Menu


Kenali, Tandai, dan Buang Berita Palsu di Media Sosial
Facebook menginformasikan menampilkan berita dan informasi yang berkualitas. Foto: Screenshot Facebook

Facebook menginformasikan menampilkan berita dan informasi yang berkualitas. Foto: Screenshot Facebook

Akhir-akhir ini makin marak berita palsu yang sangat provokatif di media sosial. Ciri-ciri provokatif adalah ketika menerima pesan berita, biasanya bentuknya rumor, sas-sus, gosip yang tidak jelas sumber dan kebenarannya lewat media sosial, e.g Facebook, Twitter, termasuk Whatsapp, Line, Telegram dkk, maka seketika itu pula para penerima pesan akan bereaksi.

Reaksi pembaca ini bermacam-macam. Ada yang adem ayem saja karena sudah hafal dan mengenal kebiasaan penyebar rumor tersebut. Ada yang tersulut dan bereaksi keras dengan mengungkapkan emosinya secara terang-terangan atau menahan amarah yang amat sangat. Macam-macam reaksinya. Peringatan: Hati-hati yang punya darah tinggi, reaktif, dan mudah marah.

Satu hal yang pasti, bagi saya, apa yang mereka lakukan dengan menyebar berita palsu itu adalah Gimmick. Google menyebut, Gimmick (Gimik) menurut bahasa Inggris adalah alat atau tipu muslihat atau tipuan. Dalam markerting, gimik merupakan salah satu strategi pemasaran suatu produk dengan menggunakan cara-cara yang tidak biasa agar cepat dikenal. Apalagi dalam politik, selain gimik, masih banyak cara yang digunakan orang-orang politik untuk mencapai tujuan mereka.

Bisa dikatakan, gimik menjadi salah satu usaha memberikan pengaruh untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian maksimal lewat jalan pintas. Media sosial menjadi jalan untuk para pelaku gimik, si pencari perhatian.

Pagi ini saya surprise diberitahu Facebook sebuah tips, bagaimana cara mengendalikan hal yang perlu ditampilkan dalam beranda atau timeline Facebook. Menurut Facebook, caranya adalah sebagai berikut.

  1. Pelajari cara mengenali berita palsu.
    Penting untuk mengetahui apa yang harus diawasi akan membantu membuat keputusan tentang apa yang harus dibaca dan dibagikan.
  2. Tandai berita sebagai berita palsu.
    Pelajari cara bertindak terhadap cerita yang kita yakini palsu.
  3. Batal mengikuti orang atau Halaman.
    Ketika berhenti mengikuti seseorang atau Halaman, kita tidak akan melihat kiriman orang atau Halaman tersebut di Kabar Beranda kita lagi.
Baca juga:  Mengikuti Media Sosial, Selalu Gunakan Seluruh Indera, Akal, dan Hati

Facebook juga memberikan tips bagaimana mengurangi Clickbait dan Spam. Menurut Facebook, Clickbait dan spam adalah kiriman atau iklan yang memiliki judul menyesatkan dan mungkin membujuk pembaca untuk mengeklik kiriman (link) tersebut.

Meski demikian, sebagai pengguna, saya kadang sulit mengontrol tautan Clickbait atau Spam yang diposkan teman Facebook. Syukurlah, Facebook menyebut telah melakukan pembaruan (sistemnya) sehingga saya sebagai pengguna (diharapkan Facebook) akan melihat lebih sedikit postingan dan iklan Spam dan Clickbait.

Apabila terlanjur mengeklik sesuatu (link atau taut) yang diyakini sebagai spam, maka tak usah panik, Facebook memberikan tips berikutnya bagaimana cara menangani Spam.

Sayang sekali. Untuk media sosial lainnya seperti Whatsapp, tips dari Facebook ini sulit diterapkan. Cara paling efektif apabila tidak ingin terganggu adalah keluar dari obrolan tersebut, tetapi langkah ini tidak disarankan. Jika keluar dari obrolan dengan cara menghilang sendiri, baik dengan ataupun tanpa notifikasi, maka rentan timbul kekhawatiran menjadi korban gosip. Untuk itu, sangat disarankan pamit baik-baik meski dengan alasan program bermasalah/error.

Namun, apabila diambil pilihan tetap bertahan dan menjadi pengguna pasif dengan tidak mengikuti obrolan penuh, kecuali pada hal-hal yang dirasa penting dan urgent, maka banyak-banyaklah bersabar. Syukur-syukur melatih diri untuk mengendalikan diri atau memanfaatkan obrolan tersebut dengan memposting pesan-pesan yang mendinginkan, tidak berpihak, inspiratif, bersifat memperbaiki dan membangun, sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian turut berkontribusi pada komunitas yang diikutinya.

Saya jadi ingat pesan Bertolt Brecht soal politik.


The worst illiterate is the political illiterate, he doesn’t hear, doesn’t speak, nor participates in the political events. He doesn’t know the cost of life, the price of the bean, of the fish, of the flour, of the rent, of the shoes and of the medicine, all depends on political decisions. The political illiterate is so stupid that he is proud and swells his chest saying that he hates politics. The imbecile doesn’t know that, from his political ignorance is born the prostitute, the abandoned child, and the worst thieves of all, the bad politician, corrupted and flunky of the national and multinational companies.


Kalau diterjemahkan kurang lebih berbunyi begini.


“Buta terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara, atau berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, ikan, tepung, sewa rumah, sepatu, dan obat-obatan, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik itu sangat bodoh namun dia bangga dan membusungkan dadanya dan mengatakan bahwa dia benci politik. Orang dungu itu tidak tahu bahwa akibat dari ketidaktahuan politiknya itu lahirlah pelacuran, anak terlantar, pencurian, politisi busuk, korupsi, dan hancurnya perusahaan nasional dan multinasional.”


Salam literasi. Semoga manfaat barokah. Aamiin.

Baca juga:  Sosialisasi Karir Jabatan Fungsional Dosen di Aplikasi Online Singkron

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *