Tabebuya di Jalan Letjen Sutoyo (Gunung Malang) Balikpapan, dipotret lewat hape Samsung Galaxy, Minggu (27/9/2026). Foto: dok. pribadi
Hari Minggu (27/9/2026) sore kemarin, saya ikutan fomo momen seru di Kota Balikpapan. Pasalnya, di media sosial, orang-orang heboh membagikan foto-foto bunga tabebuya di sekitar Jalan Letjen Sutoyo (Gunung Malang) dan Jend. A Yani (Gunung Sari).
“Ke Melawai yuk, lama gak ke sana,” ajak ibunya anak-anak.
Oke. Karena jalurnya searah, mampirlah saya melewati Gn Malang dan Gn Sari.
Tiba-tiba, seorang ibu pengendara motor di depan saya menepi ke kiri dan berhenti di trotoar. Lalu, ia mengambil ponselnya dan mengarahkannya ke sebuah pohon di seberang jalan.
Cekrek!
Ternyata, ibu-ibu tadi memotret pohon yang dipenuhi bunga-bunga berwarna merah muda atau pink.
“Oalah… ibu-ibu itu memotret tabebuya,”
Saya terus berjalan dan menemukan kakak-kakak berjilbab sedang berfoto-foto dengan ponsel mereka dengan latar tabebuya. Berjalan lagi agak jauh sedikit, sepertinya ada juga bunga kertas warna merah cantik, sepertinya bougainvile.
Tapi, pas di sudut tertentu, saya menemukan tabebuya yang berada persis di depan sebuah rumah bertingkat dua.
“Yang di situ bagus, sepertinya kalau dipotret dari seberang sini, persis seperti suasana di Jepang,” kata saya, membayangkan tabebuya bermekaran indah di Jepang.
Saya kemudian meminta istri memotretnya dengan kamera ponselnya sendiri. Cekrek! Hasilnya, inilah fotonya apa adanya. Cakep. Sedikit di-enhance, di-retouch, biar warnanya lebih kaya, lebih cerah, dan lebih tajam.
Saya jadi semakin penasaran, sebenarnya sejak kapan pohon tabebuya ini ditanam. Siapa juga yang menanam?
Terus terang, pertanyaan ini juga heboh di media sosial, simpang siur, karena tidak ada dokumentasi yang bisa diakses secara terbuka di internet. Mungkin, media atau website berita sudah terhapus atau tautan berubah.
Beberapa orang menyebut, kemungkinan masa pemerintahan Pak Rizal Effendi, wali kota periode 2011-2021. Di kolom catatannya, beliau menyebut tabebuya sudah ditanam sejak era ia menjabat wali kota. Juga ada yang menyebut sejak tahun 2009, tapi tidak ada dokumentasinya.
Dokumentasi yang jelas, mungkin ada di arsip anggaran Dinas Pertamanan, DKPP, atau DLH tentang penanaman pohon pelindung yang menyebut tabebuya. Aduh, pusing deh.
Menariknya, saya menemukan di Google Maps kalau tabebuya yang ada di foto ini baru muncul pada bulan Juni 2022, dengan tinggi kurang lebih 2 meter. Sementara dokumentasi sebelumnya, tercatat pada tahun 2015 – 2019 dengan pohon yang berbeda.
Jadi, kemungkinan pohon tabebuya yang ada di foto ini ditanam sudah setinggi 1-2 meter pada tahun 2021. Dan, pada bulan September 2026 ini, di musim kemarau, baru keluar bunga-bunganya yang indah dan membuat heboh media sosial.