Menu


IoT dan Menteri Keamanan Siber Jepang Tidak Paham Komputer
Pak Surahyo saat memberikan kuliah pengantar IoT di STMIK Balikpapan, Jumat (16/11). Foto: pak Mundzir

Pak Surahyo saat memberikan kuliah pengantar IoT di STMIK Balikpapan, Jumat (16/11). Foto: pak Mundzir

Jumat (16/11) malam saya ada jadwal mengajar pemrograman untuk kelas Eksekutif. Sebelum perkuliahan dimulai, di tengah jalan menuju bagian pengajaran, saya bertemu pak Mundzir. Ia mengabarkan, salah satu dosen saya dulu ketika di UGM, sedang berada di kampus ini.

“Ada pak Rayo, dosennya pak Subur dulu di UGM,” kata pak Mundzir.

“Pak Rayo, siapa?” kataku sambil mengingat-ingat.

Setelah ditunjukkan tulisan di backdrop yang terpasang di Main Hall, saya baru ngeh. Ternyata yang dimaksud adalah pak Surahyo Sumarsono.

“Beliau ada acara di Samarinda, mumpung ada disini, kita ‘culik’ untuk sharing ke mahasiswa dan dosen,” kata pak Wisnu, sang ‘penculik’ dosen. 😉

Yup. Ini excited banget. Surprise. Kami yang ada di daerah, di pelosok, di ujung negeri, di pulau terpencil dan terluar, sangat memerlukan ‘siraman’ ilmu pengetahuan dan teknologi yang penuh insight.

Memang sih, di zaman sekarang, Internet berperan jauh menerobos batas-batas sehingga informasi mudah didapat. Tapi, ilmu pengetahuan itu tidak melulu perihal pengetahuan dan teknikal. Bahkan, ada sih berbagai ‘how to’ dan ‘manual’ yang tertulis di buku-buku dan berbagai sumber tersebar bebas siap dipelajari sendiri.

Tapi, tentu saja itu sangat menyulitkan jika tanpa guru yang berpengalaman dalam hal mendidik, membimbing, dan mengarahkan. Yang dibutuhkan anak didik itu bukan sekadar bisa program ini, bisa membuat sesuatu. Tetapi, mereka adalah anak manusia yang butuh insight, insight, dan insight.

Itulah kenapa alasan belajar sendiri tanpa guru, tanpa bimbingan dan arahan, takutnya malah jadi tersesat. Ujubileeeh

Oleh karena itu, sekali lagi, ini excited banget. Sudah ada beberapa dosen dari perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa yang mampir ke Balikpapan atau Samarinda ketika dalam perjalanan tugas. Beliau itu sukarela meluangkan waktu untuk mengunjungi kami, mantan muridnya, untuk sharing, sekadar ngobrol atau berbagi.

Sepanjang catatan saya, sudah ada dosen senior yang pernah mengontak saya ataupun ke teman-teman. Di antaranya ada pak Lukito Edi Nugroho UGM Yogyakarta. Sayang sekali, saya saat itu gagal bertemu. Kemudian ada pak Hari Ginardi ITS Surabaya. Beliau berhasil memberikan kuliah umum. Dan kemarin itu pak Yayok atau pak Surahyo.

Baca juga:  Katanya, Hijrah itu Tenang

Selain dari akademisi, juga ada beberapa profesional dan industri yang ikut sharing. Mereka berbagi pengalamannya bekerja di industri teknologi informasi dan telekomunikasi. Mereka juga termasuk stakeholders. Di antaranya ada yang dari PT Telkom, sampai developer dari perusahaan rintisan (start-up) yang tengah berkembang.

Internet of Things

Istilah Internet of Things atau IoT akhir-akhir ini berkembang seiring dengan pesatnya ledakan data dan informasi. Dari sini, pengetahuan pun berkembang. Hadirnya Social Network, Cloud, Big Data, Artificial Intelligence, Robot, dan bidang-bidang lain ikut mendorong perkembangan IoT.

Komunikasi data yang awalnya terjadi pada hubungan antar mesin saja, machine to machine, kini berkembang lebih luas. Terjadi hubungan antara mesin dan orang, orang ke mesin, mesin ke obyek, hingga orang ke obyek.

“Istilah ‘Things’ pada Internet of Things, adalah sesuatu yang bisa kita kontrol secara elektronik,” kata pak Yayok, ketika menjelaskan definisi IoT.

Menurutnya, dengan terhubung ke jaringan komputer – Internet –, sesuatu tersebut dapat diperoleh datanya untuk kemudian dikontrol atau dikendalikan secara elektronik. Selama sesuatu atau obyek tersebut terhubung ke Internet.

“Sekarang itu mudah melacak jejak anak milenial karena hampir semuanya terekam secara elektronik,” tuturnya.

Hampir semua gerak orang-orang yang menggunakan gadget, terekam di Internet. Sedikit-sedikit update status media sosialnya. Sedikit-sedikit update tempat lokasi keberadaannya. Semua terekam secara elektronik sehingga sangat mudah diketahui.

Berangkat dari ini semua, keberadaan IoT pun berkembang dan banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Mulai dari sektor bisnis perdagangan, teknologi, pertanian, kesehatan, transportasi, retail, pendidikan, energi, konstruksi, hingga manufaktur.

Meski demikian, yang menjadi perhatian besar saat ini adalah risiko keamanan. Risiko yang ‘menghantui’ pemanfaatan IoT terkait keamanan informasi yang bisa mengakibatkan hilangnya reputasi atau kredibitas, hilangnya waktu dan keuntungan, hingga tantangan penegakan hukum dan masalah lain yang timbul di belakangnya.

Baca juga:  Jika Ditanya "Lagi Dimana", Maka Berhati-hatilah

Untuk itu, kita diingatkan agar memperhatikan dan mengontrol setiap risiko yang timbul. Karena kejahatan siber selalu berhubungan dengan penggunaan IoT yang tidak tepat. Muncul pencurian data, penyalahgunaan data yang tidak seharusnya, hingga persoalan korupsi dan kejahatan lainnya.

Caranya?

Kita harus mengerti dan memahami apa dan bagaimana sebelum, selama, dan sesudah menggunakan perangkat IoT.

Sebelum menggunakan perangkat IoT, kita perlu setidaknya melakukan riset kecil sebelum membeli perangkat IoT yang akan kita gunakan misalnya. Membaca beberapa review dan rekomendasi, hingga mengerti sejauh mana perangkat IoT memiliki kemampuan sistem keamanannya misalnya.

Selama menggunakan perangkat IoT, selalu awas dan waspada terhadap keamanan jaringan komputer yang kita gunakan. Rutin mengganti password dan selalu menggunakan password yang kuat. Lakukan update sistem, gunakan saluran komunikasi yang aman, enkrispi data, dan lainnya.

Setelah menggunakan perangkat IoT juga perlu dilakukan pengamanan. Selalu melakukan proses validasi setiap kali usai menggunakan. Logout atau melakukan penguncian sistem misalnya. Backup data secara rutin, gandakan hardisk atau Cloud Storage. Jangan lupa, ujilah sistem recovery datanya untuk memastikan kita menggunakan Cloud yang tepat.

Foto bareng pak Surahyo. Foto: pak Mundzir

Foto bareng pak Surahyo. Foto: pak Mundzir

Foto bareng pak Surahyo. Foto: pak Mundzir

Foto bareng pak Surahyo. Foto: pak Mundzir

Menteri Keamanan Siber Jepang Tidak Paham Komputer

Sementara itu, sehari sebelumnya di Jepang sedang heboh. Dikutip dari The New York Times, Menteri Keamanan Siber Jepang Yoshitaka Sakurada (68), mengaku tidak pernah menggunakan komputer.

Bermula saat ia tidak mengerti apa itu USB drive, ketika ditanya seorang anggota parlemen terkait pembangkit listrik tenaga nuklir yang memungkinkan penggunaan drive USB, yakni salah satu teknologi penyimpanan portable yang digunakan secara luas oleh masyarakat umum, tetapi memiliki risiko keamanan yang tinggi.

“I have been independently running my own business since I was 25 years old,” he said. When computer use is necessary, he said, “I order my employees or secretaries” to do it.

“I don’t type on a computer,” he added.

“I don’t know details well,” he said. “So how about having an expert answer your question if necessary, how’s that?”

Tentu saja, hal ini menimbulkan keheranan dan kritik dari lawan politiknya.

Baca juga:  Mas Sutaji, Guru Mengaji dan Pendekar Silat yang Penjual Bakwan

“I can’t believe that a person who never used a computer is in charge of cybersecurity measures,” said Masato Imai, an opposition lawmaker.

Sakurada mengakui dengan tegas melakukan keamanan siber dari sudut pandang menjaga warga negara adalah bagian dari pekerjaannya.

Ketika ditanya oleh anggota oposisi bagaimana seseorang yang kurang memiliki keterampilan komputer dapat bertanggung jawab atas keamanan siber, Sakurada mengatakan kebijakan diputuskan secara luas oleh sejumlah orang di kantornya dan pemerintah nasional.

Sakurada baru bulan lalu ditunjuk Perdana Menteri Shinzo Abe untuk bertanggung jawab terhadap keamanan siber, Olimpiade dan Paralympics mendatang.

Kabar heboh dan mengherankan publik ini saya sampaikan kepada pak Yayok, untuk membantu saya menjawab jika ada kemungkinan pertanyaan yang sama di masa yang akan datang. Kebetulan, pak Yayok juga pernah lama di Jepang.

Menurutnya, berdasarkan pengalaman pribadinya bertemu dengan orang-orang yang menyandang jabatan CIO, bahwa teknologi informasi itu diciptakan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah kehidupan umat manusia.

“Artinya bahwa kalau ada teknologi-teknologi seperti itu berarti ada masalah-masalah besar di balik itu,” tutur pak Yayok.

Oleh karena itu, tidak heran jika kemudian ada orang-orang yang mampu melihat masalah-masalah besar yang bisa diselesaikan dengan teknologi.

“Mereka mampu melihat gambar besarnya atau problem secara keseluruhan dulu hingga terkecil apa yang sedang terjadi, kemudian akan memberikan alternatif-alternatif solusi yang strategis,” ungkapnya.

“Betul bahwa memang akan sangat baik kalau mereka memiliki kemampuan teknis, komputer, jaringan, firewall, dan lain-lain,” ungkapnya.

Menurutnya, di sebuah organisasi banyak sekali para pegiat teknologi informasi yang memiliki keahlian dan kemampuan teknis. Namun, pemimpin mereka berasal dari orang-orang yang tepat dalam melihat keadaan, memikirkan, dan mengambil keputusan.

“Jadi, yang penting baginya adalah secara keseluruhan, dia paham nanti akan mengarah kemana, kemudian detil teknisnya akan dikerjakan oleh anak buahnya, mungkin di Jepang menganut pendekatan seperti itu,” pungkasnya.

******

Well… semoga bermanfaat.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *