Menu


[Video] Ketika Merasakan Pembangunan Infrastruktur
Turing tandem Keliling sebagian Jawa Timur, saat mengambil foto di Mojoagung (9/6). Foto: dok. pribadi

Turing tandem Keliling sebagian Jawa Timur, saat mengambil foto di Mojoagung (9/6). Foto: dok. pribadi

Mudik tahun 2019 ini selain silaturahim kepada Ibunda, Saudara, dan kerabat di Surabaya, saya juga mengunjungi Paklek dan Bulek yang tinggal di Japanan, Pare, Kediri, dan Srengat Blitar, meski tidak semuanya berhasil bertemu.

Lantaran waktu yang terbatas, dalam perjalanan menuju rumah Paklek/Bulek, saya memilih menggunakan sepeda motor bersama Iwan (Gresik), seorang sahabat yang dulu satu kamar kos tahun 1996 di Malang.

Untuk keperluan tersebut, saya mendapat pinjaman sebuah motor Honda CB150R milik kakak. Bahkan, seorang teman, Dian Isnomo, jauh hari sebelumnya telah menawarkan motornya khusus untuk keperluan touring jarak jauh. Ok deh, insyaallah lain waktu… ๐Ÿ˜‰

Semumpung tubuh dalam kondisi fit, juga terbuka kesempatan di depan mata, maka itu membuat saya berpikir untuk tidak mengabaikannya. Maklumlah, di usia sekarang ini kadang dihinggapi rasa lemah, malas, loyo, dan motivasi tiba-tiba menghilang. Orang bahkan ikut mengompori dengan mengatakan buat apa touring jauh-jauh naik motor, menghabiskan uang, atau menyarankan lebih baik tidur enak di rumah. ๐Ÿ˜€

Menurut saya sih silakan saja Anda berbuat begitu. Itu kan pilihan Anda. Saya tidak habis pikir. Kadang, orang menilai dirinya merasa lebih baik daripada orang lain. Ia kemudian membandingkan dirinya dengan orang lain dengan menyebutkan harusnya begini dan begitu. Tetapi ia lupa bahwa setiap orang itu unik.

Ada orang yang berusaha bergerak terus, ingin selalu berkembang dengan mendatangi ilmu. Tentu tidaklah sama dengan orang yang lebih suka berdiam diri dan duduk manis (tanpa uzur), berharap ilmu akan mendatanginya sendiri (Alquran 4-95).

Di zaman sekarang ini, ada banyak contoh tentang bagaimana memiliki mental pemenang (winner) dan pecundang (loser). Saya jadi ingat apa kata Prof Rhenald Kasali pada bukunya Self Driving. Menurutnya, bagi winner, pada setiap dinding selalu ada pintunya. Tugasnya adalah mencari dan menemukan pintu-pintu itu. Sedangkan loser selalu berpikir pada setiap pintu yang ia buka selalu akan ditemui dinding-dinding tembok.

Baca juga:  [Video] KA Mutiara Timur, Surabaya Gubeng - Banyuwangi Karangasem PP

You are a winner or a loser. It’s your choice!

Oleh karena itu, kesempatan untuk bisa melakukan touring tipis-tipis keliling Jawa Timur ini, apalagi bersama seorang teman yang, kok ya memiliki ‘semangat’ yang sama, maka saya merasa beruntung sekali.

Saya jadi ingat. Seseorang pernah berkata, langkah pertama itu justru yang paling sulit. Tahukah Anda, touring motor dengan rute yang sama, terakhir pernah saya lakukan kira-kira lebih dari 20 tahun yang lalu. Selanjutnya, saya hanya naik roda empat atau lebih, dan itupun duduk manis, kadang tidur di belakang sopir.

Ketika touring motor, kesempatan untuk ikut merasakan dan menikmati alam yang sebenarnya terasa lebih dekat. Kesempatan ini juga saya gunakan untuk melihat dan merasakan sejauh mana pembangunan infrastruktur saat ini jika dibandingkan dengan kondisi ketika touring yang sama puluhan tahun yang lalu itu.

Hasilnya, saya temukan ada banyak jalan alternatif atau jalan utama yang masih tampak baru selesai dibangun. Saya juga berhasil sedikitnya melalui jalan tersebut kemudian ‘tersesat’ menjadi lebih jauh atau lebih pendek. Bahkan melampaui tempat yang hendak dituju terlampau jauh, seperti tidak melewati Bendo Pare, atau mungkin saya tidak ingat tempat atau daerah di Bendo Pare itu kini telah berubah dibanding kondisinya puluhan tahun yang lalu. Ah…

Tapi tak mengapa, itulah pelajarannya bahwa kini ada banyak perubahan pembangunan daerah. Pelajaran lain adalah saya merasa seperti telah menghilang dan menemukan kembali, seperti sebuah petualangan. Ah, pret… Lantaran terus dikejar waktu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Kediri dan tidak berbelok balik ke Bendo.

Saya kemudian mampir dan dijamu seorang sahabat juga, Iman Prabowo. Ia kini pengusaha rumah makan ayam lodho bersama keluarganya. Kunjungan saya ke tempatnya sekaligus menjawab permintaannya dulu agar saya merasakan kuliner di rumah makannya. Ah, ternyata sangat menyenangkan.

Baca juga:  Catatan Umroh: Sebagian Bukti Terkabulnya Doa Nabi Ibrohim AS

Coba bayangkan seandainya saya menuruti kata orang-orang itu yang mempengaruhi agar saya hanya duduk diam di rumah saja. Bukankah semua itu bisa dilihat dengan teknologi Internet? Cukup melihat mereka melalui foto yang dikirimkan melalui Whatsapp dan video mereka saja, tak perlu kemana-mana. Begitukah?

Subhanallah. Walhamdulillah. Sungguh, nikmat Tuhanmu manakah yang kalian dustakan?

Semoga Allah paring manfaat dan barokah. Aamiin.

 


Baca juga:

Kamis, 25 Juli 2013 : 14:35 Wita
Catatan Umroh: Ayo Tertiblah, Jangan Egois!
Catatan Umroh: Ayo Tertiblah, Jangan Egois!
Minggu, 1 Januari 2017 : 00:51 Wita
Liburan, Cukup di Rumah Saja
Liburan, Cukup di Rumah Saja
Minggu, 2 Juli 2017 : 23:50 Wita
Hikmah Mudik: Ojo Clometan!
Hikmah Mudik: Ojo Clometan!
Rabu, 6 Maret 2019 : 14:04 Wita
Sunmori Tahu Sumedang, Apaan Tuh?
Sunmori Tahu Sumedang, Apaan Tuh?
Sabtu, 9 Juli 2016 : 07:23 Wita
Pengalaman Naik Taksi Uber di Surabaya
Pengalaman Naik Taksi Uber di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *