suburaID » Belajar itu Usaha Memperbaiki Diri
Menu


Belajar itu Usaha Memperbaiki Diri
Ilustrasi. Learning 4 Steps. Gambar: https://knowledgeone.ca/neuroscience-learning-in-4-steps

Ilustrasi. Learning 4 Steps. Gambar: https://knowledgeone.ca/neuroscience-learning-in-4-steps

KETIKA mengasuh beberapa matakuliah di semester kemarin saya telah menyiapkan kegiatan terencana untuk menyelesaikannya, terutama di masa pandemik Covid-19. Pandemik menyebabkan tatap muka di kelas menjadi berkurang dan lebih banyak dialihkan daring.

Kondisi ini memaksa dosen maupun guru untuk berpikir bagaimana menemukan cara yang paling efektif dan efisien untuk diterapkan. Untuk itulah, saya juga telah melakukan kajian dengan mencari cara pembelajaran yang tepat menggunakan sebuah metode untuk melakukan PTK atau Penelitian Tindakan Kelas.

Hasil PTK ini saya publikasikan di KONIK-4 pada bulan Juni 2020 yang lalu. Prosiding bisa ditemukan di Researchgate.

PTK tersebut bercerita bagaimana meningkatkan pembelajaran daring dengan materi belajar pemrograman. Kesulitan yang terjadi dan berusaha diperbaiki adalah banyak peserta didik yang tidak memahami bagaimana belajar pemrograman. Mereka, kebanyakan, cenderung mengikuti salah satu temannya yang dianggap lebih ‘jago’ dan mengerti pemrograman.

Memang, tidak semua mahasiswa yang ‘jago’ itu mau menjadi ‘pahlawan’ yang gagah berani membagi jawabannya untuk dicontek teman-temannya. Mahasiswa ‘jago’ย  yang kuat pendiriannya ini kadang ada di kelas tersebut, tapi langka. Kalaupun ada, jumlahnya tak banyak, 1-3 orang saja. Mahasiswa jenis ini biasanya punya prinsip, pendiriannya teguh dan kuat. Dia tak ingin diperdayai dan dimanfaatin temannya yang ingin berbuat picik dan curang.

Lantaran banyak mahasiswa yang menyerah dengan keadaan diri mereka sendiri (red: malas), mereka akhirnya mencari sesama golongan mereka, satu aliran, satu gelombang, dan menemukan seorang teman yang ia jadikan panutan. Panutan ini siap menjadi ‘pahlawan’ yang membuka ‘cakrawala’ dan ‘masa depan cerah’ lewat contekan yang dibagikan di grup mereka.

Mereka akhirnya menjadi follower-nya. Hasilnya, mereka sigap mengumpulkan setiap kali tugas diberikan, kuis, atau UTS. Tapi sayang, jawaban mereka mesti sama persis dengan panutannya, plek! Baik jawaban itu salah atau benar, sama plek! Bukan itu saja, nama file pekerjaan mereka pun diberi nama saya: tugas-pak-subur.pdf; kuis-pak-subur.pdf; atau uts-pak-subur.pdf. Saya sampai mengira yang mengerjakan itu adalah saya. ๐Ÿ˜€

Baca juga:  Verspreid Geen Kletspraat of Geruchten

Pada titik itu, saya menjadi jenuh mengoreksi pekerjaan mereka. Untuk apa? Toh isinya sama semua. Saya merasa sia-sia mengajar karena tidak ada materi belajar yang berhasil dipahami. Di kelas, saya merasa seperti bicara kepada tembok. Ketika membahas materi C Programming, misalnya, begitu dievaluasi, mereka mengumpulkan dengan Pemrograman C++. Copy-paste lagi. Duh! Rasanya nelangsa… hiks!

Apakah cara saya mengajar terlalu lembut dan membuat mereka mengantuk? Ataukah cara saya menyampaikan tidak seheboh artis terkenal, Youtuber, tiktoker, Instagramer yang punya pengikut ribuan itu? Mungkin bisa jadi iya ada benarnya.

Kalau memang benar saya membosankan, mengapa tidak mencari materi yang sama yang dibahas oleh orang lain yang lebih mudah dipahami? Menurut saya, itu semua hanyalah alasan saja. Buktinya, lebih banyak yang mendapat nilai bagus dibanding yang jelek. Itulah kenapa saya tidak menerima alasan apapun dari mereka yang suka protes. Bisanya hanya protes tanpa mengoreksi dirinya sendiri lebih dulu. Introspeksi.

“Pak, kenapa saya dapat nilai D?”

“Pak, kenapa saya dapat C?”

Pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah tanpa dosa, menunjukkan keluguan dan ketidaktahuan, mencoba menguji barangkali dosennya salah. Siapa tahu kan? Kan untung jika dosennya mau ubah nilai. Iya gak? Terus mimpi nilainya diubah jadi B atau A. Cieee…

Agar kejadian itu tidak terulang kembali, sesuai metode PTK tersebut, saya merancang sistem untuk melihat siapa yang benar-benar belajar. Belajar itu usaha memperbaiki diri. Indikatornya terlihat dari adanya perubahan sikap yang semakin baik. Semakin lama belajar, semakin meningkat perubahan positif dan kebaikan menuju kedewasaan dan kematangan diri.

Itulah mengapa orang yang semakin banyak belajar, ia akan semakin berpengalaman dan rendah hati. Jika belajar itu membawa nilai positif, maka dirinya akan membawa ketundukan, ketaatan, jauh dari kesombongan. Itu yang disebut ilmu padi. Semakin bertambah usianya, semakin padat berisi, semakin menunduk dan rendah hati.

Baca juga:  Orang IT itu Memang Harus Bisa Segalanya!

Itulah kenapa saya hanya ingin fokus pada yang mau belajar saja. Yang tidak mau belajar ya tidak usah dipaksa. Bahkan saya persilakan untuk tidak mengikuti ujian, daripada ikut ujian tapi tidak puas dengan nilai yang diberikan. Iya gak?

Makanya… elu belajar yee… biar makin pinter dan rendah hati… ๐Ÿ˜€

 


Baca juga:

Sabtu, 12 Januari 2019 : 11:09 Wita
Dadakan, Membuat Aplikasi Ujian Pemrograman
Dadakan, Membuat Aplikasi Ujian Pemrograman
Rabu, 8 November 2017 : 11:59 Wita
Goreng Donat Sendiri, Tanpa Topping Gula-gula
Goreng Donat Sendiri, Tanpa Topping Gula-gula
Selasa, 10 Maret 2020 : 16:25 Wita
Mencari Model Bisnis Media Online
Mencari Model Bisnis Media Online
Jumat, 11 Agustus 2017 : 05:23 Wita
Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!
Zaman Now, Jadi Dosen itu Enak!
Kamis, 27 Juli 2017 : 00:33 Wita
Tantangan Menulis Kisah Hidup
Tantangan Menulis Kisah Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *