Respek dan Proaktif, Tips Bimbingan dan Komunikasi Efektif Lewat WhatsApp | suburaID
Menu


Respek dan Proaktif, Tips Bimbingan dan Komunikasi Efektif Lewat WhatsApp
Komunikasi dua arah tidak efektif antara mahasiswa dan dosen. Sumber: dok. pribadi

Komunikasi dua arah tidak efektif antara mahasiswa dan dosen. Sumber: dok. pribadi

AWAL semester ini seperti biasa kesibukan persiapan kuliah berlangsung dalam beberapa pekan. Komunikasi-komunikasi dengan mahasiswa yang bimbingan KRS terjadi sangat intensif. Lantaran komunikasi yang terjadi lewat daring, maka seolah tidak mengenal waktu, apalagi sangat bertele-tele, salah satu cara komunikasi yang tidak efektif.

Siapa saja jika berkomunikasi yang bertele-tele, halah, akan menyebabkan salah satu pihak menjadi sebel. Yak, sama dengan saya. SEBEL dan juga mengganggu. Sering sekali mahasiswa bertanya hal-hal yang sepatutnya sudah dia ketahui sendiri, yang seharusnya dia menunjukkan respek dan proaktif, tapi kenyataannya banyak yang kurang membaca dan mengerti.

Nah, hal yang sering terjadi dan mengganggu adalah kesalahpahaman interaksi antara mahasiswa dan dosen, baik mahasiswa baru, mahasiswa lama saat bimbingan akademik, atau bimbingan skripsi. Caranya gampang kok. Cukup satu saja: RESPEK!

Respek atau RESPECT (Inggris) adalah menghormati. Menurut Wikipedia, respek disebut menghargai atau memberikan penghargaan, yaitu memberikan perasaan tulus atau tindakan positif yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu yang dianggap penting, dijunjung tinggi, atau dihargai.

Respek akan tampak dengan sendirinya dengan menunjukkan kualitas penghormatan, rasa kagum, dan penghargaan yang tulus. Untuk menunjukkan penghormatan tidak selalu menunduk-nunduk seperti priyayi Jawa kepada raja. Jika penghormatan itu dilakukan siswa kepada guru, maka penghormatan itu diberikan siswa selayaknya kepada guru. Begitu juga sebaliknya, guru pun respek kepada siswa selayaknya kepada siswa. Dan seterusnya.

Sebaliknya, jika tidak menunjukkan respek, maka berarti seseorang bisa disebut tidak menghargai orang lain, tidak menganggap orang lain penting, bahkan merendahkannya. Terbayang kan jika itu dilakukan siswa kepada guru, atau sebaliknya guru kepada siswa. Suasana kelas dan kegiatan belajar mengajar menjadi tidak efektif lantaran diliputi rasa saling tidak respek.

Bagaimana dengan PROAKTIF, apakah proaktif diperlukan untuk komunikasi yang efektif? Ya, jelas diperlukan sekali! Proaktif dalam memahami apa yang sedang disampaikan (komunikasi) dan membutuhkan tindakan. Guru, siswa, karyawan, direktur, mahasiswa, atau dosen yang proaktif umumnya tidak perlu diminta untuk bertindak, juga tidak memerlukan instruksi terperinci.

Baca juga:  Apa itu Masyarakat 5.0?

Perilaku proaktif yang berhubungan dengan pekerjaan adalah kecakapan, yaitu kemampuan memenuhi persyaratan pekerjaan yang dapat diperkirakan sebelumnya, kemampuan beradaptasi, mendukung pencapaian keberhasilan, dan mendukung inisiatif perubahan yang diprakarsai oleh pimpinan atau leader dalam sebuah organisasi. Proaktif adalah tentang memulai perubahan menuju ke arah yang lebih maju.

Sudah banyak yang mengakui, walaupun tidak saya telusuri, bahwa sangat banyak individu yang positif, energik, cerdas, mengikuti jalur proaktif.

Membangun Komunikasi Efektif

Menurut Endang Lestari dalam bukunya Komunikasi yang Efektif (2003), ada lima aspek yang harus dipahami dalam komunikasi efektif.

  1. Kejelasan (clarity), yakni kejelasan bahasa atau informasi yang disampaikan. Jelas dalam nada dan intonasi. Jelas suara dan mampu di dengar lawan bicara. Jelas juga jika berbicara menggunakan teks dalam pesan singkat WhatsApp.

    Meski jelas, penggunaan TEKS untuk berkomunikasi membutuhkan gaya yang berbeda dengan penggunaan SUARA. Karena TEKS tidak membutuhkan intonasi dan nada, maka penulisannya pun membutuhkan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Cara bertutur dalam bentuk teks akan terasa berbeda dengan bentuk suara maupun video berita.

  2. Ketepatan (accuracy),  akurasi atau akurat. Saya memiliki definisi sendiri untuk akurasi sebuah berita untuk menyampaikan informasi, yakni telah melalui verifikasi dan validasi.
    Verifikasi itu menyangkut cara memperoleh berita haruslah benar, tidak boleh tidak benar, misal berita diambil dari sumber lain tanpa izin, atau tanpa konfirmasi dari pihak-pihak yang menjadi sumber berita, atau tanpa melalui penelitian yang sesuai dengan kaidah ilmiah.

    Sedangkan validasi menyangkut data yang benar. Misal, “… setelah ditelusuri dari e-KTP yang ditemukan di saku celananya dan informasi dari keluarganya, korban adalah benar bernama Paijo, seorang pria paruh baya asal Klaten Jawa Tengah.”

    Jadi, sebuah berita atau informasi akan dinilai akurat apabila telah melalui verifikasi dan validasi, bahwa telah melalui verifikasi yang bersumber dari data yang valid atau syah.

  3. Konteks (contex),yakni dengan memperhatikan situasi dan kondisi saat berkomunikasi. Dalam konteks dua seorang siswa sedang memperhatikan guru yang sedang menerangkan materi pelajaran di kelas misalnya, maka siswa tidak berkomunikasi dengan siswa lainnya untuk berdiskusi di luar materi pelajaran. Kedua siswa harus mengetahui sedang dalam memperhatikan materi pelajaran.
    Begitu juga saat berkomunikasi lewat WhatsApp, maka ketika guru menyampaikan materi di dalam grup kelas WhatsApp tersebut, siswa hendaknya memperhatikan dan tidak membahas di luar konteks diskusi maupun materi pelajaran, selama sesi belajar belum diakhiri atau diizinkan guru untuk membahas yang lain.
  4. Alur (flow). Membuat alur cerita itu gampang-gampang susah. Susah jika tidak terbiasa mengungkapkan sesuatu, entah itu gagasan, ide, solusi, atau masalah kepada orang lain. Oleh karena itu, menulis gagasan di blog seperti ini, atau diskusi dalam sebuah kelompok atau komunitas itu sangat penting bagi setiap pembelajar.
    Bagi saya, membuat alur cerita itu ada banyak cara, salah satunya mirip gaya berita media massa, stright-news! Ini karena kebiasaan setiap hari bersentuhan dengan gadget dan membaca berita. Kebiasaan itu akhirnya terbawa ketika membuat tulisan, entah itu tulisan dalam pesan WhatsApp atau tulisan dalam website, jurnal, atau buku.

    Nah, untuk bisa menulis jurnal misalnya, kita harus punya wawasan dan pengetahuan, baik dalam bahasa, informasi, maupun pengetahuan yang akan dimuat dalam sebuah jurnal, bukan?

    Kita akan memperbanyak membaca, memahami, dan menerapkan, dan menghasilkan produk atau luaran. Akan lebih baik jika ditambah dengan diskusi yang akan memperkaya wawasan maupun pendapat lain yang bisa jadi akan menambah masukan dan menjadi kekuatan pada tulisan atau jurnal kita.

  5. Budaya (culture). Ini pentingnya jalan-jalan ke beberapa daerah, baik sekadar berkunjung, silaturahmi, atau sekadar vacation untuk mengenal daerah dan budaya setempat, mengenal gaya berbicara penduduk setempat, atau mengenal kehidupan sehari-hari mereka.Saya jadi teringat ketika jalan-jalan ke Bali beberapa waktu yang lalu. Sebelum benar-benar di sana, saya mempelajari apapun yang ada di sana, baik makanan, transportasi, orang-orang yang ada di jalan, di penginapan, terutama di tempat yang akan menjadi tujuan vacation meski kurang dalam satu pekan.

Dengan memahami lima aspek ini akan membawa kebiasaan diri seseorang untuk terbiasa menggunakannya, baik secara sadar maupun tidak, untuk selalu digunakan dalam setiap kali berkomunikasi. Dengan memahami ini pula, berarti juga akan memahami bagaimana RESPEK dengan orang lain.

Lalu, bagaimana cara membangun komunikasi yang efektif? Menurut saya, dengan memahami lima aspek di atas, kita tambahkan kebiasaan proaktif untuk.

  1. Mengetahui mitra bicara (audience). Apakah sedang berbicara dengan orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan, status sosial, pangkat, jabatan, dan seterusnya. Dengan tahu dengan siapa yang kita ajak bicara, kita akan cerdik dan cerdas memilih kata yang sesuai untuk lawan bicara.
  2. Mengetahui tujuan berkomunikasi. Apakah berkomunikasi untuk menyampaikan informasi, mengundang, melakukan bimbingan skripsi, bimbingan akademik, atau melakukan negosiasi jual beli barang dan jasa misalnya. Jadi, pastikan tahu lebih dulu apa tujuan kita berkomunikasi dengan lawan bicara.
  3. Memperhatikan konteks, keadaan, atau lingkungan saat akan dan sedang berkomunikasi. Konteks sangat berperan memperjelas komunikasi.
  4. Mempelajari budaya, habit, kebiasaan orang atau masyarakat tertentu. Orang Jawa dan Sunda umumnya lembut dalam bertutur kata.
  5. Pahami bahasa saat berbicara. Bahasa menunjukkan bangsa. Artinya, bahasa menjadi ciri atau identitas suatu bangsa. Berbicara identitas berarti berbicara harga diri dan kebanggaan. Dengan memahami bahasa orang lain berarti berusaha menghargai orang lain.
Baca juga:  Mau Kerja atau Kuliah, Presensi Tetap Tanggung Jawab Sendiri

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *