Menu


Awareness
Truk itu... Foto: warga

Truk itu… Foto: warga

Suatu pagi yang masih gelap, di suatu grup Whatsapp warga kampung yang dikoordinir pak RT, muncul pesan di bawah ini disertai foto truk parkir.

“Woi… siapa yang punya truk ini tolong dikeluarkan, menutup sebagian jalan tuh, anak-anak mau berangkat sekolah…”

Warga lainnya menimpali. Macam-macam. Bukan saja dengan kata-kata meminta ini, meminta itu pada pak RT, tapi juga disertai foto-foto truk dan mobil besar yang lain. Ternyata, truk tidak hanya satu, tapi ada di beberapa tempat.

Lantaran pagi-pagi orang-orang pada sibuk akan berangkat sekolah dan kerja, sy tidak mengikuti terus perkembangan obrolan di grup itu. Satu jam kemudian sy lihat grup kembali hening. Saya menduga, kemungkinan sudah beres. Truk berhasil ‘dikeluarkan’ dari kampung.

Tak lama kemudian seseorang mengirimkan foto palang pintu, besar sekali. “Pak RT, pasang palang pintu seperti ini biar truk gak masuk,” katanya.

Apa komentar pak RT?

“Ayo, warga yang bisa menghitung material palang pintu mohon dihitung berapa biayanya, nanti dananya patungan semua warga,” begitu kurang lebih.

Warga pun menimpali. Grup ramai kembali. Saling tunjuk satu sama lain, tapi tak ada yang tampak sukarela mengajukan diri bersedia mengerjakan. Tak lama kemudian hening kembali.

Sore kemudian, sy hanya menemukan mobil hilux besar masih parkir di tempatnya. Tidak ada lagi truk di pinggir jalan.

Malamnya, sy pergi ke toko mart hendak membeli obat mag pesanan ibunya anak-anak. Sejak sore dia mual, asam lambungnya naik.

Begitu tiba di parkiran toko, sy langsung merasa tidak nyaman melihat sebuah mobil parkir serong 45°. Posisi mobil juga tidak pas masuk parkiran, persis di tengah petak-petak lajur kuning yang sudah disediakan toko untuk parkir motor dan mobil itu.

Baca juga:  Membangun Rumah, Setahun Lamanya Bikin Dapur!

Sy yakin, dengan petak-petak kuning di halaman itu, pemilik toko pasti berharap pelanggan memarkir sendiri kendaraannya, rapi, tanpa perlu bantuan seseorang atau petugas parkir. Disediakan gratis untuk pelanggan.

Tapi, tunggu dulu. Ini bukan mobil pertama yang sy lihat di posisi yang sama di toko itu. Sy baru ingat, sudah beberapa kali ini terjadi. Pelanggan bermobil memarkir serong, tidak pas, dan menyita tempat ini maksudnya buru-buru, tak ingin lama-lama di toko dan segera pergi.

Kenyataannya, setelah sy perhatikan, mereka biasanya lama berada di toko, beberapa menit lah. Di antaranya karena melihat barang macam-macam, ada promo, cek selisih promo dengan harga pasaran, mengantre di kasir, belum termasuk lamanya menghitung uang angsul, koin jatuh tercecer, tanya-tanya kasir, bawa anak, anak minta dibeliin… beuh… cukup memakan waktu beberapa menit bukan?

Ini berarti maksud hati ingin parkir sebentar, tapi ternyata tidak sebentar, jadinya kelamaan parkir serong, menghalangi jalannya orang.

Cerita di atas itu adalah kisah nyata, dengan penyamaran bahasa dan gambar.

Cerita pertama tentang komunikasi digital saat ini. Komunikasi yang guyub antar sesama warga. Ceplas-ceplos, tapi bisa rukun, kompak, dan kerja sama yang baik. Pak RT yang tanggap, pak RT yang baik, yang selalu siap ketika warganya membutuhkan. Satu lagi, kudu sabar.

Menjadi pak RT zaman now sekarang ini butuh kesabaran extra. Jika dulu belum ada grup Whatsapp, pak RT bisa tidur nyenyak tanpa gangguan. Tapi, kini zaman berubah, komunikasi makin mudah dan terbuka, telepon selalu dibawa. Dampaknya, orang jadi mudah menyampaikan permintaan, keluh kesah, diikuti keinginan agar direspon cepat, tindakan seketika dan secepat mungkin langsung beres.

Baca juga:  Membeli Buku Kebebasan dan Etika Pers dalam Perpsektif Hukum Islam

Saat ini, sy juga membutuhkan pak RT untuk permasalahan yang serupa, tapi masih malu-malu mengungkapkannya. Khawatir ada gesekan setelah mengetahui tipikal warga yang berbeda-beda. Pasalnya, sy tidak bisa ceplas ceplos hehe…

Nah, cara komunikasi masyarakat melalui grup Whatsapp, menurut saya, merupakan bagian dari solusi saat ini. Solusi modern menggantikan solusi-solusi lawas dan berbiaya tinggi.

Dengan komunikasi modern ini, truk parkir sembarangan di jalan kampung sudah berhasil diatasi. Dengan begitu, tidak diperlukan lagi palang pintu yang membutuhkan biaya besar, petugas security, atau seorang kuncen yang diberi tugas pegang kunci palang pintu.

Palang pintu itu, menurut sy, diperlukan jika di wilayah tersebut kurangnya awareness. Emm, maksudnya, dengan palang pintu, kampung itu kembali ke zaman dulu, zaman tidak ada teknologi informasi, dan orang-orang di dalamnya berkomunikasi dari mulut ke mulut, dan menyampaikan informasi lewat papan-papan pengumuman atau loud speaker seperti ini:

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga kampung sekalian, mohon perhatian… barangsiapa yang punya truk ini disini, disana, dan disono, harap segera dipindahkan! Menutupi jalan. Terima kasih.”

Heboh, bukan? wkwkwk…

Tapi bagaimana dengan mobil parkir serong itu?

Inilah sebagian tipikal warga. Agak sulit memang. Biar tidak pusing, untuk membantu menilai tipikal warga seperti itu, kita bisa menggunakan teori Fuzzy dengan bantuan skala Likert, yakni sangat aware, aware, kurang aware, tidak aware, dan sangat tidak aware. Tinggal dipilih hehe…

Semoga manfaat dan barokah. Aamiin.


Baca juga:

Rabu, 24 Mei 2017 : 23:17 Wita
True or False?
True or False?
Sabtu, 17 Maret 2018 : 23:17 Wita
Belajar dari Jemuran
Belajar dari Jemuran
Rabu, 7 November 2018 : 14:21 Wita
Gaji Naik, Apa yang Anda Pikirkan?
Gaji Naik, Apa yang Anda Pikirkan?
Sabtu, 3 November 2018 : 12:26 Wita
Infografik Pos Populer suburaID Bulan Oktober 2018
Infografik Pos Populer suburaID Bulan Oktober 2018
Kamis, 24 Januari 2019 : 08:54 Wita
Katanya, Hijrah itu Tenang
Katanya, Hijrah itu Tenang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *