Menu


Sekilas Cerita Mengikuti Call for Paper dan Seminastika 2018
Bersama dua pemakalah dari LIPI, Pak Surahyo Sumarsono, Ibu Masilla Kamaludin, dan Pak Suprijadi usia acara. Foto: dok. pribadi

Bersama dua pemakalah dari LIPI, Pak Surahyo Sumarsono, Ibu Masilla Kamaludin, dan Pak Suprijadi usia acara. Foto: dok. pribadi

Sabtu (8/12) yang lalu STMIK Balikpapan bersama STMIK SPB Samarinda dan ASMI Airlangga Balikpapan menggelar Seminar Nasional Teknologi Informasi Komunikasi dan Administrasi (Seminastika.org) dan Call for Paper di Hotel Swiss-Bellin Balikpapan.

Pada kesempatan ini, dua narasumber tampil berbicara.Mereka adalah ibu Masilla Kamaludin, pakar Software Requirements Engineering dari Universitas Teknikal Malaysia Melaka, dan pak Surahyo Sumarsono dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menurut informasi, tercatat kurang lebih 50 pemakalah yang berasal dari 10 propinsi di Indonesia ikut berpartisipasi dalam seminar ini. Termasuk saya yang sudah lama vakum memasukkan makalah prosiding sejak tahun 2013.

Pertama kali saya mengikuti Call-for-Paper pada tahun 2005 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Tak lama kemudian memasukkan makalah prosiding kembali di Universitas Teknologi Yogyakarta, dan… dimana ya?

Tapi, di tahun 2013, saya mendapat kesempatan menjadi pemakalah di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Setelah itu vakum. Bukan berarti vakum berhenti menulis, tetapi mencari peluang lain dan mencoba proposal yang memungkinkan pendanaan. Lebih serius. Halah… 😀

Dan… Alhamdulillah, saya merupakan satu-satunya peserta dari STMIK Balikpapan yang mendapat pendanaan Penelitian Dosen Pemula (PDP) dari Dikti tahun 2013. Bukan karena apa sih, tapi lebih karena kala itu teman-teman tidak memasukkan proposal. 😀

Kemudian, di tahun 2016, alhamdulillah, saya kembali mendapatkan pendanaan PDP. Lumayan, kali ini saya berhasil ‘mengompori’ seorang teman untuk sama-sama memasukkan proposal PDP. Alhamdulillah, diterima.

Memasuki tahun berikutnya, saya ditolak sistem yang disebut SIMLITABMAS. Lebih tepatnya, sistem tidak menyediakan kolom pada form pendaftaran ketika saya mencoba mengajukan proposal kembali. Maklum, syaratnya tidak boleh lebih dari dua kali.

Baca juga:  Kado Prank Buat Ayah

Oleh karena itu, saya diharuskan naik level, atau mengajukan proposal Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kira-kira sudah dua kali mengajukan proposal PKM, tapi belum beruntung. Semoga proposal berikutnya berhasil diterima dan barokah. Aamiin.

Meski demikian, saya merasa ikut senang, di tahun 2018 ini ada lima orang teman yang berhasil mendapatkan pendanaan PDP dan selesai presentasi hasil. Surprise!

 

Call for Paper

Saat presentasi makalah. Foto: dok. pribadi

Saat presentasi makalah. Foto: dok. pribadi

Saat mengikuti Call-for-Paper di Seminastika 2018 kali ini, saya seolah diingatkan bahwa inilah kesempatan untuk berbicara dan berbagi insight dengan sesama dosen peneliti dan stakeholder.

Bagi saya, kegiatan ini juga merupakan wujud terima kasih bahwa sudah sejauh ini saya bisa belajar dari mereka. Mereka itu adalah para guru, dosen, ilmuwan, peneliti, dan para pegiat dari berbagai komunitas yang telah berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia dan lingkungan.

Untuk itulah, topik tulisan makalah yang saya ajukan disini adalah terkait implementasi atau pemanfaatan teknologi informasi untuk membantu menyelesaikan persoalan manusia dan lingkungannya.

Makalah saya dilatari persoalan sehari-hari terkait ketertiban umum di lingkungan sekitar. Salah satu persoalan itu adalah terkait sampah yang pernah saya tulis di website ini.

Saya mendapati, ternyata persoalan sampah di perkotaan umumnya terjadi disebabkan karena masyarakat belum mengetahui produk hukum terkait ketertiban umum. Akibat ketidaktahuan ini pula, saya menduga, sebagian masyarakat ‘tidak sadar’ membuang sampah sembarangan. Bahkan, ada pula sebagian masyarakat yang secara sadar dan sengaja membuang sampah sembarangan dengan harapan akan dibersihkan orang lain atau petugas sampah. Padahal, kenyataannya kan tidak selalu begitu!

Kenapa?

Umumnya, masyarakat lah yang menilai sampah itu sangat identik dengan sesuatu yang kotor, menjijikkan, dan mengandung penyakit. Oleh sebab itu, orang akan enggan meski sekadar memungut sampah yang bercecer di dekatnya.

Baca juga:  Mengubah Mindset di Zaman Kiwari

Misal, ketika menemukan kulit pisang di dekatnya, atau bungkus permen, atau bekas bungkus salome yang bercecer, mereka enggan memungut dan membuangnya di tempat sampah. Mereka enggan melakukannya karena: Jijay ah! Gengsi! Emangnye gue petugas sampah! Malu ah! Repot ya kan…

Masyarakat — yang suka buang sampah secara sadar dan tidak sadar — itulah yang perlu didorong kesadarannya agar lebih baik bertindak sendiri dan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Toh, tidak terlalu sulit membuangnya, kan? Biasakan mengawali dari diri sendiri.

Untuk itulah, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama. Pemerintah menyediakan fasilitasnya, tempat pembuangan akhir (TPA) yang memadai, jumlah petugas yang cukup, kesejahteraan mereka sangat diperhatikan, disediakan alat angkut dan transportasinya, disediakan sistem pengawasannya sekaligus aksi perbaikannya, sekaligus payung hukum dan tata tertib yang mengaturnya.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan sadar, bahkan wajib sadar dan tidak lupa membuang sampah pada tempatnya. Jika itu tidak dilakukan masyarakat, maka secara tegas akan berlaku sangsi hukum.

Nah, di sinilah poin penting produk hukum itu harus sampai dan dipahami masyarakat. Agar sampai pada masyarakat, pemerintah dan masyarakat saling bekerja sama. Pemerintah aktif dan tak mudah berhenti melakukan sosialisasi informasi dan produk hukum selain juga melakukan pengawasan.

Untuk melakukan sosialisasi dan pengawasan inilah teknologi informasi bisa digunakan sebagai alat. Salah satunya adalah bagaimana agar teknologi informasi dapat menjadi alat untuk membantu pemerintah mendistribusikan informasi dan produk hukum.

Ternyata, saat ini sudah banyak kabupaten kota di Indonesia yang sudah memiliki alat tersebut. Salah satu alat itu adalah website yang digunakan untuk menyosialisasikan informasi dan produk hukum.

Persoalan baru kemudian muncul, bagaimana cara kita mengetahui alat atau website tersebut bekerja efektif?

Baca juga:  Katanya, Hijrah itu Tenang

Beberapa referensi menyebutkan, di antaranya adalah dengan menggunakan metode Webqual atau dengan Webreep. Sedangkan pada makalah saya tersebut, saya memaparkan langkah-langkah yang telah dijelaskan Shanna Mallon.

****

Memasuki presentasi makalah, saya melihat beberapa peserta berusia di atas saya. Bukan itu saja, meski berasal dari jauh dan dari luar pulau, tetapi mereka tampak semangat mempresentasikan makalah dan antusias menjawab beberapa pertanyaan. Mereka juga menerima dengan baik sharing pengalaman dari peserta yang lain.

Pada kesempatan ini, tak lupa saya berterima kasih kepada Yayasan Airlangga yang telah menjadi sponsor seminar ini. Saya mengenang, di tahun 2015 yang lalu, pak Agung selaku Ketua Yayasan pernah menunjuk saya untuk mempersiapkan seminar dan Call for Paper ini, tapi saya gagal.

Mudah-mudahan, pada kegiatan berikutnya saya bisa berkontribusi lebih baik. Semoga sukses dan barokah. Aamiin.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *