Mengubah Hidup dengan Metode KonMari | suburaID | Subur Anugerah's Weblog
Menu


Mengubah Hidup dengan Metode KonMari
Belajar beres-beres dengan Metode KonMari. Foto: konmari.com

Belajar beres-beres dengan Metode KonMari. Foto: konmari.com

METODE KonMari ini diciptakan oleh Marie Kondo, wanita Jepang, seorang ahli dan konsultan profesional kerapian barang-barang rumah tangga. Dia menawarkan metode tersebut kepada semua orang di dunia untuk mengubah hidup. Dari pola hidup berantakan dan acak-adut menjadi tertata rapi, bersih, sehat, dan menggembirakan untuk selamanya.

Hmm… lebay ya?

Tidak juga. Ini setelah saya membaca salah satu bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku yang diterbitkan pertama kali sejak tahun 2011 ini telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di dunia. Di Indonesia, cetakan pertama terbit Agustus 2016. Artinya, jika saya baru membelinya saat ini, saya telat informasi 4 tahun lebih. 😀

Tapi it’s okay. Justru saat inilah, mumpung libur akhir tahun dan Work from Home dalam rangka pagebluk Covid-19, saya lebih banyak mengisi hari-hari di rumah saja. Ada banyak waktu luang yang saya gunakan untuk beres-beres, baik membereskan rumah, mengisi perabotan, membuat perpustakaan kecil, membuat program aplikasi untuk persiapan Ujian Akhir Semester, sampai iseng membaca buku Marie Kondo ini.

Menarik. Saya ingin mencatat rangkuman metode KonMari di blog ini, tapi khawatir terbentur dengan Hak Cipta. Saya ingin mengubah urutan metode menjadi ala orang teknik. Hmm…

Orang teknik, terutama Informatika, menurut saya cenderung sederhana dalam memahami sebuah metode. Cara yang menurut saya paling sederhana adalah dengan menggambar ke dalam sebuah Algoritme, misalnya, Flow Chart atau urutan deskripsi.

Dengan melihat atau membaca Flow Chart tersebut, misalnya, orang teknik akan mudah memahami alur atau langkah-langkah tanpa perlu penjelasan panjang kali lebar.

Baik, langsung saja. Goal-nya adalah mengubah pola hidup berantakan menjadi rapi. Metode KonMari menggunakan dua cara saja.
1. Mulailah dengan membuang.
2. Merapikan ruang secara menyeluruh sekaligus dalam satu waktu. Jangan bertahap.

Baca juga:  Respek dan Proaktif, Tips Bimbingan dan Komunikasi Efektif Lewat WhatsApp

Sederhana ya? Iya. Itu saja.

Tapi tentu saja untuk membuang barang-barang yang tidak dibutuhkan perlu keahlian. Orang akan sulit memilah mana barang yang dibutuhkan, mana yang tidak dibutuhkan. Coba deh. Sekali saja dibersihkan, dibuang, dibereskan, akan kembali berantakan dengan cepat. Paling tidak, 1-2 hari kembali berantakan. Sebel kan?

Apakah ini semua terkait karakter seseorang?

Marie Kondo menyebut semua orang pada dasarnya pemalas dalam urusan beres-beres. Pasalnya, ia telah mempelajari Dobutsu uranai atau shio terkait karakter setiap orang yang berbeda soal beres-beres. Akhirnya, dia menyimpulkan pada dasarnya semua orang adalah pemalas. Ia menampik perilaku beres-beres terkait dengan karakter.

Sudah berapa orang yang tampak menyepelekan perilaku beres-beres ini dan menganggapnya lebay. Padahal, setelah kita tahu, ternyata memang mereka ‘hidup’ berantakan. Rumah atau kamarnya acak-adut, suram dan kusam. Orang masuk bertamu pun serasa tidak betah dan ingin cepat keluar rumah.

Bahkan, sudah banyak yang kita ketahui dari media bahwa ternyata mereka seperti tidak mampu mengatasi ‘persoalan hidup’ dalam dirinya dan bergerak membereskan diri dan lingkungannya sendiri. Nah, sepele kan? Tapi memiliki pengaruh yang berarti dalam hidup dan kehidupan seseorang.

Marie Kondo bilang, dengan membereskan rumah, itu berarti sekaligus membereskan urusan dan masa lalu kita. Setelah beres, kita bisa melihat dengan jernih apa saja yang dibutuhkan atau tidak dibutuhkan, apa yang harus dikerjakan dan tidak perlu dilakukan. Hanya sesuatu yang menyenangkan yang ada di sekeliling kita.

Langkah pertama untuk membuang barang-barang, Marie Kondo menyebut ada tiga tipe orang, yakni tidak tega membuang, lupa mengembalikan, dan kombinasi keduanya. 90% menurut pengamatannya adalah tipe kombinasi: tidak tega membuang sekaligus lupa menyimpan. 10% sisanya lupa menyimpan.

Baca juga:  Terima Tahap ke-3 dan 4 Subsidi Kuota Belajar 50GB Kemendikbud

Metode KonMari memiliki langkah-langkah atau urutan seperti yang dijelaskan pada gambar foto di atas. Langkah pertama, belajar dulu pada ahlinya ahli beres-beres, core-of-the-core. Kedua, pahami bagaimana metode KonMari diterapkan. Ketiga, visualisasikan tujuan memberesi rumah, untuk melihat gambaran ke depan mau seperti apa nantinya.

Keempat, mulai rencanakan kapan akan mulai pekerjaan membereskan rumah. Ini butuh waktu sekaligus langsung beres. Bukan dicicil bertahap. Langkah kelima sampai kesembilan adalah urutan kriteria seleksi barang-barang yang akan dibereskan. Jangan ditukar urutan tersebut. Hal ini karena ada kaitannya dengan waktu, beres sekali waktu.

Untuk menentukan kriteria seleksi barang, Marie Kondo bilang pilih yang membangkitkan kegembiraan atau tidak. Jika punya barang yang kalau kita pegang saja membuat kita jadi susah, buang saja. Sesederhana itu? Tidak. Marie Kondo menyebut hal itu malah membuat kita fokus pada barang yang akan dibuang saja. Menurutnya, itu malah membuat kita justru tidak bahagia, karena fokus pada sesuatu yang tidak membahagiakan.

Marie Kondo kemudian membaliknya, berdasarkan pengalamannya, dia menyarankan fokus pada barang yang akan disimpan, bukan pada barang yang akan dibuang. Kriteria seleksinya, apakah barang ini membangkitkan kegembiraan? Jika ya, simpan. Jika tidak, buang saja.

Nah, cocok kan dengan logika if .. then pengambilan keputusan kriteria seleksi tersebut? Itu semua terkait dengan cara berpikir setiap orang. Jika tidak bisa mengubah cara berpikir, maka dipastikan kebiasaan lama yang buruk akan sulit berubah.

Semoga bermanfaat.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *