Menu


Kadang Menjadi Facilitator, Kadang Menjadi Enabler
Educational Methodology Models. Source: http://www.qualiterate.com/2015/06/teaching-styles-facilitator-conductor.html

Educational Methodology Models. Source: http://www.qualiterate.com/2015/06/teaching-styles-facilitator-conductor.html

Suatu hari di akhir semester, ketika di ruang kerja siang itu datang seorang mahasiswa sambil membawa laptopnya.

Pak, ini kenapa ya kok gak bisa?” tanyanya dengan polos. Ia kemudian menunjukkan masalahnya, tetapi tanpa menjelaskan bagaimana solusi yang sudah dia lakukan.

Ini… loh, gak bisa…” katanya.

Kecut. Saya benar-benar kecut melihat kesulitannya tanpa ada usahanya sedikit pun menjelaskan solusi yang sudah dilakukannya. Tak ada upaya untuk troubleshooting lebih dahulu.

Melihat hal itu, rasanya, antara sedih, kesal, marah, dan kecewa campur aduk di kepala. Betapa tidak, sudah berulang kali yang bersangkutan bertanya dengan masalah yang sama. Meski juga sudah diajari teori dan solusinya di awal semester.

Coba periksa sekali lagi dimana letak file-nya, dan dimana mengeksekusinya!” jawabku, dengan suara sedikit meninggi.

Saya berharap, dengan sedikit suara keras, ia dapat terpacu untuk menyelesaikan sendiri masalahnya.

Sore harinya, seorang bapak berambut putih duduk bersandar tembok, di shaf belakang di sudut masjid sedang memanggil saya. Suaranya yang pelan hampir mengabaikan saya. Tampaknya, ia memanggil dengan menggeser-geser duduknya agar lebih dekat dengan saya yang lewat agak jauh di depannya.

Ada apa Pak? Maaf, saya gak dengar…” tanyaku mendekat dan duduk bersama.

Nak, nek sirah niki ngelu, nge…” tutur bapak itu dengan suara tidak jelas, terbata-bata dan panjang lebar, sambil memperagakan seperti hendak jatuh pingsan.

Saya merasa heran mengapa tiba-tiba bapak ini mengajak saya berbahasa Jawa, padahal bertemu pun rasanya baru pertama kali ini di Kalimantan. Saya menduga, bapak itu mengetahui saya berasal dari Jawa mungkin dari baju batik parang yang saya kenakan.

Baca juga:  Serba Serbi Chatting WhatsApp, "Ini Hoaks Yaa..."

Sambil terus mendengarkan bapak ini, saya merasa menjadi seperti seorang dokter yang mendengarkan keluhan pasiennya. Ia mengeluh jika perutnya sakit membuat kepalanya pusing dan jatuh pingsan. Ia pun bertanya apa obatnya.

Oh, sudah makan Pak?” tanya saya. Bapak itu hanya menggeleng. Saat itu juga saya menjadi paham setelah melihat kaos kuning mirip kaos kampanye partai kuning yang dikenakannya itu lusuh.

Ayo Pak, kita makan sama-sama di warung sebelah. Bapak tunggu sini ya, saya mau ambil dompet dulu…” kataku. Bapak itu pun menungguku.

Tapi setelah di luar masjid, saya pun berbalik lagi ke dalam, gak jadi ambil dompet yang ada di gedung sebelah. “Pak, ayo kita ke warung, bapak lewat sana…” ajakku. Ia pun mengambil sandal japitnya yang tampak lawas.

Suka apa Pak, soto atau ayam goreng?” tanyaku ketika sampai di warung. Ia pun memilih soto, tapi tak mau kerupuk yang saya berikan. Saya pamit ada keperluan dan meninggalkan bapak itu makan sendirian.

Benar. Bapak ini ternyata memang sedang lapar. “Tadi bapak itu ambil krupuk dan… blablabla…” kata ibu penjual warung, ketika saya datang kembali untuk membayar.

Saya jadi teringat. Pernah suatu ketika datang ke warung, saat itu juga datang seorang bapak loper koran, duduk bersama sebelah saya. Saya memesan makanan, dan bapak itu juga tampak memesan makanan.

Namun, ketika lahap-lahapnya menyantap makanan di piring, saya merasa heran setelah melihat bapak itu hanya minum teh hangat, tanpa sepiring makanan. Sesekali, ia menyeruput tehnya dengan kedua tangannya yang gemetar.

Konsentrasi makan saya seketika itu buyar. Rasanya, perut ini seperti tiba-tiba kenyang setelah melihat bapak itu kemudian mengambil kerupuk untuk menemani tehnya yang hangat.

Baca juga:  Makan Indomie Seporsi di Warung Digetok Mahal

Lihat lah, makan siangnya hanya kerupuk dan teh, dengan tangan gemetaran dan keringat membasahi t-shirt-nya, di terik siang yang panas usai keliling jalan kaki menjaja koran. Lihat lah, apa yang harus kamu lakukan?

Pak, Bapak tidak makan? Saya pesankan ya…” kataku, memberanikan diri menyapa bapak itu. Ia hanya mengangguk.

Benar. Akhirnya bapak itu makan dengan lahap dan menambah beberapa tusuk sate telur puyuh. Sepertinya ada sesuatu yang sejak tadi ditahan bapak itu. “Nggak tahu mas, tadi sudah kutawari gak mau,” kata mas penjual warung, yang juga heran.


Saya berharap bahwa dengan memahami keadaan mereka berdua, baik si mahasiswa ataupun orang tua tersebut, mereka dapat memecahkan masalahnya sendiri.

Saya pikir begitu juga dengan teknologi yang menjadi enabler, yakni sesuatu yang memungkinkan sesuatu yang lain mencapai tujuannya.  Teknologi bukan sekadar menjadi big enabler untuk membantu menyelesaikan banyak masalah manusia, tetapi yang lebih penting adalah manusia lah yang lebih peka dan berperan besar sebagai enabler.

Dalam situasi yang berbeda untuk orang yang berbeda, seorang guru dapat mengambil berbagai gaya untuk menyelesaikan pekerjaan. Idenya adalah untuk membuat siswa mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri di mana pun mereka belajar.


Balikpapan, 29 Desember 2016


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *