak penting yang bersifat luxury atau kemewahan. Membeli hape mahal, motor gede mahal, apalagi ya?  Sepertinya cuma itu yang ada di pikiran saya. 😀

Kelima, dana pendidikan. Di usia sekarang ini, jika belum memiliki alokasi dana pendidikan untuk anak, maka menurut perencana keuangan adalah menyiapkan Plan B, yaitu menjual asset.

Persoalannya adalah adakah asset yang siap dijual?

Keenam, dana pensiun. Alhamdulillah sudah memiliki DPLK dan BPJSTK. Sumber pendanaan DPLK dari secara pribadi. Sedangkan BPJSTK mengikuti kewajiban dari kantor. Masih ada lagi yaitu investasi modal di sebuah BMT Syariah.

Meski masing-masing saldonya sedikit, tapi menurut perencana keuangan tetap harus dimanfaatkan dengan mengisinya secara aktif berapapun nilainya.

Semoga manfaat barokah. Aamiin.


Baca juga:

Sabtu, 12 September 2015 : 00:15 Wita
Balikpapan Diserang Asap Tebal
Balikpapan Diserang Asap Tebal
Senin, 29 Oktober 2018 : 10:16 Wita
Check Website yang Mengalami Downtime
Check Website yang Mengalami Downtime
Senin, 12 November 2018 : 09:49 Wita
Tsundoku: Membiarkan Bahan Bacaan Menumpuk
Tsundoku: Membiarkan Bahan Bacaan Menumpuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *