Yeay! Jalan Panjang untuk Pulang sudah Datang | suburaID | Subur Anugerah's Weblog
Menu


Yeay! Jalan Panjang untuk Pulang sudah Datang
Jalan Panjang untuk Pulang. Agustinus Wibowo. Januari 2021. Foto: dok. pribadi

Jalan Panjang untuk Pulang. Agustinus Wibowo. Januari 2021. Foto: dok. pribadi

HARI ini di meja saya ada paket kiriman dari Gramedia Jakarta. Isinya buku baru karya Mas Agustinus Wibowo dengan judul Jalan Panjang untuk Pulang. Saya memang salah satu penggemarnya dan banyak belajar dari tulisan-tulisannya. Terkait dengan Traveling dan pesan-pesan penting humanism dan identitas. Ya… saya anggap penting karena justru dari sinilah saya juga mengambil pelajaran.

Latar belakangnya sebagai seorang sarjana komputer dari perguruan tinggi ternama di Cina, Universitas Tsinghua, membuat saya penasaran. Tulisan-tulisannya malah tidak terkait dengan bidang komputer dan teknologi. Dalam Traveling-nya, Ia mengaku justru membawa kamera yang sangat sederhana, tetapi mampu menghasilkan gambar yang bagus dan menceritakan keadaan di sekitarnya seolah pembaca mengikuti perjalanan yang sesungguhnya. Dan yang lebih penting lagi adalah tulisannya membawa pesan dan mampu memberikan pengaruh. Buktinya, saya terpengaruh membeli beberapa buku karyanya: Selimut Debu dan Titik Nol.

Di dalam buku barunya ini saya menemukan banyak surprise. Agustinus yang saya kenal melalui cerita-ceritanya tentang identitas yang mengharu biru, kini tampak lebih terbuka, tegas, dan berani memihak. Salah duanya adalah soal Australia dan Suharto, Presiden RI yang ke-2.

Soal Australia, misalnya, ia dengan tenang menyebut mengacungkan semua jempolnya untuk grup band Superman Is Dead atau SID yang mengomentari gerakan #BoycottBali tanpa jejak inferioritas:

Mereka pikir dirinya raja dan semua bisa dibeli dengan dolar. Bali tak perlu turis-turis sampah seperti itu! Tidak ada negara yang butuh sampah. RESPECT! THATS WHAT WE ALL NEED!” tulisnya. (216)

Komentar SID yang cukup pedas ini terkait dengan rencana pemerintah RI mengeksekusi mati dua anggota Bali Nine yang terbukti menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Pemerintah RI mendapat tekanan dari Australia, negara asal kedua terpidana tersebut melalui Perdana Menteri Tony Abbott. Bahkan Menteri Luar Negeri Australia saat itu, Julie Bishop, mengancam Indonesia terkait dampak hukuman mati warganya di Bali.

Baca juga:  Berikan Kasih Sayang, Jangan Kau Eksploitasi

Saya ingin mengatakan pada orang Indonesia dan pemerintah Indonesia, kami di Australia selalu siap untuk membantu kalian dan kami berharap kalian membalasnya dengan cara ini (membiarkan duo Bali Nine tetap hidup) pada saat ini,” kata Tony Abbott kala itu.

Apa kata Agustinus? “Mungkin Tony Abbott perlu diingatkan, bahwa dalam kultur Indonesia, mengungkit-ungkit pemberian sendiri kepada orang lain adalah hal yang sangat menghina sekaligus memalukan diri sendiri.” #Majleb

Keren kan? 😀

Soal Suharto, ini terkait dengan masa lalu diri dan keluarganya mendapat perlakuan rasialis selama orde baru. Apa yang menjadi kegelisahan Agustinus kala itu, memang saya sendiri telah melihat dan merasakannya. Saat itu, sering kali dijumpai orang-orang di sekitar kita, atau teman-teman kecil kita, kala itu menyebut keturunan Cina dengan sebutan “Singkek”, “Sipit”, Cino dan sebagainya. Bahkan hingga detik ini saya masih menemukan teman yang sering menjuluki dengan kata-kata rasialis tersebut. Saya sampai heran orang itu habis makan apa kok sumpah serapah membenci orang secara rasial.

Nah, cerita tentang pengembaraannya di negeri-negeri orang di Balkan sana mengungkap apa yang melatari dirinya pergi ke sana. Ia ungkapkan semuanya di videonya di YouTube. Terus terang saya cukup tercengang! Berarti sudah ada dua orang yang sudah bercerita hal yang sama mengapa ia melakukan perjalanan jauh. Selain Agustinus sendiri, dia adalah Ricky Santoso atau Ric snt di kanal YouTube-nya.

Ricsnt mengatakan alasan dirinya Keliling Indonesia Gratis atau KIG selama 1.5 tahun trauma kerusuhan rasialis 1998. Ia seolah ingin membuktikan bahwa orang Indonesia itu sebenarnya sangat baik. Terbukti selama perjalanan dari Aceh sampai Papua, ia menemui teman-teman baik dan mempersilakan dirinya menginap di tempat tinggal teman mayanya. Ia sekarang tinggal di Bali.

Baca juga:  Tutorial Membangun Website dengan Wordpress

Bagi aku sendiri, perubahan terbesar yang kurasakan adalah bahwa aku tidak lagi perlu berjalan dengan menyembunyikan kulit kuning dan mata sipitku, karena tidak ada lagi orang meneriaki “Cina! Cina!” di jalan,” tulis Agustinus, pasca kerusuhan rasialis tahun 1998 sebagai lahirnya demokrasi Indonesia pasca-Suharto.

Bagi orang Cina, demokrasi Indonesia pasca-Suharto juga membawa perubahan yang sangat drastis: menjadi Cina kini sudah bukan dosa lagi.” tulis Agustinus (457).

Pengalaman Agustinus ini cukup kaya. Buku yang kubeli ini ditandatangani langsung oleh Agustinus.


Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *